Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengefisienkan jalur pemasaran perikanan budidaya melalui digitalisasi untuk memperluas jaringan pasar para pembudidaya atau pelaku usaha di Indonesia.
Direktur Perbenihan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP Nono Hartanto di Jakarta, Kamis, 22/09/2022 mengatakan, “Digitalisasi di sektor budidaya dan pemasaran ini sangat kita perlukan. Tujuannya untuk efisiensi rantai pasok.”
KKP sedang menggencarkan digitalisasi pada sistem produksi perikanan budidaya antara lain dengan desain kolam/tambak yang ramah lingkungan, pemilihan lokasi menggunakan drone dan pemetaan satelit, penggunaan peralatan pendukung budidaya seperti sistem aerasi, kamera bawah air, hingga pengelolaan kualitas air dan kesehatan ikan secara digital.
Nono menjelaskan, digitalisasi di sektor hulu akan menguntungkan pembubidaya di dalam negeri karena memudahkan proses pemeliharaan secara berkelanjutan.
Sedangkan di sektor hilir, digitalisasi dinilai dapat memperpendek jalur pemasaran.
“Ikan yang dijual itu melalui pihak pengumpul, jadi keuntungan pembudidaya sangat kecil. Dengan proses digital maka pembudidaya dapat memperpendek jalur pemasarannya sehingga keuntungan lebih besar,” klaimnya.
Sebagai informasi, nilai ekspor ikan hias Indonesia mengalami peningkatan signifikan pada periode tahun 2017–2021, dari 27,6 juta dolar AS pada tahun 2017 menjadi 34,5 juta dolar AS pada tahun 2021.
Tahun 2021, ekspor ikan hias didominasi oleh ikan hias air tawar sebesar 80,63 persen atau senilai 27,8 juta dolar AS dan sisanya ikan hias air laut sebesar 19,37 persen atau senilai 6,7 juta dolar AS.
Sampai dengan Juni 2022, nilai ekspor ikan hias mencapai 17,61 juta dolar AS dengan volume sebesar 783,95 ton ke negara tujuan utama Amerika Serikat (11,91 persen), Jepang (11,58 persen) dan Taiwan (10,60 persen).
Jenis ikan hias yang paling diminati yaitu arwana (super red dan jardini), cupang, botia, koi, maskoki, dan oscar.
Baca: Berkolaborasi dengan KKP, IOH Luncurkan Program Konservasi Laut














