ItWorks
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
ItWorks
No Result
View All Result

Studi Cisco: Hanya 12% Organisasi di Indonesia yang Siap Terhadap Ancaman Siber Modern

Fauzi
28 March 2024 | 18:00
rubrik: Research
Cisco Tata Ulang Keamanan Pusat Data dan Cloud di Era AI
Share on FacebookShare on Twitter

Pada acara bertajuk Cisco Cybersecurity Readiness Index APJ Roundtable yang digelar secara virtual, Cisco menyoroti lanskap kesiapan keamanan siber yang terus berkembang di antara perusahaan-perusahaan global.

Di Indonesia, misalnya, dalam laporan itu disebutkan hanya 12% dari organisasi di Tanah Air memiliki tingkat kesiapan ‘Mature’ yang diperlukan untuk memiliki ketahanan terhadap risiko keamanan siber modern. Demikian menurut Cybersecurity Readiness Index 2024 dari Cisco (NASDAQ: CSCO).

Cybersecurity Readiness Index 2024 dari Cisco dikembangkan dalam era yang ditandai oleh hiperkoneksi dan lanskap ancaman yang terus berkembang dengan cepat. Saat ini, perusahaan-perusahaan terus menjadi target dengan berbagai teknik yang meliputi serangan phishing, ransomware, serangan rantai pasokan, dan rekayasa sosial. Meskipun mereka membangun pertahanan terhadap serangan-serangan ini, mereka masih kesulitan dalam melindungi diri dari serangan-serangan tersebut, terhambat oleh postur keamanan mereka yang terlalu kompleks yang didominasi oleh berbagai solusi titik.

Tantangan-tantangan ini semakin kompleks dalam lingkungan kerja yang terdistribusi saat ini, di mana data dapat tersebar di berbagai layanan, perangkat, aplikasi, dan pengguna yang tak terbatas. Namun, 93% perusahaan masih merasa cukup atau sangat percaya diri dalam kemampuan mereka untuk mempertahankan diri dari serangan siber dengan infrastruktur yang saat ini mereka miliki – kesenjangan antara keyakinan dan kesiapan ini menunjukkan bahwa perusahaan mungkin memiliki keyakinan yang salah dalam kemampuan mereka untuk menghadapi lanskap ancaman dan mungkin tidak secara tepat mengevaluasi sejauh mana tantangan yang sebenarnya mereka hadapi.

Cybersecurity Readiness Index 2024 dari Cisco: Perusahaan-Perusahaan yang Kurang Siap dan Terlalu Percaya Diri Menghadapi Lanskap Ancaman yang Terus Berkembang

Indeks ini menilai kesiapan perusahaan berdasarkan lima pilar utama: Kecerdasan Identitas (Identity Intelligence), Ketahanan Jaringan (Network Resilience), Kepercayaan Mesin (Machine Trustworthiness), Penguatan Cloud (Cloud Reinforcement), dan Penguatan Kecerdasan Buatan (AI Fortification), yang terdiri dari 31 solusi dan kemampuan yang sesuai. Indeks ini didasarkan pada survei ganda buta yang melibatkan lebih dari 8.000 pemimpin keamanan dan bisnis sektor swasta di 30 pasar global yang dilakukan oleh pihak ketiga independen. Responden diminta untuk menunjukkan solusi dan kemampuan mana yang telah mereka implementasikan dan tahap implementasinya. Perusahaan kemudian diklasifikasikan ke dalam empat tahap kesiapan yang meningkat: Pemula (Beginner), Formatif (Formative), Progresif (Progressive), dan Matang (Mature).

BACA JUGA:  Cisco Tata Ulang Keamanan Pusat Data dan Cloud di Era AI

“Kita tidak boleh meremehkan ancaman yang ditimbulkan oleh rasa percaya diri yang berlebihan,” kata Jeetu Patel, Executive Vice President dan General Manager Security and Collaboration di Cisco.

“Organisasi saat ini perlu memprioritaskan investasi dalam platform terintegrasi dan mengadopsi kecerdasan buatan (AI) agar dapat beroperasi dalam skala mesin dan akhirnya mengubah keadaan menjadi menguntungkan bagi para pembela,” sambungnya.

