Pemerintah berupaya untuk membangkitkan perekonomian masyarakat di tengah pandemi Covid-19, terutama bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Selain mendorong publik untuk gemar membeli produk buatan Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika juga menyiapkan beragam pelatihan untuk memanfaatkan teknologi digital.
“Gernas BBI dapat membuka peluang pasar baru bagi UMKM untuk naik kelas secara nasional maupun global. Oleh karena itu, Kominfo memiliki beragam pelatihan lewat program Gerakan Nasional Literasi Digital, serta Digital Talent Scholarship (DTS) bagi 100.000 beasiswa pelatihan nongelar setiap tahun,” ujar Philip Gobang, Staf Khusus Menkominfo, dalam acara Road to Kilau Digital Permata Flobamora secara virtual, dari Kupang, Nusa Tenggara Timur, Kamis (27/05/2021).
Ia menjelaskan beragam pelatihan itu bekerja sama dengan 93 universitas dan Politeknik di 34 provinsi dan ditujukan untuk pengembangan kewirausahaan berbasis digital guna mendukung ekonomi digital. “Pelatihan penggunaan teknologi digital seperti big data, cloud computing, artificial intelligence, dan cyber security. Jadi, Kominfo berupaya mengedukasi masyarakat untuk memanfaatkan internet secara positif, produktif, ekonomis.
Menurut Staf Khusus Menkominfo, guna meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat agar lebih siap dalam perubahan dan tantangan digital, Kominfo menggunakan pendekatan komprehensif yang mencakup tiga tingkatan kecakapan digital.

“Di level advanced atau tingkat lanjutan, program Digital Leadership Academy (DLA) diinisiasi untuk meningkatkan kapasitas pembuat kebijakan digital di sektor publik maupun privat. Program ini ditujukan untuk 300 leaders dan dilakukan secara daring, mengingat situasi pandemiCovid-19, dengan menggandeng pusat-pusat pengembangan ekosistem digital global.”
“Kemudian, di tingkat menengah (intermediate digital skill), ada program Digital Talent Scholarship (DTS) yang diadakan untuk memberikan pelatihan teknis bagi para angkatan kerja muda, lulusan baru, profesional, dan elemen masyarakat lainnya,
“Sedangkan, di tingkat kecakapan digital yang dasar (basic digital skill), pengembangan literasi digital melalui Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siber kreasi terus digencarkan agar dapat mencapai12,4juta masyarakat di tahun 2021 ini,” ujarnya.
Bukan hanya itu, berkaitan dengan ekonomi digital, Kominfo juga berupaya untuk terus meningkat kapabilitas digital di sektor prioritas untuk mendorong produktivitas, pertumbuhan berbasis inovasi. “Kominfo melibatkan startup-startup besar, saat ini kita bisa berkolaborasi dengan tokopedia, blibli.com dan seterusnya yang sudah berkembang sedemikian rupa menjadi unicorn dan kita harapkan di masa yang akan datang muncul pula startup-startup dari Flobamora,” harapnya.
Baca: Dukung Gernas BBI 2021, BliBli Luncurkan Laman Khusus #BeliKreatifDanauToba
Kominfo Siapkan Program Stimulan DTS 2021
Senada dengan penjelasan Staf Khusus Menkominfo, di kesempatan berbeda Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Kominfo, Hary Budiarto, menyatakan Kementerian Kominfo telah menyiapkan program stimulan pelatihan Digital Talents Scholarship 2021.
“Kami berharap bekerja sama dengan kampus untuk meningkatkan talenta digital. Untuk di Bali kita berharap Institut Teknologi dan Bisnis STIKOM Bali (ITB STIKOM) bisa membantu 50% UMKM di Bali bisa terdigitalisasi. Artinya semua bisnis mereka masuk ke digital,” ungkapnya dalam Webminar Stikomers Business & Career Talks: Digital Talent Scholarship & Personal Development Plans yang berlangsung virtual, dari Bekasi, Sabtu (29/05/2021).
Kepala Badan Litbang SDM menyatakan untuk mewujudkan hal itu, Kementerian Kominfo menyediakan Program Digital Talent Scholarship. “Tujuan program DTS untuk memberikan beasiswa kepada talenta digital, mempersiapkan talenta digital utk masuk ke pasar kerja dan menyediakan alih kompetensi dengan memanfaatkan teknologi digital,” jelasnya.
Sebagai salah satu upaya menyiapkan talenta digital, Hary Budiarto menjelaskan Program DTS 2021 akan melatih peserta dengan keterampilan teknologi yang menjadi tumpuan di era industri 4.0.
