Penyedia software, SAP, membidik pasar konglomerat Tanah Air. Hal ini sejalan dengan kebutuhan implementasi software untuk mendukung ekspansi bisnis konglomerasi. Guna memperkuat pelanggan korporasi dari segmen tersebut, SAP akan fokus memasarkan solusi perencanaan sumber daya perusahaan atau enterprise resources planning (ERP) yang didukung akses mobilitas.
Vice President Platform SAP South East Asia, Suraj Pai mengatakan, saat ini SAP Indonesia memiliki 1.000 pelangggan dari 24 sektor industri. Sebanyak 80% dari jumlah ini adalah perusahaan para keluarga konglomerat. Pemilik perusahaan tersebut dianggap membutuhkan berbagai aplikasi software bisnis yang saling terintegrasi guna menyokong pertumbuhan perusahaannya.
“Para perusahaan konglomerasi ini bisa perusahaan besar atau Usaha Kecil Menengah (UKM). Bagi kami penyedia software, yang penting adalah fleksibilitas produk, supaya para pemilik perusahaan ini bisa meningkatkan bisnis, baik secara domestik, maupun ketika masuk pasar internasional,” jelas Suraj, saat acara temu media di Jakarta, Senin (7/10).
Suraj menerangkan, fokus utama SAP adalah menawarkan produk ERP. Solusi ini berperan mengintegrasikan proses bisnis yang berhubungan dengan aspek operasi, produksi, maupun distribusi sebuah perusahaan. Seperti diketahui, setiap konglomerat memiliki beragam unit bisnis. Jika usaha ini diproyeksikan untuk terus bertumbuh, maka perlu diambil sejumlah perencanaan yang efisien, termasuk belanja teknologi informasi (TI). ERP dinilai mampu menopang hal tersebut.
“Salah satu perusahaan konglomerasi yang menggunakan solusi SAP adalah Salim Group (Indofood). Kami bekerja sama untuk implementasi berbagai solusi bisnis dengan kinerja yang efisien,” tutur Suraj pula.
Solusi dari SAP, kata Suraj, terus disesuaikan dengan tren teknologi. Saat ini, penggunaan perangkat bergerak seperti ponsel pintar, notebook dan tablet, semakin menjadi pelengkap aktivitas bisnis. Aplikasi software SAP pun sudah mampu diterapkan pada perangkat bergerak, seperti i-Pad. “Mobility menjadi strategi dari para pelaku usaha, karena hampir setiap orang ingin melihat informasi lewat perangkat mobile,” tuturnya seperti dilansir laman beritasatu.com
Sementara itu, Senior Vice President Industry Value and Solutions SAP Asia Pasfic Japan, Adaire Fox-Martin berpendapat, bisnis-bisnis keluarga konglomerat menjadi tulang punggung ekonomi di Asia Tenggara. Menurut riset Credit Suisse Emerging Market Research Institute, 65% dari total jumlah perusahaan yang terdaftar di wilayah ini adalah perusahaan keluarga. Pasar Asia Tengara juga kian menjanjikan, di mana tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata negara di wilayah ini diperkirakan melebih 5% per tahun.
Riset Credit Suisse juga memaparkan, antara tahun 2000 sampai 2010, pasar bisnis keluarga di Asia tumbuh sampai enam kali lipat. Adaire pun menilai, bisnis keluarga perlu menemukan cara pengembangan usaha yang berkelanjutan, termasuk sistem TI, untuk mempertahankan posisi mereka. (endy.marcapada@gmail.com)














