ItWorks.id- Perubahan iklim, transisi energi, dan meningkatnya kebutuhan sumber daya menjadi tantangan keberlanjutan global yang memerlukan kerja sama lintas negara. Menjawab tantangan tersebut, kolaborasi internasional dan keterlibatan dunia usaha menjadi semakin penting untuk menjembatani komitmen global dengan implementasi di masing-masing negara.
Berdasarkan laporan Global Resources Outlook 2024 dari United Nations Environment Programme (UNEP), penggunaan sumber daya alam global telah meningkat tiga kali lipat dalam lima dekade terakhir dan diproyeksikan meningkat hingga 60% pada 2060 apabila tidak ada perubahan pola pemanfaatan sumber daya.
Di sisi lain, laporan Global Waste Management Outlook 2024 memperkirakan timbulan sampah perkotaan dunia meningkat dari 2,1 miliar ton pada 2023 menjadi 3,8 miliar ton pada 2050. Kondisi ini menegaskan bahwa komitmen ESG global perlu diterjemahkan menjadi kebijakan, investasi, inovasi, dan langkah nyata yang memberikan dampak terukur di tingkat nasional maupun lokal.
Di tingkat nasional, sekitar 75% sampah nasional atau setara 105.483 ton per hari belum tertangani secara memadai. Kondisi ini menunjukkan pentingnya memperkuat implementasi ESG melalui kebijakan, investasi, inovasi industri, serta kolaborasi lintas sektor untuk mendorong pemanfaatan sumber daya yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, kolaborasi internasional dan keterlibatan dunia usaha menjadi semakin penting. Terutama untuk menjembatani komitmen global dengan implementasi di masing-masing negara.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam diskusi panel bertajuk “Beyond Borders: From Global Commitment to Local Impact” pada ESG NOW Leadership Forum 2026 yang diberlangsung (19/10), di Jakarta. Forum ini menghadirkan perspektif dari sisi pemerintah serta pelaku industri.
Adapun yang menghadiri sesi diskusi panel tersebut: Eddy Soeparno, Wakil Ketua MPR RI, membahas kebijakan iklim nasional; Burak Gunes, Communication Counselor at the Turkish Embassy Indonesia untuk Indonesia, menjelaskan kerja sama iklim global dan COP31; Kwok Fook Seng, Duta Besar Singapura untuk Indonesia, mendiskusikan diplomasi iklim internasional; serta Peramas Wajananawat, Country Director SCG Indonesia, yang mewakili pelaku industri yang mengimplementasikan ESG dalam strategi bisnis dan dampaknya di tingkat nasional.
Komitmen SCG Indonsia
Sebagai salah satu perusahaan multinasional dengan komitmen menjadi mitra pembangunan nasional di Indonesia, dengan tujuan bisnis Inclusive Green Growth, SCG mengintegrasikan prinsip ESG ke dalam operasional perusahaan, termasuk pemanfaatan sumber daya secara efisien, pengelolaan sampah, pengembangan produk ramah lingkungan, dan kolaborasi lintas sektor. Atas kontribusinya dalam pengelolaan limbah berkelanjutan, SCG juga menerima penghargaan kategori Waste Management Innovation pada ESG NOW Awards 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian acara tersebut.
“Bagi SCG, komitmen keberlanjutan global harus diwujudkan melalui langkah nyata yang relevan dengan kebutuhan setiap negara. Selama beroperasi di Indonesia selama lebih dari 30 tahun, kami memiliki kesempatan untuk menghubungkan pengalaman, teknologi, dan inovasi dari berbagai pasar dengan tantangan yang dihadapi. Kami terus berupaya menciptakan pertumbuhan yang memperkuat daya saing perusahaan serta memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat. Kami melihat kolaborasi lintas negara sebagai kunci untuk menghadirkan solusi keberlanjutan yang berdampak dalam jangka panjang,” ujar Peramas Wajananawat, Country Director SCG Indonesia, dilansir dalam rilis pers, baru-baru ini.
