Bagaimana Anda tahu dari mana asal minyak zaitun Anda?

Ketika Anda mengambil sebotol minyak zaitun extra virgin dari rak supermarket, seberapa yakin Anda bahwa itu benar-benar minyak zaitun seperti yang terlihat?

Buah zaitun telah menempuh perjalanan panjang: dari pohon ke pabrik, tempat minyak diekstraksi, yang kemudian berlanjut ke pabrik pembotolan sebelum didistribusikan lewat darat dan laut untuk mencapai toko.

Sayangnya, pada salah satu dari tahap ini, adalah mungkin pemalsuan terjadi.

“Penipuan di pasar minyak zaitun telah berlangsung sangat lama,” kata Susan Testa, direktur inovasi kuliner di Bellucci, produsen minyak zaitun Italia.

“Minyak biji mungkin saja ditambahkan, atau mungkin hanya mengandung sedikit persentase minyak Italia dan ditambahkan minyak dari negara lain, sementara labelnya tertulis Italia.”

Pada bulan Februari 2019, Badan Inspeksi Makanan Kanada (CFIA) memperingatkan bahwa panen zaitun yang buruk kemungkinan akan menyebabkan peningkatan besar untuk minyak zaitun yang ‘tercemar’.

Bagaimana Anda tahu dari mana asal minyak zaitun Anda?

Dan itu bukan satu-satunya produk yang terpengaruh, Knowledge Centre for Food Fraud and Quality Uni Eropa baru-baru ini juga menyoroti seringnya pemalsuan pada produk anggur, madu, ikan, produk susu, daging, dan unggas.

Selain itu, 40% dari perusahaan makanan percaya metode tradisional untuk melawan penipuan makanan sudah tidak berfungsi lagi, menurut penelitian dari PwC.

Pemasok makanan, seperti Bellucci yang berusaha untuk menjamin keaslian produk makanan mereka sendiri, menggunakan alat-alat baru seperti teknologi blockchain.

Terkenal karena perannya dalam mata uang kripto seperti Bitcoin, blockchain adalah cara menyimpan catatan di mana setiap blok data memiliki stempel menurut waktu dan dikaitkan secara permanen dengan yang terakhir, dengan cara yang tidak dapat diubah di tahap selanjutnya.

Teknologi blockchain memungkinkan untuk menyimpan catatan perjalanan produk yang aman ke rak supermarket.

Sejak perusahaan ini didirikan pada 2013, Bellucci bertujuan untuk membangun reputasi seputar keterlacakan minyaknya. Pelanggan dapat memasukkan jumlah lot botol tertentu ke dalam aplikasi untuk melihat asalnya yang tepat, hingga sampai ke kebun asal di mana buah zaitun dipanen.

Dan selama setahun terakhir, Bellucci telah memperkenalkan sistem berbasis blockchain, yang dibuat oleh Oracle, untuk mendukung penelusuran ini yang katanya akan membuat proses lebih efisien.

“Kami mengharapkan peningkatan pertukaran informasi di seluruh rantai pasokan,” kata Andrea Biagianti, kepala informasi untuk Certified Origins, perusahaan induk Bellucci.

“Kami juga ingin kemampuan [untuk] memiliki lebih banyak transparansi dalam rantai pasokan dan kepercayaan konsumen yang tulus.”

Jaringan Food Trust IBM, yang diluncurkan secara resmi akhir tahun lalu, menggunakan teknik serupa.

“Pada tahap pendaftaran, Anda menentukan produk dan propertinya – misalnya, spektrum optik yang Anda lihat ketika Anda melihat sebotol wiski,” jelas Andreas Kind, kepala blockchain di IBM Research.

Penampilan wiski direkam secara tepat di dalam blockchain, yang berarti bahwa uraiannya nanti tidak dapat diubah. Kemudian perusahaan transportasi, kontrol perbatasan, penyedia penyimpanan atau pengecer, dapat melihat apakah tampilan cairan tidak lagi sesuai dengan deskripsi atau “tanda tangan optik”.