Temuan

Secara keseluruhan, penelitian ini menemukan bahwa hanya 12% perusahaan di Indonesia siap menghadapi ancaman saat ini, dengan lebih dari setengahnya (53%) organisasi berada dalam tahap Pemula atau Formatif dalam kesiapan. Secara global, hanya 3% perusahaan yang berada pada tahap Matang. Selanjutnya:

• Bakal Terjadi Insiden Siber: 96% dari responden mengatakan mereka merasa akan terjadi insiden keamanan siber yang mengganggu bisnis dalam 12 hingga 24 bulan mendatang. Biaya ketidaksiapan dapat menjadi hal yang substansial, karena 63% dari responden mengatakan mereka mengalami insiden keamanan siber dalam 12 bulan terakhir, dan 66% dari mereka yang terkena dampak mengatakan bahwa insiden tersebut menelan biaya setidaknya US$300.000 (sekitar IDR 4,7 miliar).

• Penumpukan Solusi Titik (Point Solution Overload): Pendekatan tradisional dengan mengadopsi banyak solusi keamanan siber titik tidak memberikan hasil yang efektif, karena 91% responden mengakui bahwa memiliki banyak solusi titik melambatkan kemampuan tim mereka dalam mendeteksi, merespons, dan memulihkan diri dari insiden. Hal ini menimbulkan kekhawatiran besar karena 76% organisasi mengatakan bahwa mereka telah mengimplementasikan sepuluh atau lebih solusi titik dalam tumpukan keamanan mereka, sementara 33% mengatakan bahwa mereka memiliki 30 atau lebih solusi titik.

• Perangkat Tak Aman dan Tak Dikelola Menambah Kompleksitas: 93% perusahaan mengatakan karyawan mereka mengakses platform perusahaan dari perangkat yang tidak dikelola, dan 47% dari mereka menghabiskan satu perlima (20%) waktu mereka terhubung ke jaringan perusahaan dari perangkat yang tidak dikelola. Selain itu, 38% melaporkan bahwa karyawan mereka berpindah antara setidaknya enam jaringan dalam seminggu.

BACA JUGA:  Cisco Kenalkan Access Point Wi-Fi 7, Konektivitas Cerdas-Aman dan Terjamin

• Masih Kekurangan Talenta Keamanan Siber: Kemajuan semakin terhambat oleh kekurangan talenta yang kritis, dengan 97% perusahaan menyoroti masalah ini. Bahkan, 59% perusahaan mengatakan bahwa mereka memiliki lebih dari sepuluh posisi terkait keamanan siber yang belum terisi dalam organisasi mereka pada saat survei dilakukan.

• Meningkatnya Investasi Keamanan Siber: Perusahaan menyadari tantangan tersebut dan meningkatkan pertahanan mereka, dengan 84% berencana untuk melakukan peningkatan signifikan terhadap infrastruktur IT mereka dalam 12 hingga 24 bulan mendatang. Ini merupakan peningkatan yang signifikan dibandingkan hanya 41% yang berencana melakukannya tahun lalu. Terutama, organisasi berencana untuk meningkatkan solusi yang sudah ada (85%), menerapkan solusi baru (49%), dan berinvestasi dalam teknologi berbasis AI (74%). Selain itu, semua perusahaan yang disurvei di Indonesia berencana untuk meningkatkan anggaran keamanan siber mereka dalam 12 bulan mendatang, dan 95% responden mengatakan anggaran mereka akan meningkat sebesar 10% atau lebih.

Untuk mengatasi tantangan lanskap ancaman saat ini, perusahaan harus mempercepat investasi yang signifikan dalam keamanan, termasuk adopsi langkah-langkah keamanan inovatif dan pendekatan platform keamanan, memperkuat ketahanan jaringan mereka, menerapkan penggunaan yang bermakna dari kecerdasan buatan generatif, dan meningkatkan perekrutan untuk mengatasi kekurangan keterampilan keamanan siber.

“Threat landscape saat ini lebih rumit daripada sebelumnya, dan organisasi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, terus tertinggal dalam ketahanan siber mereka. Perusahaan perlu mengadopsi pendekatan platform yang akan memberikan tampilan yang sederhana, aman, dan terpusat dari seluruh arsitektur mereka untuk memperkuat posisi keamanan mereka dan mengambil keuntungan terbaik dari peluang yang ditawarkan oleh teknologi yang sedang berkembang,” ujar Marina Kacaribu, Managing Director, Cisco Indonesia.

