Upaya Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek) dalam mengembangkan teknologi untuk mendukung pembangunan nasional tidaklah mudah. Ini dikarenakan anggaran riset yang masih terbatas.
“Kita masih terkendala oleh anggaran riset yang masih terbatas, dan mayoritas masih berasal dari pemerintah yaitu (70 persen). Sedangkan investasi litbang swasta masih rendah (30%),” jelas Menristek Gusti Muhammad Hatta saat menjadi keynote speech pada Seminar nasional Agroforestri IV di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Sabtu (26/10).
Tak hanya anggaran yang terbatas, lanjut dia, produktivitas riset di Indonesia pun masih rendah. Gusti mengungkapkan, hanya sedikit hasil riset yang masuk ke pengguna atau industri.
“Banyak faktor yang menentukan sedikitnya hasil litbang yang digunakan oleh industri (pengguna). Teknologi yang dikembangkan tidak sesuai kebutuhan pengguna, tidak lebih baik dari yang sudah ada, tidak lebih cepat, dan lebih mahal dan rumit,” jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi Senin (28/10).
Data Business Innovation Center (BIC) menunjukkan, bahwa kurang dari lima persen hasil riset yang digunakan oleh industri dan berimplikasi pada daya saing nasional.
Menurut World Economic Forum 2013, daya saing Indonesia berada pada peringkat ke-38 dari 148 negara (mengalami kenaikan dari peringkat ke-50 dari 144 negara).
Indonesia, kata Menristek, tergolong kelompok negara yang ekonominya mengandalkan efisiensi (efficiency driven). Diukur melalui 12 pilar dimana dua pilar terkait Iptek yaitu: kesiapan teknologi (naik dari peringkat ke-85 ke peringkat ke-75 pada 2013) dan inovasi (naik dari peringkat ke-39 ke peringkat ke-33 pada 2013).
“Ke depan, kita perlu terus melakukan penguatan pilar inovasi dan kesiapan teknologi melalui pendidikan dan pengembangan Iptek dan Inovasi. Sementara, untuk meningkatkan produktivitas dan pendayagunaan hasil litbang serta daya saing nasional, saya minta, dalam pengembangan teknologi agroforestri, para peneliti perlu memperhatikan kebutuhan pengguna khususnya petani,” terang Gusti.
Selain itu, lanjut dia, pengembangan teknologi agroforestri ke depan, haruslah teknologi yang lebih produktif, efisien, dan ramah lingkungan. “Sistem Agroforestri yang ada perlu kita sempurnakan terus, agar dapat memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi oleh bangsa kita,” imbuhnya.
Permasalahan yang tengah dihadapi Indonesia, kata Gusti, meliputi kecukupan pangan, ketersediaan energi dan ketersediaan bahan baku obat, dan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar hutan. “Serta yang paling penting, dapat memelihara kelestarian dan fungsi utama hutan sebagai paru–paru kehidupan dengan mensuplai oksigen, penyimpan air dan mengurangi erosi atau banjir,’ jelasnya. (marcapada@yahoo.com)














