Jakarta, Itech- Dirjen Kelembagaan Iptek dan Dikti Kementerian Ristek Dikti pada 2018 ini, akan memperluas program Pengembangan Pusat Unggulan Iptek (PUI) dengan tujuan agar lembaga litbang mampu menghasilkan produk iptek maupun produk inovasi yang berbasis demand/market driven dalam rangka mendukung peingkatan daya saing pengguna teknologi, misalnya seperti dunia usaha, industri kecil dan menengah, pemerintah, dan masyarakat.
Hal itu sesuai potensi ekonomi daerah-daerah dan tema/isu strategis dalam 7 program utama nasional dengan fokus utama pengembangan iptek di Kemenristekdikti yang mengacu pada RPJPN 2005-2025, yaitu ditujukan untuk mendukung pengembangan dan pemanfaatan iptek pada bidang-bidang sebagai berikut pangan, energi, teknologi dan manajemen transportasi, teknologi informasi dan komunikasi, teknologi pertahanan dan keamanan, teknologi kesehatan dan obat, dan material maju. Selain itu, diharapkan pula mendukung program Nawacita yaitu maritim, mitigasi bencana, kebijakan, dan sosial, budaya, dan humaniora.
Direktur Lembaga Litbang, Kemenristekdikti Kemal Prihatman menyebutkan, pada 2017 lalu, tercatat ada sekitar 1.600-an UKM, Petani, Nelayan yang menerima pelatihan maupun paket-paket teknologi. “Kemudian kita juga rencanakan di 2018, pada acara Hakteknas di Riau, juga akan melakukan model seperti itu, minimal sekitar 1.600-an penerima teknologi berupa pelatihan maupun hasil hasil dari PUI,” kata Kemal di sela Raker Pengembangan PUI Tahun 2018 yang dilaksanakan di Puspiptek Serpong, Selasa (6/2). Raker tersebut bertujuan untuk memperkuat sinergi pelaksanaan rencana kerja PUI 2018, mencakup kegiatan sourcing capacity, R&D Capacity dan disseminating capacity.
Sementara itu, Dirjen Kelembagaan Iptek dan Pendidikan Tinggi, Kementerian Ristekdikti Patdono Suwignyo mengatakan, PUI merupakan salah satu lembaga penelitian yang diandalkan untuk menghasilkan inovasi-inovasi. Desain bagi PUI yang sukses akan dilanjutkan menjadi Science Technopark (STP). ” Program Pengembangan PUI sangat menggembirakan, baik dari sisi jumlah maupun substansinya. Tahun lalu, produk-produk dari PUI sudah dipasarkan ke Uni Eropa melalui Innovation Expo 2017 di Eindhoven,” terangnya.
Disebutkan, tahun lalu beberapa PUI sudah bisa menjalin kerja sama dengan perusahaan-perusahaan maupun lembaga penelitian yang ada di Uni Eropa yakni sudah ada sekitar 20 kontrak kerja sama. “Kita harapkan tahun ini akan lahir PUI PUI yang unggul atau PUI mandiri, yang salah satu hasil penelitiannya sudah siap dipasarkan pada Innovation Expo di Jepang,” katanya. Salah satu produk unggulan dari PUI yang go-internasional di antaranya bunga lipstik.
Sementara untuk PUI yang mandiri sudah mencapai 48 dari 102 PUI yang sudah dilakukan pembinaan. ”48 PUI mandiri ini terdiri dari lembaga penelitian maupun perguruan tinggi yang hasil penelitiannya sudah berhasil atau sudah mulai diproduksi secara masal untuk dipasarkan di pasar lokal meskipun masih terbatas. Proses selanjutnya bagaimana meng skill up PUI ini untuk menjadi unit yang pemasarannya bisa tembus ke mancanegara,” tandas Patdono Suwignyo. (red/ju)














