ItWorks.id – Pertumbuhan penggunaan layanan digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mendorong kebutuhan terhadap jaringan internet yang semakin cepat, stabil, dan andal. Di tengah perubahan tersebut, PT DE-CIX Indonesia memperkuat inovasi layanan interkoneksi untuk mempercepat pertukaran data sekaligus meningkatkan kualitas konektivitas digital di Indonesia.
Direktur DE-CIX Indonesia Thomas Dragono menjelaskan, perusahaan hadir untuk memperkuat ekosistem internet melalui platform Internet Exchange (IX), yang memungkinkan berbagai jaringan saling terhubung dan bertukar trafik data secara lebih efisien.
DE-CIX Indonesia mulai beroperasi pada Juli 2024. Dalam waktu sekitar dua tahun, perusahaan mencatat pertumbuhan trafik dan perluasan jaringan yang signifikan. Perusahaan juga mengembangkan layanan Cloud Exchange dan menyiapkan infrastruktur untuk mendukung kebutuhan konektivitas berbasis AI.
“Visi dan misi perusahaan ini dari awal kami canangkan adalah sebagai perusahaan interkoneksi untuk memperbaiki kualitas internet Indonesia,” ujar Thomas dalam presentasi penjurian TOP Digital Awards 2026 yang digelar secara daring, Selasa (13/10/2026). Hadir mendampingi Thomas yakni Marketing Communication DE-CIX Indonesia, Khansa Andhira Ferry.
Menurutnya, DE-CIX Indonesia berperan sebagai agregator interkoneksi yang mempertemukan jaringan penyedia layanan internet dengan berbagai penyedia konten dan layanan digital. Dengan mekanisme tersebut, pertukaran data dapat berlangsung lebih efisien tanpa harus selalu melewati jalur koneksi yang jauh.
Thomas menegaskan, netralitas menjadi prinsip penting dalam pengembangan layanan. Platform interkoneksi harus dapat mengakomodasi beragam penyedia jaringan, pusat data, dan konten tanpa memihak pada satu penyedia tertentu.
Selain netralitas, perusahaan menekankan keandalan, keterbukaan, inovasi, keamanan, efisiensi, dan edukasi sebagai nilai yang mendasari operasionalnya.
Trafik dan Kapasitas Terus Bertumbuh
Pertumbuhan bisnis DE-CIX Indonesia tercermin dari peningkatan trafik dan perluasan jaringan yang terhubung. Berdasarkan paparan perusahaan, trafik di Jakarta meningkat dari sekitar 20 Gbps pada Desember 2024 menjadi sekitar 280 Gbps pada Desember 2025. Pada 24 Juli 2026, trafik puncak Jakarta telah mencapai 362 Gbps.
Perusahaan menargetkan trafik dapat mencapai 400 Gbps pada akhir 2026. Pada saat yang sama, jumlah jaringan yang terhubung mencapai 180, dengan 176 peers dan 162 open peers. Total kapasitas port yang tersedia mencapai 3,3 Tbps.
Peningkatan kapasitas tersebut menjadi bagian dari upaya mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan internet dan memastikan pelanggan memiliki ruang untuk meningkatkan pemanfaatan jaringan.
Dalam layanan interkoneksi, kapasitas yang memadai diperlukan agar lonjakan trafik tidak berujung pada kepadatan jaringan yang mengganggu kualitas koneksi.
DE-CIX Indonesia juga mengembangkan konektivitas domestik dan regional ASEAN. Melalui interkoneksi regional, konten yang tersedia di luar negeri, termasuk di Singapura, dapat dijangkau melalui jalur yang lebih dekat dengan pengguna di Indonesia.
Pendekatan ini menjadi penting ketika aktivitas masyarakat dan perusahaan semakin bergantung pada aplikasi berbasis cloud, layanan kolaborasi digital, serta platform yang menyimpan dan memproses data melalui infrastruktur komputasi jarak jauh.
Otomasi Layanan dan Keamanan Jaringan
Untuk mendukung pertumbuhan tersebut, DE-CIX Indonesia memanfaatkan platform Apollon, teknologi interkoneksi yang dikembangkan secara internal oleh DE-CIX dan digunakan sebagai fondasi operasional jaringan.
Platform ini mendukung pertukaran trafik berkapasitas tinggi, pemantauan jaringan, serta pengelolaan layanan secara terstandar. Dalam implementasinya, perusahaan mengombinasikan otomasi dengan pemantauan trafik secara real time agar kondisi jaringan dapat diketahui dan kapasitas dapat direncanakan berdasarkan kebutuhan aktual.
Inovasi lain adalah DE-CIX Customer Portal, portal layanan mandiri berbasis web yang memungkinkan pelanggan mengelola sejumlah kebutuhan layanan tanpa selalu bergantung pada proses manual atau menunggu bantuan teknisi.
Melalui portal tersebut, pelanggan dapat mengakses informasi performa jaringan, memantau trafik, memperoleh laporan, serta mengelola layanan secara lebih cepat. Otomasi juga membantu proses penyesuaian atau penggantian perangkat jaringan berdasarkan identitas perangkat yang terdaftar.