“Kita berupaya mengembangkan talenta digital yang berdaya saing dan berkarakter dan tentu menguasai teknologi terkini seperti kecerdasan artifisial, IoT, analisis big data dan cloud computing,” jelasnya.
Program DTS tahun ini menargetkan bisa melatih 600 ribu orang di seluruh Indonesia. Program DTS dimulai tahun 2018 dengan peserta sebanyak 1000 orang.
“Tahun 2019 sebanyak 25 ribu orang peserta. Pada tahun 2020 sebanyak 60 ribu peserta dan taget tahun 2021 kita berharap bisa mencapai 100 ribu,” jelas Hary Budiarto.
Untuk melaksanakan Program DTS 2021, Kepala Badan Litbang SDM menegaskan kebutuhan untuk bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk universitas. “Tanpa kerja sama dengan universitas tidak mungkin dilakukan untuk bisa menjangkau masyarakat di seluruh wilayah Indonesia,” tuturnya.
Delapan Akademi Program DTS 2021
Program DTS 2021 menyediakan delapan akademi yang bisa diikuti oleh peserta dari lulusan SMK, mahasiswa tingkat akhir, lulusan perguruan tinggi, pekerja dan masyarat umum. Kepala Badan Litbang SDM Hary Budiarto menjelaskan masing-masing program yang disediakan agar masyarakat bisa bangkit dari dampak pandemi.

“Pertama, Fresh Graduate Academy, untuk mahasiswa yang akan lulus maupun sudah lulus dan ingin bekerja. Mereka dilatih dan ada sertifikat kelulusan pelatihan serta kesempatan untuk sertifikasi internasional yang bisa dipakai untuk kerja di level global,” jelasnya.
Akademi kedua, Vocational School Graduate Academy (VSGA) dengan sasaran lulusan SMK untuk menerima pelatihan sesuai modul SKKNI. “Setelah pelatihan selesai diberi sertikat dan sertifikasi yang diselenggarakan Lembaga Sertifikasi Profesi bidang informatka dan penyiaran,” papar Kepala Badan Litbang SDM.
Hary Budiarto juga menjelaskan akademi ketiga, Thematic Academy yang dikhususkan bagi peserta dari masyarakat umum. “Misal desa wisata, pariwisata digital atau peningkatan marketing digital. Termasuk juga para difabel yang diajarkan untuk memanfaatkan teknologi digital untuk peningkatan usaha mereka,” jelasnya.
Untuk peserta dari pekerja profesional, Kementerian Kominfo juga membuka Profesional Academy sebagai akademi pilihan keempat. “Bagi yang sudah bekerja menambah kompetensi di tingkatan lebih bagus. Pelatihan di bidang yang lebih tinggi untuk bekerja secara optimal bekerja di bidangnya,” paparnya.
Akademi kelima yang disediakan Kementerian Kominfo adalah Goverment Transformational Academy (GTA). “GTA untuk para Aparatur Sipil Negara ada 13 tema pelatihan yang bisa diikuti ASN,” ujar Kepala Badan Litbang SDM.
Untuk pelaku usaha dan UMKM, Hary Budiarto menyatakan Kementerian Kominfo menyediakan Digital Entrepreneurship Academy (DEA) jadi akademi keenam. “Untuk menyiapkan peserta yang berusaha atau wirausaha mandiri beralih ke wirausaha digital. Bekerja sama dengan berbagai market place agar bisa memanfaatkan teknologi digital,” jelasnya.
Kepala Badan Litbang SDM menjelaskan juga mengenai Talent Scouting Academy (TSA). Akademi ketujuh itu, diperuntukan bagi mahasiswa yang memilik talenta digital. “Diseleksi mereka yang memiliki talenta di atas normal yang menjadi champion untuk mendorong ekonomi digital. Kominfo bekerja sama dengan Dirjen Dikti untuk pelatihan dan permagangan di perusahaan internasional,” paparnya.
Adapun ke delapan, Digital Ledership Academy yang dikhususkan untuk pimpinan lembaga agar bisa mengembangkan inovasi digital. “Untuk pimpinan lembaga, universitas diharapkan bisa menbuat pelayanan publik baru dan kolaborasi degan berbagai institusi,” tutup Hary Budiarto.
Baca: Kemkominfo Selenggarakan PRO Academy DTS 2021, Sediakan Beasiswa Pelatihan Ekonomi Digital














