Jakarta, Itech – Grab Indonesia tegas menolak kenaikan tarif jasa layanan transportasi online, menyusul tuntutan para mitra pengemudi ojek online yang menginginkan kenaikan tarif.
Ridzki Kramadibrata (Managing Director Grab Indonesia) mengatakan Grab berkomitmen meningkatkan pendapatan mitra driver Grab Indonesia tetapi tidak dengan kenaikan tarif secara ekstrim karena itu berpotensi menurunkan pendapatan pendapatan para mitra ojek online.
“Jadi kami tidak memenuhi permintaan tersebut,” tegas Ridzki.
Kenaikan tarif secara sepihak dan perhitungan yang kurang matang berpotensi menurunkan pendapatan. Apalagi, tuntutan kenaikan tarif lebih dari dua kali lipat sehingga mirip tarif kendaraan roda empat.
“Jika tarif dinaikan, maka ada potensi pengguna tidak jadi memesan GrabBike karena pelanggan cenderung lebih memilih menggunakan layanan mobil,” ujarnya.
Ia mencontohkan ketika saat ini tarif Rp2.000 per-KM dan mendapatkan 20 pemesanan dalam sehari, maka pendapatan mitra driver mencapai Rp 400 ribu. Ketika dinaikan menjadi Rp 4.000 per KM tapi kemudian pemesananya turun menjadi 7 dalam sehari, maka mitra hanya mengantongi pendapatan Rp 280 ribu.
Ridzki malah meragukan bahwa para mitra Grab yang melakukan demonstrasi merupakan perwakilan para mitra pengemudi karena pihak Grab selalu mengadakan pertemuan rutin dengan mitra pengemudi.
“Tolong dilihat apakah mereka mewakili mitra pengemudi. Karena kami berbicara dengan mitra pengemudi. Apakah permintaan itu bertanggung jawab karena akan berdampak pada ratusan ribu pengemudi kehilangan pendapatan besar,” papar Ridzki.
Grab Indonesia memanfaatkan teknologi machine learning-nya untuk meningkatkan pendapatan mitra driver-nya dan menentukan besaran tarif berdasarkan waktu dan tempat. “Tarif ini bersifat dinamis. Jadi pengemudi bisa meningkatkan pendapatannya, apallagi bila mereka mengikuti pola yang telah kami berikan,” pungkas Ridzki.














