Indonesia saat ini masih berada di posisi 85 dalam daftar Indeks Inovasi Dunia 2019. Posisi tersebut di bawah Brunei Darussalam yang masuk di 71 dan bahkan tertinggal jauh dari Malaysia yang berada di posisi 35.
Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza mengungkapkan ketertinggalan Indonesia dalam hal inovasi disebabkan karena bidang penelitian dan pengembangan (litbang) yang sulit berkembang di Indonesia. Hal tersebut disebabkan karena masih kurang masifnya investasi di bidang litbang.
“Masalahnya kita tuh tidak melaksanakan investasi RnD (Research and Development),” ujar Hammam dalam acara Data SecurAi: Facilitating Enterprise, Market, Regulator, Academic in Data Security & AI Analytics di JCC Senayan, Jakarta.
Selain itu, Hammam juga mengungkapkan investasi di bidang litbang mayoritasnya masih dilakukan oleh pemerintah. Hammam menemukan sektor industri dan swasta masih minim dalam berinvestasi di bidang litbang.
Sebagai informasi, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) Ismunandar dalam acara yang sama memaparkan APBN menopang 83,88 persen untuk litbang. Sementara sisanya ditopang oleh sektor perguruan tinggi sebesar 2,65 persen, perusahaan bisnis 9,15 persen, dan swasta 4,33 persen.
Atas dasar tersebut, Hammam mengatakan saat ini pemerintah berencana untuk memberikan stimulus berupa tax deduction kepada swasta yang menjalankan litbang. Hammam berharap rencana tersebut dalam implementasinya dapat mengembangkan litbang nasional.
“Kalau Anda melaksanakan litbang (dan) mengeluarkan uang Rp100 juta, tax pajak dari perusahaan itu dipotong Rp300 juta. Supaya kita mau invest untuk litbang. Supaya kita bisa naik peringkat,” kata Hammam dalam siaran persnya, Minggu (8/3)














