ItWorks
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
ItWorks
No Result
View All Result

Studi Ungkap Bagaimana Organisasi Mengelola Keamanan Siber

Fauzi
28 July 2025 | 10:38
rubrik: Research
Studi Ungkap Bagaimana Organisasi Mengelola Keamanan Siber

Ilustrasi, Image: Kaspersky

Share on FacebookShare on Twitter

Lewat studi berjudul “Improving resilience: cybersecurity through system immunity” Kaspersky mengeksplorasi bagaimana organisasi saat ini mengelola keamanan siber dan bagaimana mereka mempersiapkan diri menghadapi tantangan di masa depan.

Penelitian ini mensurvei 850 profesional TI yang bertanggung jawab atas keamanan siber di perusahaan-perusahaan besar di seluruh Kawasan Eropa, Amerika, Asia Pasifik, Rusia, dan Timur Tengah. Responden ini mewakili beragam industri dan jenjang organisasi, yang menawarkan pandangan komprehensif tentang postur keamanan dan permasalahan saat ini.

Secara spesifik, mayoritas profesional meyakini terdapat “sedikit” atau “beberapa” area yang dapat ditingkatkan, sementara satu dari empat profesional menganjurkan peningkatan yang signifikan. Temuan tersebut terungkap dalam survei global Kaspersky terbaru.

Survei tersebut mengungkapkan bahwa, meskipun tingkat kepuasannya tinggi—dengan 94% pakar menyatakan mereka “puas” hingga “sangat puas” dengan perlindungan mereka saat ini—keinginan akan pertahanan yang lebih kuat dan lebih adaptif tetap meluas. Meskipun hanya 6% responden yang menyatakan ketidakpuasan dengan langkah-langkah keamanan siber mereka, sebagian besar mengakui perlunya peningkatan. Secara spesifik, 76% meyakini ada “sedikit” atau “beberapa” area yang dapat ditingkatkan, sementara 22% menganjurkan peningkatan yang signifikan.

Tren ini konsisten di Kawasan Asia Pasifik, di mana 94% responden melaporkan “puas” hingga “sangat puas” dengan perlindungan mereka saat ini. Namun, 79% responden menyatakan “sedikit” hingga “beberapa” area dapat ditingkatkan, sementara 20% responden menekankan perlunya peningkatan yang signifikan. Di Indonesia sendiri, tingkat kepuasan berada di angka 97%, namun kebutuhan untuk perbaikan tetap jelas: 97% mengidentifikasi kesenjangan yang perlu diatasi dan 50% menyerukan perubahan substansial.

Secara global, ketika diminta untuk mengidentifikasi aspek terlemah dari sistem keamanan siber mereka yang ingin ditingkatkan, responden menyebutkan berbagai tantangan operasional dan teknis. Masalah yang paling umum diantara lain:

BACA JUGA:  TOP Digital Awards 2024: AI di Asian Bulk Logistics Bisa Deteksi Operator Lelah

• Proses manual yang memakan waktu berlebihan (30%);
• Perlindungan reaktif yang kurang mampu mendeteksi ancaman secara proaktif (29%);
• Kekurangan personel terampil (27%);
• Kompleksitas pengelolaan solusi yang berbeda-beda (23%).

Jelas, ketergantungan pada proses manual menyebabkan peningkatan overhead operasional dan keterlambatan dalam mengidentifikasi dan merespons ancaman, sementara tidak tersedianya deteksi ancaman proaktif mengurangi kemampuan untuk mencegah pelanggaran sebelum terjadi. Poin terpenting adalah pengelolaan sejumlah solusi keamanan yang berbeda-beda yang menyebabkan kesenjangan dalam cakupan, kesalahan konfigurasi, dan peningkatan risiko pengawasan, karena tim keamanan sulit menjaga pertahanan secara terintegrasi dan efektif di berbagai sistem. Fragmentasi ini menghambat waktu respon terhadap ancaman dan meningkatkan kemungkinan kerentanan yang terabaikan, hingga pada akhirnya melemahkan postur keamanan organisasi secara keseluruhan.

