Kepala Lembaga Penerbangan dan Antaraksi Nasional (LAPAN) Prof. Dr. Thomas Djamaluddin menyebutkan, Indonesia sedang mengusahakan agar mampu meningkatkan teknologi keantariksaan di tengah keterbatasan yang ada.
Thomas menyampaikan program keantariksaan Indonesia terangkum dalam rencana induk keantariksaan 25 tahun, yaitu dalam rentang tahun 2016 hingga 2040.
“Ini adalah suatu upaya untuk menunjukkan bahwa Indonesia bercita-cita untuk turut berkiprah dalam dunia keantariksaan,” kata Thomas usai menjadi pembicara dalam acara peringatan 50 tahun pendaratan manusia di Bulan yang diselenggarakan di Pacific Place Jakarta, (29/7).
Artinya, menurut Thomas, Indonesia itu bercita-cita untuk membuat satelit sendiri serta meluncurkan satelit tersebut dari wahana dan bandara antariksa milik Indonesia sendiri.
“Saat itu terwujud, artinya Indonesia sudah menguasai aspek sains antariksa itu sendiri, teknologi antariksanya dan teknologi pemanfaatan citra satelit,” ujarnya.
Dengan segala keterbatasan anggaran dan sumber daya manusia, Indonesia saat ini sudah memiliki kemampuan untuk membuat satelit skala mikro.
“Yaitu satelit LAPAN A1 hingga A3. A ini merupakan kode eksperimen. Saat ini kita sedang menargetkan peluncuran satelit LAPAN A4 di tahun depan dan satelit LAPAN A5 di tahun 2022,” ujarnya.
Satelit LAPAN A5 ini, menurut Thomas, merupakan satelit konstalasi. Jumlahnya direncanakan akan ada delapan atau sembilan buah.
Baca: LAPAN Kembangkan Satelit untuk Pantau Ilegal Fishing
“LAPAN hanya akan membuat satu satelit saja. Sisanya akan ditawarkan pada pihak BUMN atau swasta. Sejauh ini sudah ada tanggapan dari Telkom,” ucap Thomas lebih lanjut.
Thomas menjelaskan bahwa satelit konstalasi ini merupakan satelit komunikasi data yang memiliki orbit rendah.
“Saat ini masih ada yang belum terpenuhi oleh satelit yang ada. Contohnya data gelombang laut yang terus menerus dikirimkan untuk memantau tsunami, dengan satelit yang ada biayanya cukup mahal. Sehingga dengan adanya satelit orbit rendah ini, diharapkan pengiriman tidak akan mengalami kendala dan biayanya juga menjadi lebih murah,” urainya.
Jadi pemantauan bencana akan dapat dikirimkan ke pusat-pusat pemantauan secara real time.
“Sehingga tindakan pencegahan maupun peringatan dini akan bisa disebarkan kepada masyarakat dalam tempo yang lebih cepat,” pungkasnya.
Lapan Butuh Lebih Banyak SDM Penerbangan dan Antariksa
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) membutuhkan dukungan lebih banyak sumber daya manusia (SDM) untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) bidang penerbangan dan antariksa.
“Kendala kita dalam pengembangan iptek penerbangan dan antariksa adalah keterbatasan anggaran dan SDM. Minat generasi muda pada iptek penerbangan dan antariksa sesungguhnya cukup besar,” kata Kepala Lapan Thomas Djamaluddin di Jakarta.
Namun, menurut Thomas, rekrutmen calon pegawai negeri sipil (CPNS) untuk peneliti dan perekayasa bidang penerbangan dan antariksa selama ini masih terbatas.
“Saat ini kami masih kekurangan SDM untuk mengerjakan program-program pengembangan iptek penerbangan dan antariksa,” ujarnya.
Baca: LAPAN Dukung Kebijakan Satu Peta Nasional dengan Teknologi UAV
Lapan berharap pemerintah menambah dan meningkatkan kualitas SDM bidang iptek sejalan dengan program pemerintah untuk membangun sumber daya manusia.
Thomas juga mengemukakan bahwa Lapan sedang berupaya mewujudkan visi Lapan menjadi pusat unggulan iptek penerbangan dan antariksa dalam usaha mewujudkan Indonesia yang maju dan mandiri.
“Dengan SDM yang unggul, kita pacu Indonesia yang maju dan mandiri. Tentu saja itu dibangun dengan membina SDM yang unggul di bidang iptek penerbangan dan antariksa,” katanya.














