Jakarta, ItWorks- Dalam forum acara bertajuk “Japan – Indonesia Business Forum for Energy Efficiency Conservation and Renewable” yang diadakan di Jakarta, Jepang menghadirkan pameran rangkaian produk inovasi baru teknologi hemat energi dan energi terbarukan. Bahkan para investor Jepang juga tertarik untuk ikut mengembangkannya di Indonesia.
“Kegiatan ini diadakan sebagai bagian dari peringatan 60 tahun hubungan diplomatik Jepang-Indonesia yang bertujuan untuk memperkuat hubungan kerja sama antara Jepang dan Indonesia yang telah terjalin baik selama ini,” ujar Mr. Nobuaki Aoyama Executive Committee Chairman of Japan-Indonesia Business Forum for EE&C and Renewable Energy, dalam sambutan acara bertajuk “Japan – Indonesia Business Forum for Energy Efficiency Conservation and Renewable” yang diadakan “Japanese Business Alliance for Smart Energy for Worldwide” pada (14/11), di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta.
Ditambahkan, kegiatan ini dihelat antara lain juga dalam rangka memperkenalkan teknologi untuk pengembangan hemat energi dan energi terbarukan unggul dari Jepang yang diharapkan bisa mendukung upaya pemerintah dalam mengatasi isu energi yang ada. Terutama untuk mendukung Indonesia mengurangi ketergantungan pada energi fosil melalui pengembangan energi baru terbarukan.
Selain memperkenalkan teknologi dan proyek dari 14 perusahaan Jepang dalam sesi presentasi, forum ini juga diisi tanya jawab dari berbagai instansi pemerintah Indonesia, sehingga menjadi wadah interaksi antar berbagai pihak yang hadir. Disamping kegiatan berupa forum, di lokasi acara juga diperlengkap dengan pameran panel teknologi hemat energi dan energi terbarukan, sehingga peserta yang hadir dapat melihat perkembangan teknologi terkini serta bisa menjadi wadah bagi temu bisnis berbagai pihak.
Forum diskusi bertajuk “Japan – Indonesia Business Forum for Energy Efficiency Conservation and Renewable” menghadirkan sejumlah nara sumber berkompeten dari unsur pemerintah dan pakar. Penyelenggaran forum ini juga didukung oleh Ministry of Economy, Trade, and Industry (METI), Ministry of Foreign Affairs (Kedutaan Besar Jepang di Indonesia), serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (Kementerian ESDM).
Mr. Nobuaki Aoyama menilai, komitmen pemerintah Indonesia untuk mengembangkan energi baru terbarukan, termasuk untuk pembangkit listrik, agar tidak terus bergantung pada energi fosil, sangatlah tepat. Apalagi Indonesia punya pontensi yang juga beragam untuk lebih dikembangkan, seperti sumber energi surya (matahari), angin dan lainnya. Namun katanya, hal ini akan tetap sulit dikejar akselerasinya jika tidak didukung regulasi dan ekosistem yang kondusif bagi investor.
“Investor Jepang sebenarnya juga banyak yang tertarik. Karena itu, regulasi dan ekosistemnya juga harus terus diperbaiki dan diperlonggar. Saya optimistis jika hal ini bisa terus diperbaiki, investor akan makin tertarik, termasuk dari Jepang. Apalagi kami juga punya pengalaman dan memiliki teknologi yang bisa diandalkan untuk pengembangan energi baru terbarukan ini,” ungkap Mr. Nobuaki Aoyama.
Dalam kesempatan itu, Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan, Harris dalam paparannya mengatakan, hingga saat ini Indonesia memang masih menggantungkan kebutuhan energi kepada sumber energi fosil yang mencapai lebih dari 90%. Meski demikian, Indonesia juga telah menyusun roadmap dan berkomitmen untuk mengejar pengembangan energi baru terbarukan. Bahkan sejumlah proyek mulai dikembangkan, di antaranya PLTB di Sidrap berkapasitas 75 Mega Watt dan saat ini hal serupa juga sedang dibangun di Jeneponto, Sulawesi. “Penggunaan energi alternatif, terutama energi baru terbarukan akan terus dikejar. Namun kita akui memang masih kalah jikalau dibandingkan dengan negara lain, apalagi Jepang yang sudah lebih maju,” ujarnya.
Ditambahkan, Indonesia memiliki komitmen untuk menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sejumlah 314-398 juta ton CO2 pada tahun 2030 yang diamanatkan pada Undang-undang Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement. Dalam hal pengembangan Indonesia energi alternatif untuk dijadikan energi terbarukan potensinya masih terbuka. Misalnya tenaga geotermal, tenaga air dan ombak laut, tenaga angin, tenaga surya, hingga sumber energi lainnya. (AC)














