Pekerja di usia 30-an, terutama 35 tahun, diingatkan untuk selalu meningkatkan keterampilan agar bisa tetap relevan bagi perusahaan. Demikian halnya dengan pekerja outsourcing atau alih daya yang juga kerap menyimpan kekhawatiran atas potensi tidak ada perpanjangan kontrak kerja pada rentang usia tersebut.
“Rentang usia tersebut sangat rentan mengingat pekerja usia 30-an akan berkompetisi dengan lulusan muda yang lebih tangkas dengan ilmu yang lebih baru. Hal itu berlaku untuk semua jenis pekerja baik pekerja kerah biru maupun pekerja kerah putih,” kata Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja Denni Puspa Purbasari, dalam satu acara di Jakarta, 15/06/2023.
“Yang berusia 30-an jangan santai saja. Dapatkan keterampilan, bersiap. Rentan karena Anda akan juga berkompetisi dengan anak-anak muda lulusan S1 yang lebih tangkas, ilmu yang lebih baru. Sedangkan anda masih dengan ilmu 10 tahun lalu ketika anda selesai kuliah,” tegas Denni.
Ia pun mengingatkan bahwa perubahan lanskap bisnis terjadi semakin cepat. Selain itu, disrupsi di dunia dapat terjadi kapan pun mulai dari disrupsi geopolitik, teknologi, hingga kesehatan seperti pandemi COVID-19 yang lalu. Oleh sebab itu, angkatan kerja dituntut untuk selalu siap menghadapi perubahan.
Padahal peluang karier baru tersedia cukup banyak. Akan tetapi, pekerja kerap menemukan kendala ketidakcocokan antara keterampilan yang dibutuhkan dengan keterampilan yang dimiliki saat ini.
Oleh karenanya, lanjut Denni, pemerintah telah membuka kesempatan kepada angkatan kerja usia 18-64 tahun untuk meningkatkan keterampilan (upskilling) dan mendapatkan keterampilan baru (reskilling) melalui pelatihan-pelatihan dari Prakerja.
Meski demikian, kunci untuk meraih kesuksesan dalam karier tetap berada dalam pilihan masing-masing individu.
“Prakerja menyediakan akses untuk mendapatkan keterampilan baru yang untuk dibutuhkan oleh pasar. Tapi, kuncinya ada di teman-teman sendiri. Pemerintah membuka (akses), yang meraup dan yang memastikan adalah teman-teman sendiri untuk mendapatkan keterampilan itu,” ujar Denni.
Survei evaluasi Prakerja belum lama ini mencatat sebesar 24 persen peserta Prakerja yang menganggur sebelum program segera mendapatkan pekerjaan atau berwirausaha sekitar satu setengah bulan setelah mereka menyelesaikan program.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan bahwa program Prakerja juga meningkatkan persentase angkatan kerja yang pernah mengikuti pelatihan hampir dua kali lipat dari yang sebelumnya 10,25 persen pada 2020 menjadi 19,08 persen pada 2023.
Baca juga: Cara Ikut Program Kartu Prakerja 2023, Sudah Dibuka!