Di antara kelemahan kritis lainnya dari sistem keamanan siber mereka saat ini yang dicatat oleh responden adalah risiko tinggi kegagalan sistemik setelah pelanggaran (22%), lingkungan TI/OT yang terlalu kompleks (21%), dan intelijen ancaman yang ketinggalan zaman (20%). Kekhawatiran tambahan termasuk “kelelahan peringatan (alert fatigue)” (18%) dan fungsionalitas solusi saat ini yang tidak memadai (17%). Temuan ini menyoroti kebutuhan mendesak akan solusi keamanan yang efisien dan cerdas untuk mengatasi kerentanan ini secara efektif.

Tren global ini juga terjadi di Asia Pasifik, di mana para pakar regional juga mengidentifikasi kerentanan utama dalam sistem keamanan siber mereka. Kekhawatiran yang paling banyak diungkapkan meliputi perlindungan reaktif yang kurang dapat mendeteksi ancaman secara proaktif (29%), risiko tinggi kegagalan sistematis setelah pelanggaran (27%), dan tantangan dalam mengelola solusi keamanan yang berbeda-beda (26%). Beban operasional juga terus berlanjut dengan proses manual yang memakan waktu berlebihan (24%) dan lingkungan TI/OT yang kompleks (24%) sehingga menyulitkan penerapan langkah-langkah perlindungan efektif.

BACA JUGA:  realme Umumkan Pusat R&D Baru, Di Sini Teknologi Fast Charging 240W Itu Dikembangkan

Seiring upaya organisasi di seluruh dunia untuk memperkuat postur keamanan siber mereka, penelitian ini menyoroti bahwa, selain meningkatkan solusi keamanan siber tradisional, vendor juga berupaya mengembangkan pendekatan inovatif: beralih dari melindungi perangkat lunak yang rentan secara inheren dengan langkah-langkah keamanan terapan menjadi pembuatan sistem yang dirancang dengan aman dan tangguh. Sistem semacam itu mampu melindungi aset inti mereka bahkan ketika disusupi, seringkali dengan biaya keamanan siber tambahan minimal atau bahkan tanpa biaya tambahan apapun.

“Semakin banyak organisasi ymulai memahami bahwa tantangan modern tidak hanya membutuhkan perlindungan kuat, tetapi juga strategi keamanan proaktif dan kohesif yang memperkokoh setiap aspek lanskap digital mereka terhadap potensi pelanggaran. Itulah mengapa penting bagi perusahaan untuk mengadopsi pendekatan transformatif, mengintegrasikan intelijen ancaman canggih dan proses yang efisien, serta menerapkan solusi andal dan komprehensif untuk melindungi aset mereka sekaligus memastikan kelangsungan operasional dan membangun kepercayaan pelanggan,” komentar Alexander Kostyuchenko, Kepala Lini Produk Solusi Teknologi di Kaspersky.

“Kita berada di titik bahwa, keyakinan saja tidak menjamin ketahanan. Di Asia Pasifik, banyak organisasi beroperasi di lingkungan yang telah terfragmentasi, reaktif, dan sangat manual seiring waktu. Arsitektur TI dan keamanan siber yang diwariskan kini menghalangi perlindungan yang efektif. Penelitian ini menegaskan apa yang telah kita lihat di lapangan, bahwa ketahanan sejati tidak hanya membutuhkan alat yang lebih baik tetapi juga pemikiran desain yang lebih baik. Jelas bahwa masa depan adalah milik sistem yang aman sejak awal, bukan aman karena pertimbangan belakangan,” Adrian Hia, Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky.