Tags: Cisco
Previous Post

Tampil Lebih Modern, realme Akan Buka realme Experience Store 3.5 Pertama di Indonesia

Next Post

MAPI Meraih Hasil Solid untuk Tahun 2023

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP DIGITAL AWARDS

hanwha-life-top-digital-awards-2025-level-stars-5

Hanwha Life Raih TOP Digital Awards 2025 Level Stars 5

Teguh Imam Suyudi
23 December 2025 | 16:00

Rumah Pendidikan Kemendikdasmen TOP Digital Awards 2025

Rumah Pendidikan Kemendikdasmen Raih Penghargaan Bergengsi TOP Digital Awards 2025

Teguh Imam Suyudi
7 December 2025 | 09:00

Moratelindo TOP Digital Awards

Moratelindo Perkuat Kepemimpinan Transformasi Digital Lewat Dua Penghargaan Nasional TOP Digital Awards 2025

Teguh Imam Suyudi
6 December 2025 | 09:00

Ilham Habibie: Digital adalah Instrumen Strategis Daya Saing Global, Kedaulatan, dan Ketahanan Ekonomi Bangsa

Ilham Habibie: Digital adalah Instrumen Strategis Daya Saing Global, Kedaulatan, dan Ketahanan Ekonomi Bangsa

Fauzi
5 December 2025 | 13:58

PT Pertamina International Shipping (PIS) Raih Penghargaan TOP Digital Awards 2025 Bintang 5

PT Pertamina International Shipping (PIS) Raih Penghargaan TOP Digital Awards 2025 Bintang 5

Ahmad Churi
5 December 2025 | 11:14

Load More

TERPOPULER

  • Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukit Asam Hadirkan Aplikasi CISEA untuk Industri Tambang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Telkomsel Berikan Tips Cegah Penipuan Call Forward

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Infinix GT 30 Resmi Meluncur di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • UOB-RuangGuru Umumkan Pemenang UOB My Digital Space – CodeFest 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
iklan bni
cover it works
cover it works

ICT PROFILE

Google Cloud Tunjuk Karim Siregar Jadi Country Director untuk Indonesia

Google Cloud Tunjuk Karim Siregar Jadi Country Director untuk Indonesia

Fauzi
23 June 2026 | 14:43

Google Cloud menunjuk Karim Siregar sebagai Country Director untuk Indonesia. Karim akan memimpin operasional dan strategi pasar Google Cloud di...

Transformasi Digital Kian Gencar, Akamai Luncurkan Akamai Connected Cloud dan Layanan Baru

Tunjuk Fiona Zhang, Akamai Perkuat Strategi Channel-First Kawasan APJ

Fauzi
8 April 2026 | 16:26

Akamai menunjuk Fiona Zhang sebagai Wakil Presiden Regional Bidang Penjualan dan Program Saluran untuk kawasan Asia-Pasifik dan Jepang. Penunjukan Fiona...

EXPERT

Dari Sekedar Token Menuju Kepercayaan: Momen Pembuktian AI Senilai US$2,5 Triliun

Fauzi
18 June 2026 | 12:58

Oleh: Abhas Ricky, Chief Business Officer and GM of Applied AI Era kecepatan dan akses sedang berakhir. Apa yang menggantikan...

Red Hat Berambisi Capai Target Net Zero Emisi Gas Rumah Kaca di 2030

Titik Infleksi AI Selanjutnya: Mengubah Agen AI Menjadi ‘Superusers’ di Enterprise

Fauzi
21 May 2026 | 14:39

Oleh: Matt Hicks, President and CEO, Red Hat Jika Anda menyaksikan keynote di hari pertama Red Hat Summit 2026, Anda...

TIK TALKS

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

redaksi
16 August 2022 | 15:30

Di masa akan datang banyak aplikasi yang akan membutuhkan low latency connectivity. Lalu apa kaitannya dengan Edge DC yang hadir...

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

redaksi
15 August 2022 | 12:30

Bagaimana cara mengolah Big Data sehingga dapat divisualisasikan, serta bagaimana dapat melakukan analitik dan dapat memprediksikan apa yang harus dilakukan...

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Itworks - Inspire Great & Telco for Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto