ItWorks.id-Kaspersky mengungkap kampanye spionase siber terbaru yang dikaitkan dengan kelompok peretas Advanced Persistent Threat (APT) Lazarus. Dijuluki Operasi FlashHole, serangan ini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), teknik spear-phishing, serta teknologi enkripsi pasca-kuantum untuk menyusup ke sistem dan mencuri informasi dari organisasi yang menjadi target.
Tim Riset dan Analisis Global Kaspersky (GReAT) menemukan kampanye tersebut aktif setidaknya sejak Juli 2025 dan telah berdampak pada sedikitnya tiga organisasi di Korea Selatan yang bergerak di sektor konstruksi, perangkat lunak, dan manufaktur peralatan komunikasi kabel.
Dalam aksinya, Lazarus menggunakan email yang ditargetkan secara khusus, situs portofolio dan CV palsu, serta menyalahgunakan perangkat lunak CrossWeb EX yang banyak digunakan di Korea Selatan. Peneliti menduga AI dimanfaatkan untuk membuat situs palsu yang lebih meyakinkan dan disesuaikan dengan profil calon korban.
Kaspersky juga mengidentifikasi malware baru bernama TouchHub dan ClientHub, serta pembaruan alat serangan LPEClient. Perangkat tersebut memungkinkan penyerang menjalankan perintah pada komputer korban, mengumpulkan informasi sistem, dan mengunduh malware tambahan untuk mendukung aktivitas spionase.
Yang menjadi perhatian, LPEClient versi terbaru telah menggunakan ML-KEM-1024, mekanisme kriptografi pasca-kuantum yang dirancang untuk menghadapi potensi ancaman komputer kuantum di masa depan. Teknologi ini digunakan untuk membangun komunikasi terenkripsi dengan server penyerang sebelum malware tambahan diunduh dan dijalankan langsung di memori.
Menurut Kaspersky, temuan tersebut menunjukkan peningkatan kemampuan Lazarus dalam mengembangkan perangkat serangan sekaligus menyamarkan aktivitasnya agar lebih sulit dideteksi oleh sistem keamanan.“Lazarus terus memperluas operasinya dengan meluncurkan kampanye baru, memperkenalkan alat baru, dan memodifikasi perangkat yang sudah ada. Analisis kami menunjukkan kelompok ini juga mulai memasukkan AI ke dalam strategi lamanya,” kata Sojun Ryu, peneliti keamanan senior Kaspersky GReAT dalam rilis pers yang dilansir, baru-baru ini.
Ia menambahkan, penggunaan kriptografi yang dirancang untuk menghadapi ancaman kuantum patut mendapat perhatian. Investigasi Kaspersky menunjukkan kemampuan tersebut telah digunakan oleh kelompok ini setidaknya sejak September 2024.
Untuk mengantisipasi serangan serupa, Kaspersky mengimbau organisasi meningkatkan kewaspadaan terhadap email dan tautan mencurigakan, memperbarui perangkat lunak serta menerapkan patch keamanan secara berkala. Perusahaan juga perlu membatasi hak akses pengguna dan memantau koneksi ke layanan cloud yang berpotensi disalahgunakan penyerang.Laporan lengkap mengenai Operasi FlashHole dapat diakses melalui Securelist di https://securelist.com/lazarus-operation-flashhole/121541/.














