ItWorks-Teknologi memiliki peran besar untuk mendorong penguatan nilai ekonomi dari setiap Produk Unggulan Daerah (PUD) dan juga untuk daya saing global. Optimalisasi penguatan teknologi untuk PUD perlu ditingkatkian sekaligus untuk mendukung penguatan ekonomi di setiap daerah.
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 2014, Produk Unggulan Daerah (PUD) merupakan produk barang atau jasa yang dihasilkan oleh koperasi dan UMKM yang potensial untuk dikembangkan. PUD diharapkan menjadi kekuatan ekonomi bagi daerah dan masyarakat setempat sebagai produk potensial, yang memiliki daya saing, daya jual, dan daya dorong untuk memasuki pasar global. “Tentu dengan memanfaatkan semua sumber daya yang dimiliki, baik SDA, SDM, budaya lokal, untuk mendatangkan pendapatan bagi masyarakat maupun pemerintah daerah,” ungkap Sekretaris Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, Dadan Nugraha pada webinar BRIN Menyapa BRIDA (BMB), dirilis melalui portal web BRIN, baru-baru ini.
Menurutnya, dari definisi tersebut dapat ditarik beberapa kata kunci, misalnya produk mulai dari rakyat tentu bisa berupa barang, bisa juga berupa jasa. Penghasilnya, yaitu koperasi dan UMKM yang pas dengan konsep untuk menumbuhkembangkan usaha-usaha pada skala besar.“Jadi salah satu output penting di sini adalah kita bisa mengukur sebarapa jauh dari proses penumbuhkembangan kewirausahaan itu bisa berkontribusi terhadap pendapatan asli daerah,” ujarnya.
Untuk mendukung PUD agar memiliki daya saing dan nilai tambah lebih dari produk itu, perlu intervensi teknologi. “Hampir tidak mungkin kita bisa membuat satu produk atau jasa berdaya saing atau memberikan nilai tambah yang signifikan tanpa ada intervensi teknologi. Baik saat proses produksinya di dalam pengembangan produk maupun di dalam proses deliverinya,” ungkap Dadan.
Ia menggambarkan tentang peningkatan PUD ke kewirausahaan, mulai dari bahan mentah, produk antara atau barang setengah jadi, hingga ke barang jadi. “Kalau bicara sebuah produk tentu ada penciptaan dari produk bahan mentah ke barang setengah jadi. Pengelolaan dari bahan mentah ke barang setengah jadi ini yang peluangnya sangat terbuka, dan bisa dilakukan melalui UMKM atau koperasi. Sedangkan dari barang setengah jadi ke barang jadi harus melalui industri besar, karena perlu peralatan, mesin, dan investasi yang cukup besar,” terangnya.
Ia menambahkan, di satu daerah itu dari hulu ke hilir dipasok oleh kekuatan ekonomi yang ada di daerah itu saja. “Mungkin kalau lingkupnya kabupaten/kota bisa memenuhi kabupaten/kota itu. Kalau tidak, antar kabupaten/kota di provinsi yang sama, jadi betul-betul bisa menciptakan sebuah ekosistem industri berbasis kepada kemampuan lokal yang tersedia di wilayah tersebut,” urainya.
Di sinilah peran teknologi sebetulnya, imbuh Dadan, ada proses yang memerlukan dukungan teknologi, dukungan riset dengan peran serta para peneliti. “Bapak/ibu nanti di pemda, BRIDA/Balitbangda, bisa menjembatani antara kebutuhan atas teknologi tersebut dengan penghasil teknologi. Bisa juga dari universitas yang ada di daerah terdekat, atau melalui BRIN,” tuturnya.
Dalam hal ini juga perlu dukungan kebijakan dan kolaborasi dengan universitas untuk menjembatani kesenjangan teknologi, meningkatkan kualitas produk, umur simpan, serta pemasaran, terutama untuk ekspor. “Kami juga membuka kesempatan bagi bapak/ibu sebagai jembatan untuk menyampaikan apa saja kebutuhan teknologi yang dibutuhkan daerah yang nanti akan dihubungkan dengan para periset yang ada di BRIN. Banyak sekali hasil-hasil riset yang bisa dimanfaatkan untuk dikontribusikan dalam rangka penguatan UMKM maupun PUD,” jelasnya.
Ia juga membahas pentingnya inkubator kewirausahaan dalam mendukung bisnis baru, menyoroti tantangan seperti terbatasnya akses terhadap pendanaan, bahan baku, pasar, teknologi, dan inovasi.
Menurutnya, ada beberapa data dari berbagai lembaga yang relevan, seperti Kemendagri mencatat pada Maret 2025 rasio keberhasilan Indonesia secara nasional yaitu ada di angka37% atau 56 juta orang. Di mana yang 53,4 juta di antaranya itu merupakan pengusaha pemula dan hanya sedikit yang wirausaha. “Ini menarik, karena tipikal kewirausahaan atau UMKM kita itu biasanya muncul ada baru lagi, muncul ada baru lagi, kalau bapak/ibu googling angka-angka ini juga seringkali sangat dinamis. Makanya kalau kita lihat yang mapan itu hanya berada di angka 4% dari 56 juta kewirausahaan, ini juga tantangan,” beber Dadan.
Sementara itu R. Agus Sampurna mewakili Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN mengatakan, BRIDA/BAPPERIDA dapat mengoptimalkan nilai tambah dari produk unggulan daerah, ini bisa dilakukan melalui proses hilirisasi keunggulan daerah.
“Nilai tambah ini bisa berupa produk yang lebih bagus secara kualitas, efisien, produktivitas lebih tinggi, dan juga bisa menghasilkan lapangan kerja baru. Tentu tantangan hilirisasi akan sangat besar terutama jika kita ingin melakukan melalui penciptaan wirausaha baru melalui perusahaan pemula atau start up terlebih dahulu, jika perusahaan baru tersebut harus bersaing dengan perusahaan yg sudah eksis, baik itu nasional maupun asing,” ucapnya.