SCG merjemahkan Komitmen ESG Global melalui Inovasi Industri di Indonesia.Salah satu implementasi ESG SCG di Indonesia diwujudkan melalui pengembangan fasilitas Refuse-Derived Fuel (RDF) di TPSA Cimenteng, Kabupaten Sukabumi, oleh anak perusahaannya, PT Semen Jawa, bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sukabumi.
Fasilitas ini mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif yang dapat dimanfaatkan dalam proses produksi semen, sehingga menghubungkan kebutuhan pengelolaan sampah daerah dengan kebutuhan energi industri. Hingga saat ini, fasilitas tersebut telah mengolah lebih dari 91.000 ton sampah sejak beroperasi pada 2025.
Selain RDF, PT Semen Jawa juga menerapkan pemanfaatan Alternative Fuel and Alternative Raw Materials (AF/AR) untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar dan bahan baku konvensional. Penerapan ini telah mencapai 35% substitusi energi panas dari bahan bakar alternatif dan 9,4% penggunaan bahan baku alternatif berdasarkan berat, yang berkontribusi terhadap pengurangan emisi sekitar 50 kg CO₂ per ton semen. Ke depan, PT Semen Jawa menargetkan peningkatan substitusi bahan bakar alternatif hingga 70% pada 2030.
Dalam menjawab kebutuhan pasar terhadap material konstruksi yang lebih ramah lingkungan, SCG mengembangkan SCG Cement Bezt Eco-Friendly Cement yang telah memperoleh sertifikasi Green Label Gold dari Green Product Council Indonesia (GPCI). Melalui anak perusahaannya di bidang produsen keramik dinding dan keramik lantai, KIA Ceramics, SCG menerapkan pemanfaatan kembali sisa produksi keramik dengan tingkat penggunaan ulang 80–90% limbah internal serta penggantian 10–15% mineral mentah menggunakan material daur ulang. Berbagai inovasi tersebut mencerminkan upaya perusahaan dalam mengintegrasikan manfaat lingkungan dengan kualitas dan performa produk yang dibutuhkan konsumen.
SCG berupaya untuk menerapkan nilai ESG dengan melibatkan kerjasama lintas sektor yang inklusif dalam aktivitas perusahaan di tingkat nasional.Maka dari itu, perusahaan mendorong pendekatan Public-Private-People Partnership (PPPP) yang melibatkan pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat. Salah satunya contoh wujud nyata dari inisiatif tersebut adalah program SCG Mentari (Menjaga Lingkungan Tetap Lestari) di Kabupaten Sukabumi, yang mendorong pemilahan sampah dari rumah guna mendukung pemulihan dan pemanfaatan sumber daya. Melalui program ini, SCG berhasil memberdayakan 1,600 masyarakat untuk bersama melestarikan lingkungan. Hingga saat ini, program SCG Mentari berhasil mengumpulkan lebih dari 54.000 kg sampah masyarakat. Sampah yang terkumpul kemudian dikirimkan ke PT Semen Jawa untuk dijadikan bahan bakar alternatif.
Di tingkat regional, SCG juga memperkuat pertukaran pengetahuan dan kolaborasi melalui ASEAN ESG Symposium 2026, yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, serta organisasi internasional, termasuk World Business Council for Sustainable Development (WBCSD). Melalui kolaborasi ini, SCG berupaya mendorong pengembangan solusi keberlanjutan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik setiap negara, sekaligus memperkuat penerapan ekonomi sirkular sebagai bagian dari strategi pertumbuhan bisnis jangka panjang.
Atas inovasi dan komitmennya dalam mengembangkan pengelolaan limbah berkelanjutan, SCG dianugerahkan penghargaan kategori Waste Management Innovation pada ESG NOW Awards 2026 yang diselenggarakan Republika dalam rangkaian ESG NOW Movement 2026 bertema “Inspiring Impact”. Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi terhadap upaya SCG menghadirkan solusi pengelolaan limbah yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
Melalui inovasi dan kolaborasi lintas sektor, SCG berkomitmen untuk terus mengembangkan teknologi serta sistem ekonomi sirkular sebagai bagian dari strategi pertumbuhan bisnis berkelanjutan, sejalan dengan target perusahaan mencapai Net Zero 2050.