Bagaimana Anda tahu dari mana asal minyak zaitun Anda?

Sementara itu, label yang memegang tamper-proofcryptoanchors” dipasang pada botol. Ini berisi komputer kecil yang menyimpan data produk – dienkripsi, atau disandikan, sehingga tidak dapat dirusak. Label ini akan pecah ketika botol dibuka.

Mengaitkan kemasan dan produk dengan cara ini menawarkan semacam bukti, kata Kind, “seperti ketika Anda membeli berlian dan mendapatkan sertifikat.”

IBM juga bekerja sama dengan jaringan supermarket AS, Walmart, yang meluncurkan sistem berbasis blockchain yang akan mengharuskan semua pemasok sayuran hijau, bersama dengan perusahaan pengemasan dan operator transportasi, untuk mengambil bagian.

Sementara itu, raksasa e-commerce Cina, Alibaba menggunakan blockchain untuk melacak produk makanan yang dikirim dari Australia dan Selandia Baru: pemasok seperti perusahaan susu terbesar Selandia Baru, Fonterra, telah mengadopsi teknologi ini. Tapi mereka melangkah lebih jauh.

“Selain teknologi blockchain, kerangka kerja ini juga akan menandai produk menggunakan kode QR untuk mengotentikasi, memverifikasi, mencatat, dan menyediakan pelaporan yang sedang berlangsung di seluruh siklus hidup produk,” kata presiden Fonterra untuk Cina daratan, Christina Zhu.

Bagaimana Anda tahu dari mana asal minyak zaitun Anda?

Salah satu produk yang disediakan oleh Fonterra adalah rincian nutrisi bayi Anmum, termasuk hasil inspeksi pabrik dan tes pengambilan sampel kualitas produk.

Tapi tidak hanya di bidang pelacakan rantai pasokan saja teknologi menyediakan jalan baru untuk mendeteksi penipuan makanan.

Dalam beberapa tahun terakhir, telah ada kemajuan dalam mengidentifikasi kecurangan makanan melalui pemeriksaan lebih dekat terhadap produk itu sendiri menggunakan analisis DNA.

Tapi pendekatan ini memiliki satu batasan besar: untuk mendeteksi bahan yang tidak sah, Anda harus tahu apa yang Anda cari. Jadi mungkin untuk menguji apakah, katakanlah, lasagna daging sapi mengandung daging kuda, tapi tidak mungkin memindai produk untuk mengetahui bahan-bahan yang tidak sah tanpa mengetahui terlebih dahulu apa yang mungkin terkandung di dalamnya.

Sekarang, Otoritas Keamanan Pangan Irlandia (FSAI) telah mengembangkan alat pemindaian baru yang dapat mengidentifikasi semua bahan dalam suatu produk, bersama dengan sumber biologis mereka. FSAI menggunakan Next Generation Sequencing (NGS) – metode pengujian skala besar yang memungkinkan seluruh genom untuk diurutkan dengan cepat.

FSAI telah menguji pemindai itu pada 45 sampel acak dan menemukan bahwa ada kandungan empat spesies tanaman yang tidak tercantum pada label.

Bagaimana Anda tahu dari mana asal minyak zaitun Anda?

Salah satunya adalah mustard – alergen yang dikenal yang harus selalu dinyatakan dengan jelas.

“Kami tidak perlu menunggu petunjuk lagi,” kata Dr Patrick O’Mahoney, kepala spesialis, ilmu dan teknologi pangan di FSIA. Namun demikian dia memperingatkan agar tidak menafsirkan hasil terlalu harfiah.

“Sebagai regulator, kita harus pragmatis tentang apa yang bisa jadi merupakan kesalahan pelabelan daripada kecurangan makanan,” katanya. “Kami mencari cara yang memiliki manfaat finansial yang jelas bagi seseorang.”

Sumber: bbc.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here