ItWorks.id–PT BPR Jatim Bank UMKM Jawa Timur terus memperkuat transformasi digital melalui pengembangan aplikasi internal, perluasan kanal transaksi, serta peningkatan keamanan siber. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan efisiensi operasional, memperluas akses layanan, dan menjaga kepercayaan nasabah.
Strategi tersebut dipaparkan Teezar Tioni, Pemimpin Divisi TI dan Akuntansi PT BPR Jatim Bank UMKM Jawa Timur, dalam wawancara penjurian TOP Digital Awards 2026 yang diselenggarakan Majalah IT Works secara daring, Kamis (15/10/2026). Teezar menjelaskan, pengembangan teknologi informasi (TI) dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kebutuhan bisnis. Bank BPR Jatim telah mengembangkan berbagai aplikasi, antara lain absensi, e-learning, dashboard manajemen, analisis kredit digital yang terintegrasi dengan compliance checklist, serta layanan mobile collection untuk mendukung operasional dan pemasaran.
Di sisi layanan nasabah, perusahaan memperluas pilihan transaksi melalui virtual account (VA), QRIS, ATM, dan sistem cardless. Bank BPR Jatim juga memanfaatkan kanal perdagangan elektronik seperti Shopee dan Tokopedia, serta jaringan Indomaret dan Alfamart untuk mendukung akses layanan dan proses pengajuan kredit.
Seiring dengan perluasan layanan digital, penguatan keamanan siber menjadi prioritas perusahaan. Bank BPR Jatim menerapkan pengelolaan identitas dan hak akses pengguna (identity and access management/IAM), autentikasi multifaktor (MFA), serta pemantauan ancaman pada perangkat kerja. Perusahaan juga tengah membangun security operations center (SOC) untuk memperkuat pemantauan dan penanganan potensi ancaman siber.
“Kami terus mengembangkan strategi keamanan siber, termasuk memastikan ketersediaan layanan, penanganan insiden, serta kesiapan pemulihan melalui disaster recovery plan (DRP) dan business continuity plan (BCP). Pengujian dilakukan secara berkala, kemudian hasilnya dievaluasi untuk perbaikan,” ujar Teezar.
Untuk menjaga keberlangsungan operasional, perusahaan juga menyiapkan mekanisme pemulihan sistem, termasuk layanan pusat data cadangan bagi aplikasi kritikal seperti core banking system. Selain itu, audit dan penetration testing dilakukan secara berkala guna mengidentifikasi potensi kerentanan sistem.
Penguatan transformasi digital tersebut turut didukung oleh komitmen pimpinan dan kolaborasi lintas divisi. Menurut Teezar, dukungan direksi, komite pengarah TI, serta para pemimpin divisi menjadi faktor penting dalam memastikan pemanfaatan teknologi selaras dengan kebutuhan bisnis.
Dalam paparannya, ia juga menyampaikan bahwa hingga September 2026, Bank BPR Jatim mencatat dana pihak ketiga sebesar Rp3,1 triliun dan tabungan Rp863 miliar.
Ke depan, lanjutnya, Bank BPR Jatim akan melanjutkan pengembangan layanan digital, memperkuat tata kelola TI, serta meningkatkan standar keamanan informasi. Melalui langkah tersebut, perusahaan berupaya menghadirkan layanan perbankan yang semakin adaptif, aman, dan mudah diakses, sekaligus mendukung pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan. (Penulis: ABI A J Siddiq)














