Jakarta, ITWorks – Tak hanya ke pelaku industri, Badan Standardisasi Nasional (BSN) juga mendatangi kampus dan perguruan tinggi untuk meningkatkan sosialisasi dan pemahaman pentingnya standardisasi dan penilaian kesesuaian di Indonesia. Kali ini dilakukan dengan Universitas Negeri Semarang (UNNES), Jawa Tengah.
Berbagai upaya akselerasi dan peningkatan standardisasi dan penilaian kesesuaian di Indonesia , terus dilakukan BSN melalui sinergi dengan berbagai pihak. Salah satunya dengan perguruan tinggi yang memiliki peran penting sebagai pusat pengembangan dan penyiapan SDM yang berkualitas. Diharapkan melalui upaya ini, kalangan akademis dan civitas akademis, juga care terhadap hal ini untuk ikut mendukung edukasi dan sosialisasinya. “Saya yakin, UNNES dapat menjadi salah satu pusat pengembangan sumber daya manusia yang berdaya saing nasional dan internasional,” ujar Kepala BSN, Bambang Prasetya selepas menandatangani perjanjian Nota Kesepahaman Tentang Pembinaan dan Pengembangan Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian Melalui Tridarma Perguruan Tinggi dengan Rektor UNNES, Fathur Rokhman, Jumat (26/7/), di UNNES, Semarang.
Penandatanganan ini menandakan UNNES sebagai Perguruan Tinggi ke-60 yang menjalin kerja sama dengan BSN. Saat ini UNNES memiliki delapan fakultas dan satu program pascasarjana. Di antaranya Fakultas Ilmu Keolahragaan, Fakultas Teknik, serta Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA).
UNNES pun berkomitmen menjadi rumah ilmu pengembangan peradaban unggul. Dengan nota kesepahaman ini, BSN dan UNNES dapat menyinergikan dan mengoptimalkan potensi masing-masing untuk membina dan mengembangkan standardisasi dan penilaian kesesuaian. BSN pun menegaskan kesiapannya dalam mendukung UNNES menjadi berdaya saing. Di antaranya dengan bersama-sama mengembangkan riset dan diseminasi hasil riset di bidang standardisasi dan penilaian kesesuaian.
“Sudah saatnya perguruan tinggi menitikberatkan standardisasi dalam Tridarma Perguruan Tinggi. Sebagai negara berkembang, Indonesia harus siap berkompetisi di era globalisasi. Perkembangan inovasi, ilmu pengetahuan, dan teknologi, khususnya di bidang akademik, sangat dibutuhkan untuk meningkatkan daya saing bangsa. Untuk itu, para civitas akademika pun perlu memahami standardisasi dan penilaian kesesuaian guna meningkatkan kompetensi diri,” papar Bambang Prasetya.
Berdasarkan data, saat ini terdapat 22 Lembaga Penilaian Kesesuaian (LPK) yang telah diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) di Kota Semarang. LPK tersebut terdiri atas 12 laboratorium penguji, 1 laboratorium kalibrasi, 1 laboratorium medik, 1 lembaga sertifikasi produk, 1 lembaga sertifikasi usaha pariwisata, 4 lembaga sertifikasi terkait sistem manajemen, serta 2 lembaga inspeksi. Bambang pun berharap, UNNES dapat berkontribusi nyata dalam mengembangkan standardisasi dan penilaian kesesuaian di Semarang.
“Mahasiswa dan dosen dapat memanfaatkan sumber daya yang ada untuk mengembangkan standardisasi dan penilaian kesesuaian di kota ini. Misalnya, dengan mengoptimalkan laboratorium, baik SDM-nya maupun sarana dan prasarananya, sehingga dapat melayani kebutuhan masyarakat,” ungkap Bambang.
Dalam Kesempatan itu, Bambang juga menyerahkan Sertifikat Akreditasi untuk Laboratorium Kalibrasi Fakultas Ilmu Keolahragaan UNNES kepada Rektor UNNES, Fathur Rakhman. Dikatakan, ini menjadi lkangkah awal yang sangat baik, karena terbukti UNNES sudah siap mengawal Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian di Semarang.
Rektor UNNES, Fathur Rakhman menyatakan bahwa UNNES berkomitmen untuk mengoptimalkan laboratorium yang dimiliki agar dapat bernilai tambah. Ia pun berharap laboratorium pengujian di fakultas lain juga terakreditasi KAN. “Laboratorium merupakan media yang dapat mendukung aktualisasi diri kami dalam masyarakat. Kami harap, laboratorium uji di fakultas kimia dan biologi juga memperoleh akreditasi KAN, sehingga dapat mendukung riset-riset yang kami lakukan serta bermanfaat untuk masyarakat,” ujar Fathur. (AC)














