Pemerataan akses internet di wilayah 3T memasuki babak baru. Pemerintah kini tidak hanya mengejar tersedianya konektivitas, tetapi juga memastikan masyarakat di daerah nonkomersial dapat menikmati kualitas layanan yang semakin andal seiring masuknya teknologi seperti 5G.
Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi Kementerian Komunikasi dan Digital (BAKTI Komdigi) Fadhilah Mathar menegaskan pemerataan transformasi digital tidak cukup hanya menghadirkan akses internet di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Ke depan, pemerintah juga berkomitmen meningkatkan kualitas layanan agar masyarakat di daerah 3T memperoleh konektivitas yang semakin andal seiring perkembangan teknologi digital nasional.
Fadhilah menyampaikan komitmen pemerintah terus membangun fondasi infrastruktur digital di wilayah nonkomersial melalui berbagai teknologi mulai dari fiber optik, microwave, hingga satelit.
Langkah tersebut dilakukan agar masyarakat di seluruh Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk memanfaatkan layanan digital.
“Begitu semakin baik jaringan di suatu tempat dengan menggunakan fiber optik, apalagi kita akan masuk ke 5G, kita pasti harus mulai juga memperhatikan kualitas layanan di daerah 3T. Jangan sampai yang menikmati kualitas layanan itu hanya di wilayah-wilayah urban,” tegasnya usai sesi diskusi Digital Transformation Indonesia Conference & Expo (DTI-CX) 2026 di Jakarta Pusat, Rabu (05/08/2026), seperti dilansir komdigi.go.id.
Menurutnya, pembangunan konektivitas di wilayah 3T harus mengikuti kebutuhan masyarakat.
Pada tahap awal, pemerintah memastikan masyarakat memperoleh akses internet yang mampu mendorong inklusi sosial dan inklusi finansial.
“Karena seiring meningkatnya aktivitas ekonomi dan layanan digital, kualitas jaringan juga harus terus ditingkatkan agar tidak terjadi kesenjangan digital antara daerah perkotaan dan wilayah nonkomersial.
Fadhilah menjelaskan bahwa fiber optik tetap menjadi tulang punggung infrastruktur telekomunikasi nasional karena mampu menghadirkan kapasitas dan kualitas layanan terbaik.
Sementara itu, pemanfaatan satelit dan teknologi lainnya menjadi solusi untuk menjangkau wilayah yang secara geografis belum memungkinkan dibangun jaringan terestrial.
“Kalau sekarang selain fiber optik kita memiliki beberapa solusi lain apabila jaringan terestrial tidak memungkinkan. Misalnya fiber optik maupun microwave belum bisa dibangun, maka konektivitas disediakan melalui satelit. Namun satelit merupakan solusi sementara karena kualitas terbaik tetap diperoleh melalui fiberisasi,” ungkapnya.
Ia menambahkan pembangunan infrastruktur digital pemerintah tidak berhenti pada penyediaan akses masyarakat.
Infrastruktur dasar seperti backbone fiber optik yang dibangun melalui Palapa Ring juga telah menjadi fondasi bagi pengembangan jaringan telekomunikasi oleh operator dan sektor industri di wilayah nonkomersial.
“Sebagai contoh, kehadiran jaringan fiber optik Palapa Ring di Papua memungkinkan operator membangun jaringan lanjutan hingga dimanfaatkan oleh sektor industri untuk menghadirkan konektivitas berkapasitas tinggi. Kolaborasi inilah yang menunjukkan bahwa investasi pemerintah mampu menciptakan manfaat yang lebih luas bagi pertumbuhan ekonomi daerah,” tandasnya.