“Dengan adanya sistem otomasi portal self-service ini, pelanggan dapat dengan mudah melakukan upgrade secara mandiri atau pergantian perangkat di masing-masing data center mereka tanpa harus menunggu ketersediaan tenaga kerja ataupun respons dari sisi DE-CIX,” kata Thomas.
Dari sisi keamanan, DE-CIX Indonesia menerapkan pendekatan security-by-design, yakni keamanan menjadi bagian dari rancangan dan pengoperasian infrastruktur, bukan sekadar tambahan setelah layanan berjalan.
Perlindungan jaringan mencakup firewall, mitigasi serangan Distributed Denial of Service (DDoS), serta fitur blackholing untuk memblokir trafik berbahaya sebelum mencapai jaringan pelanggan. Perusahaan juga memantau trafik secara berkala untuk mendeteksi anomali atau lonjakan yang tidak diinginkan.
Keandalan layanan didukung oleh perjanjian tingkat layanan atau service level agreement (SLA). Dalam presentasinya, perusahaan menyebut jaminan uptime sebesar 99,99%. Infrastruktur di beberapa lokasi juga dihubungkan melalui jaringan serat optik untuk mendukung redundansi apabila salah satu titik mengalami gangguan.
Menyiapkan Interkoneksi untuk AI
Salah satu fokus inovasi DE-CIX Indonesia adalah pengembangan konektivitas yang dapat mengakomodasi pertumbuhan aplikasi dan layanan berbasis AI. Perusahaan menilai peningkatan adopsi AI akan mendorong kebutuhan pertukaran data yang lebih besar, dengan tuntutan latensi rendah, keamanan, dan keandalan yang tinggi.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, DE-CIX mengembangkan AI Internet Exchange (AI-IX) dengan teknologi multi-AI routing. Solusi ini dirancang untuk mendukung interkoneksi layanan AI melalui jaringan global DE-CIX.
Dalam materi penjurian, perusahaan menyebut implementasi AI-IX dimulai pada 2025. Pada tahap awal, ekosistem tersebut telah mencakup lebih dari 50 jaringan terkait AI dan lebih dari 160 jaringan secara global. Fase pertama pengembangannya dinyatakan selesai pada Desember 2025.
Thomas menjelaskan, pengembangan interkoneksi untuk layanan AI menjadi salah satu cara perusahaan menjaga relevansi di tengah perubahan kebutuhan industri digital.
Melalui koneksi ke penyedia cloud, seperti Microsoft Azure dan Amazon Web Services (AWS), pengguna dapat mengakses layanan yang terhubung melalui titik interkoneksi yang lebih dekat, sesuai dengan ketersediaan dan konfigurasi jaringan. Pendekatan ini berpotensi mengurangi kebutuhan perjalanan data melalui jalur yang lebih jauh dan membantu meningkatkan efisiensi akses.
Menurut Thomas, perkembangan AI tidak hanya berkaitan dengan aplikasi yang digunakan konsumen, tetapi juga kebutuhan infrastruktur yang menopang layanan tersebut. Karena itu, kesiapan interkoneksi menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem digital yang mampu berkembang mengikuti kebutuhan pasar.
Edukasi Engineer dan Kolaborasi Industri
Di luar pembangunan infrastruktur, DE-CIX Indonesia turut mendorong peningkatan kompetensi teknis melalui DE-CIX Academy. Program ini menyediakan webinar dan tutorial tentang interkoneksi, Border Gateway Protocol (BGP), teknologi Internet Exchange, serta otomasi melalui API.
Program edukasi tersebut menyasar para engineer jaringan, termasuk tenaga operasional Network Operations Center (NOC) di penyedia layanan internet. Materinya diarahkan untuk membantu peserta memahami konfigurasi perangkat, teknologi interkoneksi, serta praktik terbaik dalam pengelolaan jaringan.
Thomas mengatakan, edukasi merupakan bagian dari upaya perusahaan memperkuat kemampuan teknis pelaku industri di Indonesia. Pengembangan jaringan tidak hanya membutuhkan infrastruktur, tetapi juga sumber daya manusia yang mampu mengelola dan mengoptimalkannya.
Perusahaan juga membangun kolaborasi dengan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pusat data, dan operator jaringan. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperluas konektivitas domestik serta meningkatkan efisiensi pertukaran data di berbagai wilayah.
Dengan menggabungkan platform interkoneksi, otomasi, keamanan jaringan, kesiapan AI, dan edukasi teknis, DE-CIX Indonesia berupaya membangun layanan yang dapat mengikuti pertumbuhan kebutuhan digital. Tantangannya ke depan adalah menjaga kualitas dan keandalan layanan seiring bertambahnya jaringan yang terhubung serta meningkatnya kebutuhan kapasitas dari pelanggan.
Bagi DE-CIX Indonesia, inovasi digital bukan semata menghadirkan teknologi baru, melainkan memastikan teknologi tersebut dapat memperkuat konektivitas, meningkatkan efisiensi, dan mendukung perkembangan ekosistem digital Indonesia secara berkelanjutan.














