ItWorks- Tekankan inovasi untuk rantai nilai makanan & minuman yang berkelanjutan, Greenhouse Accelerator 2025 dari PepsiCo hadirkan para startup yang bisa mendorong solusi keberlanjutan di bidang pangan, energi, dan pengelolaan limbah di kawasan Asia Pasifik.
PepsiCo telah mengumumkan 10 finalis startup pada edisi ketiga program Greenhouse Accelerator (GHAC) di kawasan Asia Pasifik. Program ini merupakan inisiatif penting dari PepsiCo untuk mempercepat inovasi dalam sektor pertanian berkelanjutan, ekonomi sirkular, dan aksi iklim.
Para startup tahap awal ini akan mendapatkan bimbingan dari para ahli, akses ke jaringan global PepsiCo, serta kesempatan untuk melakukan uji coba solusi yang mereka tawarkan pada kondisi pasar yang sebenarnya. Upaya ini bertujuan untuk mengembangkan inovasi yang layak secara komersial agar dapat memperkuat ketahanan dan keberlanjutan rantai nilai industri makanan dan minuman.
“Memasuki edisi ketiga, program Greenhouse Accelerator terus menjadi sarana yang efektif dalam menghadirkan ide-ide menjanjikan untuk menjawab tantangan keberlanjutan paling mendesak di Asia Pasifik,” ujar Anne Tse, Chief Executive Officer, PepsiCo Asia Pasifik (APAC) dalam rilis pers (24/04/2025), di Jakarta.
Program GHAC telah berkembang menjadi salah satu wadah utama untuk mendorong inovasi berkelanjutan di wilayah Asia Pasifik. Pada setiap edisi, GHAC hadir dengan fokus mendalam pada isu-isu utama di kawasan tersebut.Mulai dari regenerasi pertanian dan peningkatan efisiensi tanah, hingga solusi rendah karbon dalam pengemasan dan logistik.
Namun demikian, yang membedakan program ini adalah pendekatannya yang berbasis kolaborasi, di mana para pengusaha dapat mengembangkan solusi yang ditawarkan bersama para ahli dari PepsiCo, melakukan uji coba secara langsung di lapangan, serta menemukan cara praktis untuk mengembangkan inovasi tersebut dalam rantai nilai produksi makanan dan minuman.
“Kami melihat pemikiran-pemikiran berani yang mengakar pada konteks lokal namun tetap relevan secara global. Kami sangat antusias dalam mendukung para inovator tahap awal ini dan ikut belajar dari mereka, sembari mencari cara untuk memperluas penerapan solusi yang nyata dalam seluruh rantai nilai bisnis kami. Setiap edisi GHAC dapat memperkuat ekosistem para changemakers,” ujarnya.
Para finalis di ajang ini, antara lain Calyx.eco (Australia), Endua (Australia), Beijing AIForce Technology Co.Ltd. (China), Beijing Phabuilder Bioteknologi Co.Ltd. (China) Guangdong Databeyond Technology Co.Ltd. (China), Service Enviro SCAD Inc. (China), Shanghai Electric Group Co. Ltd. Central Academe (China), Circular Unite (Singapura). DEEGOLABs Inc (Korea Selatan)
Finalis Indonesia
Di Indonesia, salah satu inovator unggulan yang terpilih sebagai finalis GHAC tahun ini adalah Bali Waste Cycle (BWC). Dipimpin oleh Olivia Anastasia Padang, BWC memiliki visi untuk mendorong perubahan yang berdampak melalui model ekonomi sirkular yang mengintegrasikan pengelolaan sampah, konversi energi terbarukan, dan upcycling plastik bernilai rendah menjadi sumber daya yang bermanfaat.
“Program ini memberikan pendampingan, jaringan, dan sumber daya yang kami butuhkan untuk menyempurnakan strategi dan mengembangkan BWC LVP Regeneration Hub. Saya sangat antusias untuk mendapatkan berbagai wawasan terkait industri, mendapatkan berbagai akses sumber daya yang berharga, serta mengeksplorasi solusi inovatif yang meningkatkan transparansi, inklusivitas, dan ekonomi sirkular dalam pengelolaan limbah,” ujarnya.
BWC juga tengah mengembangkan BWC LVP Regeneration Hub – sebuah inisiatif yang memiliki tujuan untuk meningkatkan transparansi, inklusivitas, dan sirkularitas dalam ekosistem pengelolaan sampah lokal.
Dengan dukungan dari program ini, BWC berharap dapat memperkuat struktur operasional mereka serta meningkatkan potensi skalabilitas. Inisiatif mereka juga penting sebagai upaya untuk menetapkan standar baru dalam praktik berkelanjutan di kawasan kepulauan, seperti Indonesia, yang tidak hanya berfokus pada dampak lingkungan, tetapi juga menciptakan manfaat sosial jangka panjang bagi masyarakat yang terlibat dalam ekosistem tersebut.
Banyak dari finalis tahun ini yang juga berfokus pada tantangan sosial dan ekonomi, melalui penciptaan lapangan kerja yang inklusif dan pemberdayaan masyarakat. Masing-masing finalis, baik dari Australia, China, Indonesia, Singapura, maupun Korea Selatan, akan menerima dana hibah sebesar USD 20.000 (setara dengan IDR 330 juta) dan akses ke ekosistem global PepsiCo yang terdiri atas para ahli dan sumber daya pemasaran, serta komersialisasi pasar.
Mereka juga akan mengikuti sesi mentoring atau bimbingan oleh para eksekutif PepsiCo dan pakar akselerasi bisnis dengan modul pembelajaran yang telah disesuaikan. Hal ini bertujuan untuk membantu para inovator mengatasi hambatan pertumbuhan, menyempurnakan strategi bisnis, dan mengembangkan solusi yang siap diimplementasikan. Di akhir program, satu pemenang akan mendapatkan tambahan hibah sebesar USD 100.000 (setara dengan IDR 1.6 miliar) untuk mengembangkan inovasinya lebih lanjut.
Sejak diluncurkan, GHAC telah mengucurkan hibah lebih dari USD 1 juta (setara dengan IDR 16 miliar) dan meluncurkan 16 proyek percontohan di kawasan Asia Pasifik. Program ini juga telah berkontribusi pada uji coba dan kemitraan inovasi yang dikembangkan di lebih dari 11 pabrik dan lahan pertanian. Secara global, program Greenhouse Accelerator telah mendukung 112 perusahaan dan melibatkan lebih dari 200 mentor. Selain itu, sekitar 80% dari peserta program juga berhasil mendapatkan pendanaan lanjutan yang menunjukkan dampak signifikan program ini dalam mempercepat inovasi keberlanjutan.














