ItWorks.id- Hasil survei global “2026 IT Virtualization Survey – What’s Next for VMware Users” yang dilakukan Unisphere Research atas nama Rimini Street terhadap 269 eksekutif, manajer, dan profesional pengguna VMware, mengungkap adanya pergeseran strategi penggunaan IT dan tren mencari alternatif serta dukungan pihak ketiga. Mereka di antaranya mulai mengubah strategi virtualisasi dalam penggunaan teknologi informasinya.
Survei yang dilakukan Rimini Street dan DBTA/Unisphere Research menemukan 66% bisnis telah menggunakan atau sedang mempertimbangkan dukungan pihak ketiga. Disebutkan, tingginya biaya lisensi, kebutuhan fleksibilitas, serta kekhawatiran keamanan mendorong perusahaan mempertimbangkan alternatif di luar ekosistem VMware. “Organisasi menginginkan lebih banyak pilihan, fleksibilitas, dan kendali atas strategi virtualisasi TI mereka,” ujar Keith Costello, EVP and chief operating officer, Rimini Street dalam keterangan yang dirilis, baru-baru ini.
Rimini Street, Inc. (Nasdaq: RMNI), merupakan perusahaan yang terdaftar dalam indeks Russell 2000®, sebagai penyedia global yang telah teruji dan tepercaya untuk layanan dukungan perangkat lunak perusahaan yang kritis bagi operasional (end-to-end), layanan terkelola, serta solusi ERP berbasis kecerdasan buatan (AI) Agentic yang inovatif. Sekaligus menjadi penyedia dukungan pihak ketiga untuk perangkat lunak dari Oracle, SAP, dan VMware. Perusahaan ini telah menandatangani ribuan kontrak layanan TI dengan perusahaan-perusahaan Fortune Global 100, Fortune 500, perusahaan menengah, sektor publik, dan organisasi pemerintah yang telah memanfaatkan metodologi Rimini Smart Path™ untuk mencapai hasil operasional yang lebih baik, penghematan miliaran dolar AS, serta mendanai AI dan inovasi lainnya.
Biaya Tetap Menjadi Faktor Utama
Secara rinci disebutkan, bahwa temuan utama: 90% responden mengatakan mereka mempertimbangkan pilihan alternatif VMware karena biaya lisensi yang lebih tinggi, sementara 54% menyebut berakhirnya dukungan lisensi perpetual sebagai alasan lain untuk mengevaluasi opsi alternatif.
Hasil survei ini menunjukkan biaya tetap menjadi faktor utama bisnis dalam menentukan arah strategi virtualisasi TI, dengan hampir tiga perempat responden (73%) menyebut penghematan biaya sebagai prioritas utama. Pada saat yang sama, organisasi melaporkan berbagai hambatan yang signifikan dalam mencapai kemajuan yang mencakup kompleksitas operasional (40%), tantangan dalam mengelola berbagai vendor (38%), mengamankan permukaan serangan yang semakin luas (37%), serta kebutuhan akan keterampilan tim (37%).
Temuan survei ini menunjukkan bahwa meskipun organisasi secara aktif melakukan perubahan, mereka juga perlu mencari cara mengurangi risiko dan menghindari gangguan yang tidak diperlukan.
Pimpinan TI Pilih Strategi Multi-Hypervisor dan Hibrida
Temuan utama: sebanyak 60% responden mempertimbangkan strategi multi-hypervisor, yang mencerminkan meningkatnya minat terhadap lingkungan TI campuran yang lebih fleksibel dan mampu mendukung tujuan operasional dan keuangan. Selanjutnya, 47% memilih strategi virtualisasi TI hibrida yang terdiri dari hypervisor dan container demi manfaat terbaik dari keduanya dalam penempatan beban kerja.
Temuan survei ini juga menunjukkan semakin banyak organisasi yang mempertimbangkan berbagai pilihan di luar VMware Cloud Foundation (VCF). Hampir setengah responden (48%) mengatakan saat ini mereka tidak berencana memindahkan aset mereka ke VCF. Temuan ini menunjukkan bahwa banyak perusahaan mengambil pendekatan lebih terukur dengan memprioritaskan strategi yang sesuai dengan kebutuhan bisnis, investasi yang sudah ada, dan model operasional mereka.
Tren ini menunjukkan semakin beragamnya strategi virtualisasi TI perusahaan dengan peralihan jangka panjang menuju lingkungan virtualisasi yang lebih disesuaikan dan menggunakan berbagai platform. Seiring organisasi mengevaluasi kembali langkah mereka menuju modernisasi, mereka semakin mengadopsi pendekatan yang menggabungkan infrastruktur on-premises, private cloud, public cloud, dan hypervisor alternatif untuk mendukung fleksibilitas beban kerja, efisiensi operasional, dan pengendalian biaya yang lebih baik.
Mayoritas Pelanggan VMware Pertimbangkan Dukungan Pihak
Temuan utama: 66% responden saat ini menggunakan atau sedang mempertimbangkan dukungan pihak ketiga. Beberapa alasan utama yang disebutkan ialah keamanan (60%), dukungan instalasi dan implementasi (57%), dan kekhawatiran terkait layanan dan dukungan (54%).
Para pemimpin keamanan TI mengaku kewalahan menghadapi “vulnerability treadmill” atau siklus kerentanan TI yang terus berulang. Dalam lingkungan TI yang tervitualisasi, satu mesin virtual yang berhasil disusupi dapat mengekspos ratusan mesin virtual lainnya, sehingga meningkatkan risiko gangguan layanan dan potensi kebocoran data. Hal ini kemudian menjadikan hypervisor sebagai target bernilai tinggi bagi serangan ransomware dan advanced persistent threats.
Seiring pelanggan VMware mengevaluasi kembali strategi virtualisasi mereka, banyak yang mulai mempertimbangkan dukungan pihak ketiga untuk memperkuat cakupan layanan, menjaga kelangsungan operasional, dan memperpanjang nilai investasi yang sudah ada. Temuan ini menunjukkan bahwa organisasi menginginkan kendali yang lebih besar atas cara mereka mengamankan, mendukung, dan mengembangkan lingkungan TI mereka.
Lebih lanjut, 77% pemimpin keamanan virtualisasi TI menilai solusi keamanan yang menyediakan visibilitas ancaman secara real-time dan perlindungan proaktif terhadap kerentanan akan memberikan manfaat, alih-alih hanya mengandalkan program patching dari Broadcom. Secara keseluruhan, survei ini menunjukkan meningkatnya kebutuhan akan strategi virtualisasi yang lebih tangguh dengan pendekatan keamanan yang terintegrasi sejak awal.
“Perubahan arah yang terjadi di kalangan pengguna VMware saat ini bukan sekadar tentang mengganti satu vendor dengan vendor lainnya. Hal ini mencerminkan upaya yang lebih luas dari perusahaan untuk mengurangi ketergantungan pada satu penyedia, menjaga keberlangsungan sistem yang sangat penting bagi operasional, dan melakukan modernisasi sesuai dengan kebutuhan bisnis mereka,” kata Joe McKendrick, lead analyst, Unisphere Research.
Bagi banyak bisnis, lanjutnya, hal ini berarti menyeimbangkan dukungan untuk lingkungan yang sudah ada dengan investasi baru yang dirancang untuk meningkatkan ketahanan, keamanan, dan skalabilitas dari waktu ke waktu.” Akses laporan lengkap 2026 IT Virtualization Survey – What’s Next for VMware Users yang dapat diunduh di tautan tersebut.