Tags: AICyber SecurityGenerative AIKaspersky
Previous Post

Ini Tiga Jurus Komdigi Hadapi Ancaman Deepfake yang Makin Canggih

Next Post

Asosiasi Housewares Indonesia Siap Diresmikan Pada Pameran IGHE 2025

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP DIGITAL AWARDS

TOP Digital Awards 2026: PA Metro Kelas IA Perkuat Transformasi Digital untuk Perluas Akses Layanan Peradilan

TOP Digital Awards 2026: PA Metro Kelas IA Perkuat Transformasi Digital untuk Perluas Akses Layanan Peradilan

Mi’roji
28 September 2026 | 15:49

TOP Digital Awards 2026: Aplikasi SITUNTAS, Inovasi Andalan PA Jakpus Tingkatkan Layanan Masyarakat

TOP Digital Awards 2026: Aplikasi SITUNTAS, Inovasi Andalan PA Jakpus Tingkatkan Layanan Masyarakat

Ahmad Churi
22 September 2026 | 16:46

TOP Digital Awards 2026: Angkasa Pura Dorong Penerapan AI Efektif & Efisien Selaras Prinsip GCG

TOP Digital Awards 2026: Angkasa Pura Dorong Penerapan AI Efektif & Efisien Selaras Prinsip GCG

Fauzi
17 September 2026 | 23:06

TOP Digital Awards 2026: Transformasi Digital Pengadilan Agama Soreang, Permudah Akses Layanan bagi Pencari Keadilan

TOP Digital Awards 2026: Transformasi Digital Pengadilan Agama Soreang, Permudah Akses Layanan bagi Pencari Keadilan

Fauzi
11 September 2026 | 22:31

TOP Digital Awards 2026: Transformasi Digital Mitra Tours Dorong Efisiensi dan Pertumbuhan Bisnis

TOP Digital Awards 2026: Transformasi Digital Mitra Tours Dorong Efisiensi dan Pertumbuhan Bisnis

Ahmad Churi
11 September 2026 | 22:27

Load More

TERPOPULER

  • Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • MSI Group Kembali Gelar Ajang Corporate Rating TOP Digital Awards 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rimini Street Dorong Perusahaan Hadapi Era Post-Quantum Tanpa Ganti Seluruh Sistem

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Infinix Luncurkan GT NX Series, Hadirkan Mobile Gaming Presisi di Kelas Sejutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Acer Indonesia Hadirkan Program Perlindungan #5TahunSiapTempur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
iklan bni

ICT PROFILE

Google Cloud Tunjuk Karim Siregar Jadi Country Director untuk Indonesia

Google Cloud Tunjuk Karim Siregar Jadi Country Director untuk Indonesia

Fauzi
23 June 2026 | 14:43

Google Cloud menunjuk Karim Siregar sebagai Country Director untuk Indonesia. Karim akan memimpin operasional dan strategi pasar Google Cloud di...

Transformasi Digital Kian Gencar, Akamai Luncurkan Akamai Connected Cloud dan Layanan Baru

Tunjuk Fiona Zhang, Akamai Perkuat Strategi Channel-First Kawasan APJ

Fauzi
8 April 2026 | 16:26

Akamai menunjuk Fiona Zhang sebagai Wakil Presiden Regional Bidang Penjualan dan Program Saluran untuk kawasan Asia-Pasifik dan Jepang. Penunjukan Fiona...

EXPERT

Survei: 80% Perusahaan Nyatakan AI Masih Terhambat oleh Tantangan Akses Data

Agen AI Menguji Asumsi Keamanan Perusahaan

Fauzi
2 October 2026 | 15:36

Oleh: Carolyn Duby, Field CTO dan Cybersecurity Lead, Cloudera ItWorks.id - Pembahasan keamanan siber seputar AI sering kali berpusat pada...

Adopsi AI Makin Tinggi, Keamanan Siber Harus Diperkuat

Adopsi AI Makin Tinggi, Keamanan Siber Harus Diperkuat

Ahmad Churi
24 September 2026 | 16:30

Oleh: Sheila S. Fauzi Regional Marketing Manager, Concentrix. Dewasa ini perkembangan penggunaan atau adopsi teknologi kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia...

TIK TALKS

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

redaksi
16 August 2022 | 15:30

Di masa akan datang banyak aplikasi yang akan membutuhkan low latency connectivity. Lalu apa kaitannya dengan Edge DC yang hadir...

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

redaksi
15 August 2022 | 12:30

Bagaimana cara mengolah Big Data sehingga dapat divisualisasikan, serta bagaimana dapat melakukan analitik dan dapat memprediksikan apa yang harus dilakukan...

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Itworks - Inspire Great & Telco for Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto