Batan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) kini menyediakan sarana untuk belajar tingkah laku reaktor, dari jarak jauh. Itu disebut sebagai IRL (Internet Reactor Laboratorium).
“Fasilitas kami ini diakui oleh IAEA,” kata Fungsional Badan Tenaga Nuklir Nasional, Budi Prasetyo, di Jakarta (15/10/2019), dalam sesi Presentasi dan Wawancara dengan Dewan Juri TOP DIGITAL Awards 2019, sebuah award yang digelar oleh Majalah It Works di Jakarta, Selasa 15 Oktober 2019.
Budi menjelaskan bahwa untuk sarana belajar jarak jauh itu, yang digunakan adalah reaktor di Yogyakarta. Itu merupakan satu dari tiga reaktor nuklir yang dipunyai Indonesia.
Dijelaskannya, di dunia tidak banyak yang punya fasilitas IRL. Untuk global, hanya ada sekitar lima fasilitas seperti itu, dan satu di antara itu di Indonesia. “Selain Indonesia, fasilitas seperti itu ada di Perancis, Argentina, dan lain-lain,” Budi menambahkan.
Monitor Berbasis TIK
Dalam kesempatan itu, Budi pun menjelaskan implementasi TIK (teknologi informasi dan komunikasi) yang sudah ada di Batan. Satu di antara itu adalah pemonitoran lingkungan berbasis sistem TIK. “Fasilitas ini sangat diperlukan. Sebabnya, nuklir itu berisiko tinggi dan harus dimonitor dalam 24 jam,” ucap Budi.
Untuk memantau partikel lepasan, misalnya, TIK sangat memudahkan. Di sini, pemantauan tersebut bisa dimonitor dari jarak jauh menggunakan peranti bergerak seperti telepon genggam cerdas (smartphone).
Dijelaskan pula oleh Budi bahwa, pada prinsipnya, semua aplikasi TIK di Batan dikembangkan secara internal. Hal ini disebabkan pertimbangan keamanan aplikasi tersebut.
“Ada banyak aplikasi TIK di Batan.Kalau yang sedang dikembangkan adalah tanda tangan digital. Ini dalam proses dengan BSSN,” kata Budi lagi.
Pada prinsipnya, semua aplikasi TIK diarahkan untuk mendukung proses bisnis di Batan. Itu baik dari aspek manajerial atau juga aspek teknis pelaksanaan litbang bidang nuklir.
Penulis: Adhito














