ITWorks.id – Dalam upaya mengakselerasi peningkatan literasi keuangan, Bank Indonesia (BI) menerbitkan buku Kajian Pemetaan Kompetensi Literasi Keuangan Digital. Diharapkan ini menjadi referensi dalam melakukan kegiatan edukasi keuangan digital di Indonesia.
Keuangan inklusif tidak hanya sebagai respons terhadap perkembangan teknologi dan disrupsi digital, tetapi sebagai wujud komitmen pembangunan berkeadilan termasuk kesetaraan gender. Sejalan dengan itu akselerasi literasi keuangan digital juga memerlukan pendekatan yang inklusif.
Dalam hal ini, perempuan, UMKM, pelajar, masyarakat berpenghasilan rendah, pekerja migran, hingga masyarakat di daerah tertinggal, turut berperan aktif dalam pemanfaatan teknologi keuangan digital. Saatnya sekarang saatnya untuk bergerak bersama untuk menciptakan digital talent for all, demi terwujudnya ekosistem ekonomi digital yang berkeadilan.
Demikian beberapa poin penting yang mengemuka dalam diskusi bertajuk ‘Strategi Pengembangan Talenta Digital untuk Akselerasi Literasi Keuangan Digital’, di Jakarta International Convention Center (JICC), (9/8) dilansir portal web resmi BI, baru-baru ini. Diskusi ini digelar masih dalam rangkaian Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2025.
Sebagai upaya mengakselerasi peningkatan literasi keuangan, Bank Indonesia menerbitkan buku Kajian Pemetaan Kompetensi Literasi Keuangan Digital sebagai referensi dalam melakukan kegiatan edukasi keuangan digital di Indonesia.
Kegiatan rangkaian KKI 2025 juga diramaikan pameran UMKM, talkshow, dan business matching. KKI menjadi ajang memperluas akses pasar sekaligus mempercepat digitalisasi layanan keuangan. Kegiatan ini tidak hanya menampilkan produk kreatif, tetapi juga mengedukasi pelaku usaha dan masyarakat agar memanfaatkan layanan keuangan digital secara bijak.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi dalam acara tersebut menegaskan bahwa dalam transformasi keuangan digital, perempuan hadir tidak hanya sebagai penerima manfaat tetapi harus mampu menjadi agen perubahan.
“KKI 2025 sebagai forum yang tidak hanya hadir sebagai respons terhadap perkembangan teknologi dan disrupsi digital tetapi juga merupakan manifestasi nyata dari komitmen bersama untuk menciptakan literasi keuangan digital yang adil terutama bagi perempuan Indonesia,” kata Menteri Arifah.
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti menyampaikan bahwa di tengah akses keuangan digital berkembang begitu cepat, peningkatan literasi keuangan masih menjadi tantangan.
Survei Nasional Literasi Keuangan (SNLIK) OJK 2024 mencatat literasi keuangan Indonesia sebesar 66,46%, sedangkan hasil survei OECD 2023 menunjukkan skor Indonesia sebesar 57, di bawah rata-rata global 60,3. Untuk menjawab tantangan peningkatan literasi keuangan digital, peranan talenta-talenta digital yang memiliki karakter digital savvy dan technology savvy menjadi penting. Tidak hanya teknologi dan digital savvy, tetapi talenta digital ini juga diharapkan memiliki impact driven. Oleh karenanya komitmen dan konsistensi, inovasi, dan sinergi menjadi kunci untuk mewujudkan hal tesebut.
Deputi Gubernur Senior Destry menekankan bahwa ke depan, penguatan literasi keuangan harus dilakukan melalui edukasi yang relevan dan humanis, menggunakan pendekatan personal, inovatif, dan dinamis. “Bank Indonesia juga akan memperkuat literasi dan inklusi keuangan nasional melalui sinergi kebijakan, program edukasi, dan pemanfaatan teknologi digital. Sebagai upaya peningkatan inklusi keuangan, Bank Indonesia mengedepankan pendekatan kolaboratif dengan pemerintah, industri, akademisi, dan Masyarakat”, ujarnya.
Pihaknya juga mengajak seluruh pihak untuk bergandengan tangan membangun Indonesia yang tangguh secara finansial, inklusif secara digital, dan sejahtera secara menyeluruh.














