PT Cogindo Dayabersama diketahui merupakan anak perusahaan dari PT Indonesia Power sekaligus cucu dari PT PLN (Persero). Cogindo yang menjadi salah satu perusahaan kandidat penerima penghargaan TOP Digital Awards 2022 telah berhasil melewati sesi wawancara penjurian yang digelar Majalah It Works secara virtual pada Selasa, (6/12/2022) lalu.
Seperti dikatakan Ade Hendratno, selaku Direktur Utama, Cogindo Dayabersama memiliki empat aktivitas bisnis antara lain Operation & Maintenance; Maintenance, Repair Overhaul (MRO); Supply Energy; serta Gas & Diesel Engine. Hebatnya, selain mumpuni di empat bidang yang sudah menjadi core business perusahaan, untuk urusan transformasi digital Cogindo juga patut diacungi jempol.
Untuk urusan pengembangan system informasi, secara kebijakan Cogindo telah menetapkan roadmap berkala yang menjadi dasar pengembangannya.
”Jadi, mulai tahun 2018 kami sudah mempunyai ITMP Cogindo di tahun 2018-2022. Dan saat ini (pada roadmap) 2022-2026 kami memiliki roadmap yang mulai dari tahun 2022 di mana kami berfokus kepada pengembangan infrastruktur dan organisasi yang ada di sisi IT, juga beberapa pengembangan dari sisi aplikasi. Kemudian, tahun 2023 pengembangan secara core system dan sebagai fungsi-fungsi analisa-analisa dari aplikasi-aplikasi yang ada. Kemudian integrasi sampai di 2025-2026 adalah implementasi Big Data,” ujar Ade di hadapan dewan juri TOP Digital Awards 2022.
Untuk melihat sejauh mana tingkat kematangan penerapan teknologi IT perusahaan, Cogindo Dayabersama tergolong rutin dalam melakukan assessment IT Maturity Level yang dilakukan oleh induk perusahaan, yakni Indonesia Power.
”Indonesia Power menggunakan tools COBIT 4 yang kalau kita lihat dari target 2015 sampai dengan 2022 ada peningkatan, mulai dari tahun 2015 yang kami kematangannya baru ada di kisaran 2, sampai di tahun terakhir ini kami ada di kisaran angka 3.15,” ungkap Ade.
Bila saat ini assessment IT Maturity Level perusahaan masih dilakukan oleh induk perusahaan, Ade berharap ke depannya akan menerapkan assessment sesuai dengan best practice secara global. “(Assessment) yang saat ini kami lakukan berkaitan dengan KPI kami sebagai anak perusahaan Indonesia Power, (di mana) setiap tahun kami ditargetkan untuk maturity level bidang teknologi informasi atau dalam hal ini level ICR,” tandasnya.
Lebih jauh dikatakan Ade, dari sisi infrastruktur keamanan dan keandalan sistem teknologi, seperti perusahaan pada umumnya, Cogindo disebut telah mempergunakan WAN maupun VPN dengan Firewall yang sesuai dengan best practice yang ada saat ini. Pun dari sisi penggunaan server mulai dari routers, switch, sampai dengan firewall, dilakukan sesuai dengan best practice yang ada saat ini di luar.
Inovasi
Berkaitan dengan inovasi yang telah dilakukan, dalam hal ini ada sejumlah aplikasi yang telah dikembangkan Cogindo. Menariknya, aplikasi-aplikasi yang dikembangkan oleh Cogindo tidak hanya ditujukan untuk mendukung kegiatan proses bisnis, seperti dikatakan Ade, Cogindo juga memiliki peluang untuk membisniskan kegiatan-kegiatan yang menggunakan aplikasinya untuk pihak luar. Lalu apa saja aplikasi yang telah diimplementasikan perusahaan?
Pertama, adalah inovasi bisnis di bidang solusi digital office automation, yang berkaitan dengan EBS (Electronic Business) dan ERP (Enterprise Resource Planning). “Jadi, tahun ini kami sudah mengintegrasikan antara ERP dan EBS yang sebelumnya masih si-lo (sendiri-sendiri) yang antara EBS ini berkaitan dengan untuk proses pengadaan, tetapi kita gabungkan sudah terintegarasi dengan sistem anggaran secara program anggaran tersendiri yang menggunakan ERP, sehingga semuanya dalam satu siklus terintegrasi. Ini akan lebih mempercepat dan juga mengurangi dari kekeliruan data yang kalau dialkukan secara si-lo,” jelas Ade.
Selanjutnya, yang kedua, yakni inovasi yang berkenaan dengan Manajemen Outage dan Pemeliharaan di mana hal ini sesuai dengan salah satu core business perusahaan maintenance repair overhaul. Dikatakan Ade bahwa pada kegiatan overhaul perusahaan memerlukan monitoring kegiatan-kegaitan ekesekusi di lapangan, dan semua ini perlu didokumentasikan dan pastikan semua yang dilakukan terdata, terceklis dengan baik sehingga sesuai dengan yang direncanakan bahkan harusnya bisa lebih cepat dari yang direncanakan.
“Harapannya dalam kegiatan overhaul ini adalah 5 ON (On Time, On Cost, On Scope, On Quality, dan On Safety). Dengan aplikasi ini para eksekutor akan lebih mudah memonitor kepada quality control-nya,” ujar Ade.
Kemudian, yang ketiga, adalah inovasi yang berkaitan dengan IoT Implementation, dalam hal ini Cogindo mengembangkan apa yang disebut REOC (Reability Efficiency Optimaization Center).
“Jadi saat ini kami sebagai bagian dari Indonesia Power, kami diminta untuk mengembangakan REOC tidak hanya di asset pembangkit yang ada di Indonesia Power, tetapi di assetnya Cogindo juga untuk dijual ke luar. Jadi, Alhamdulillah kami juga sudah berhasil menjual REOC ini keluar PLN Group ke salah satu ITP dan progres saat ini sedang dilaksanakan,” kata Ade.
Dijelaskan Ade, bahwa aplikasi IoT ini bisa digunakan untuk kegiatan semua parameter operasional yang ada sistem pembangkit, ke dalam satu data yang server diolah, baik itu ada level yang hanya mirroring untuk level monitoring sampai dia melakukan rekomendasi. “Jadi ini sudah merupakan smart system, jika ada indikasi atau symptom yang nantinya diperkirakan akan menjadi masalah, secara sistem otomatis akan merekomendasikan,” tandasnya.
Bagian inovasi lain dari Cogindo, yaitu berupa penggunaan drone. Dalam hal ini, sejak dua tahun terakhir Cogindo sudah bekerja sama dengan salah satu penyedia drone terbesar di dunia, yaitu Terra Drone. “Aplikasinya cukup luas drone ini tetapi kami mengimplementasikannya disesuaikan dengan core business kami, yaitu sekali lagi adalah di bidang MRO. Jadi kegiatan-kegiatan overhaul yang ada itu bisa dilakukan melalui drone, sehingga akan menghemat waktu, lebih safe , kemudian juga lebih efisien. Data-data juga bisa diolah secara otomatis,” ujar Ade.
Pemanfaatan drone, salah satu kegiatan yang dilakukan perusahaan yakni untuk boiler inspection, yang sebelumnya dilakukan dengan menggunakan tangga sampai ke tower tertinggi untuk melihat posisi pipa boiler yang diperkirakan rusak. ”Tetapi kalau menggunakan drone tidak memerlukan itu dan bisa memperkirakan kerusakannya ada di posisi mana dan memang terlihat dari tampakan yang ada dari sisi visual, bisa nantinya kita olah menjadi tidak hanya untuk inspeksi tetapi nanti bisa dipergunakan sebagai PDM (Predictive Maintenance),” sambungnya.
Inovasi selanjutnya dari Cogindo yang sempat dipaparkan saat presentasi adalah MRO Marketplace. Solusi bisnis ini dihadirkan sebagai keperluan perusahaan untuk memberikan pelayanan lebih kepada customer mereka.
”Jadi, customer kami tentunya ingin cepat, kemudian proses juga ada kejelasan, prosesnya ada di mana nyamereka juga tahu. Nah, inilah konsep dasar yang kami bangun sebetulnya yang awal kami hanya untuk internal Cogindo saja, untuk perbaikan proses memberikan layanan lebih kepada customer kami, sehingga mereka bisa langsung melalui satu aplikasi secara proses mereka bisa langsung mempergunakan itu melihat produk-produknya Cogindo, tetapi pada perkembangannya kami berharap sekali memang MRO ini menjadi marketplace. Nantinya kami akan mengundang para penjual-penjual juga untuk masuk ke toko sini untuk menjual kepada customer-customer yang lain. Ini potensial menjadi bagian selain sebagai pelayanan kami kepada customer tetapi sebagai pendapatan bagi Cogindo,” papar Ade.
Berikutnya, Cogindo juga telah mengembangkan aplikasi College yang awalnya juga berangkat dari keperluaan internal untuk system pelatihan melalui aplikasi, karena secara kelengkapan, modul-modul, kegiatan-kegaitan training atau kegiatan untuk pemenuhan sertifikasi sudah dimiliki.
“Selama ini kami lakukan (training) secara manual, (saat ini) kami lakukan menggunakan aplikasi, sehingga mereka bisa menggunakan di mana saja dan bisa cepat lebih efisien dalam pengelolaan training-nya,” ungkap Ade.
Aplikasi College, selain untuk keperluan dari internal, Cogindo juga sudah menajajaki untuk coba untuk menjual solusi ini ke tempat-tempat lain. Tidak hanya itu, aplikasi College ternyata juga merupakan bagian dari CSR perusahaan kepada masyarakat sekitar terutama pada sektor pendidikan.














