Red Hat Indonesia memperkenalkan pendekatan baru bertajuk “Any model. Any accelerator. Any cloud”. Konsep ini pertama kali diumumkan secara global pada Red Hat Summit 2025 di Boston, menggantikan slogan sebelumnya “Any workload. Any app. Anywhere”. Dengan slogan baru, Red Hat kini menekankan fleksibilitas penuh bagi perusahaan dalam memilih model AI, akselerator hardware, dan cloud platform sesuai kebutuhan masing-masing.
“Model terbuka dan platform terbuka adalah kunci untuk memberikan kebebasan dan fleksibilitas bagi organisasi, terutama dalam mengadopsi AI dengan aman dan dalam skala besar,” ujar Vony Tjiu, Country Manager, Red Hat Indonesia di acara Media Briefing, hari ini (30/7/2025).
Red Hat melihat transformasi digital Indonesia, yang kini semakin didorong oleh AI dan cloud, bukan lagi sebagai pilihan tambahan melainkan kebutuhan strategis. Red Hat berperan aktif dalam pengembangan talenta digital melalui Red Hat Academy, yang telah melatih lebih dari 26.000 siswa di Asia Pasifik, termasuk 7.500 siswa di Indonesia hingga 2025.
“Kami percaya bahwa masa depan teknologi tidak hanya dibangun dengan perangkat, tetapi juga dengan kemampuan sumber daya manusianya,” tambah Vony.
Di acara Media Briefing ini, Red Hat juga mengungkap bahwa pihaknya memperluas portofolionya melalui solusi seperti Red Hat AI Inference Server, yang mendukung berbagai model generatif dan akselerator di lingkungan hybrid cloud. Selain itu, distribusi vLLM Enterprise memungkinkan performa AI yang tinggi dan efisien untuk skenario produksi.
Dua pilar utama lainnya, Red Hat Enterprise Linux AI dan Red Hat OpenShift AI, dirancang untuk mendukung tuning model AI, inferensi, serta integrasi MLOps dalam lingkungan berbasis Kubernetes. Red Hat juga terus memperkuat dukungannya terhadap berbagai akselerator hardware, vendor OEM, dan penyedia cloud global.
Adapun salah satu sorotan penting lainnya adalah peluncuran Red Hat Enterprise Linux 10 (RHEL 10), yang menggabungkan container, AI, dan keamanan generasi baru dalam satu platform. Sistem operasi ini dihadirkan untuk menjawab tantangan seperti efisiensi sumber daya, adopsi cloud yang cepat, serta ancaman keamanan termasuk potensi risiko dari komputasi kuantum.
Sementara menanggapi pergeseran pasar dari platform virtualisasi lama, Red Hat juga mendorong adopsi OpenShift Virtualization, yang dibangun berdasarkan umpan balik dari pelanggan di berbagai sektor. Solusi ini memungkinkan konsolidasi beban kerja dalam satu platform modern dan terstandarisasi.
Dengan mengusung pendekatan open hybrid cloud dan open source, Red Hat menegaskan perannya sebagai fondasi teknologi untuk masa depan AI, komputasi kuantum, dan transformasi digital yang inklusif.
“Kami hadir untuk membantu organisasi di Indonesia dan Asia Pasifik menghadapi masa depan yang semakin kompleks, tetapi penuh potensi. Dengan open source, semua pihak bisa berinovasi tanpa batas,” tandas Vony.














