Hasil jajak pendapat pemanfaatan iptek nuklir oleh Badan Tenaga Nuklir (BATAN) secara nasional, menyebut 76,5% masyarakat Indonesia setuju pengembangan iptek nuklir. Dari angka ini, sebanyak 60,4% setuju untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Masyarakat yang tidak setuju hanya 28,5%. Sisanya setuju untuk kesehatan (42,80%), peternakan (30%), dan pangan (29,50%).
Jajak pendapat ini, untuk mengetahui perkembangan tingkat penerimaan masyarakat. Diharapkan dapat merepresentasikan penerimaan masyarakat secara umum di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali terhadap iptek nuklir. Sebab, daerah-daerah inilah yang nantinya akan mengonsumsi listrik dari PLTN. Sedangkan jajak pendapat pada tingkat wilayah Jawa Madura dan Bali (Jamali) pada tahun ini menyebut sebanyak 75% setuju terhadap pengembangan iptek nuklir (PLTN), 58,4% untuk kesehatan, 44,6% peternakan, dan 47% pangan.
“Tahun 2013 dan 2014 merupakan tahun politik sehingga para pengambil keputusan lebih fokus pada hiruk pikuk pemilu. Jadi dipastikan isu-isu nuklir tenggelam oleh isu-isu politik. Oleh karenanya, jika masyarakat konsisten setuju terhadap perkembangan iptek nuklir, khususnya PLTN, saya yakin pemerintah akan segera go nuklir. Terlebih sebanyak 54,2% masyarakat setuju PLTN karena kerap mengalami pemadaman listrik bergilir,” kata Kepala Batan Djarot S. Wisnubroto.
Sebagai rangkaian HUT Batan ke-55 digelar Atomos Expo & Forum 2013 di Tenis Indoor Senayan. Kegiatan tersebut khusus menggelar produk-produk teknologi hasi lkarya anak bangsa di bidang nuklir dan pemanfaatannya yang sudah meluas di berbagai sector pembangunan. Tujuannya adalah sebagai media sosialisasi dan penyampaian informasi kepada masyarakat luas tentang kemampuan bangsa sendiri yang sudah menghasilkan banyak karya di bidang nuklir dan memiliki peran dalam pembangunan nasional.
Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta, masyarakat harus diberi pengertian dengan bahasa yang mudah dicerna. “Saya sendiri sewaktu berkunjung ke berbagai daerah, selalu memperkenalkan teknologi nuklir ini bahwa bisa dimanfaatkan untuk bermacam-macam hal,” kata Menristek. Menurutnya, Batan sudah banyak menghasilkan produk dengan memanfaatkan teknologi nuklir. Ia mencotohkan, semula hasil padi rata-rata nasional perhektar 5-6 ton, dengan memanfaatkan tenaga nuklir, akhirnya bisa mencapai 9-10 ton perhektar.
Di tempat terpisah, Batan untuk kesekian kalinya menghasilkan varietas kedelai unggul. Kali ini diberi nama Gamasugen 1 dan Gamasugen 2. Varietas ini mempunyai produksi tinggi dan tahan hama.Kepala Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi Batan, Dr Hendig Winarno, menjelaskan, varietas yang dihasilkan itu melalui teknik mutasi radiasi. Kedelai hasil pengembangan nuklir ini lebih aman dibandingkan kedelai transgenik. “Melalui teknik mutasi radiasi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena secara genetik setelah dilakukan radiasi tidak ada yang berubah. Selain itu, tidak ada reside genetik,” tandasnya














