Siapakah Penguasa Pasar Smartphone di Indonesia?, Bukan Samsung

Penulis adam

Pasar smartphone Indonesia mengalami banyak perubahan pada awal tahun 2020, menyusul pandemi COVID-19 yang menahan laju bisnis di industri smartphone.

Menurut riset terbaru dari lembaga analis pasar smartphone, International Data Corporation (IDC), pada kuartal pertama 2020, pengiriman smartphone ke pasar Indonesia mencapai 7,5 juta unit, turun sebesar -7,3 persen dibanding periode yang sama tahun lalu (Year-over-Year/YoY) dan turun -24,1 persen daripada quartal sebelumnya (Quarter-on-Quarter/QoQ). Ini rekor terendah baru dalam dua tahun terakhir.

Sementara daftar merek smartphone terlaris di Indonesia juga mengalami perubahan, termasuk posisi teratas alias ‘sang raja’. Untuk kuartal pertama 2020, brand ponsel pintar Vivo menduduki posisi nomor satu, menggeser Oppo yang sebelumnya memimpin pada laporan kuartal keempat 2019 lalu.

“Vivo menjadi pemimpin pasar untuk pertama kalinya pada tahun 1Q20 dengan berfokus pada kegiatan pemasaran dan berbagai kegiatan promosi untuk smartphone kelas low-end dan midrange, yang sangat sesuai untuk pasar Indonesia yang sadar harga,” ungkap Risky Febrian, Market Analyst, Client Devices, di IDC dalam siaran persnya, Jumat (22/5).

Di bawah Vivo, bertengger Oppo di peringkat kedua. Sementara, Samsung, Xiaomi, dan Realme mengekor di belakangnya dalam daftar lima besar penguasa pasar smartphone di Indonesia pada kuartal pertama 2020.

Berikut daftar detailnya lengkapnya:

Vivo
Oppo
Samsung
Xiaomi
Realme

Rizky menjelaskan, Samsung dan Realme mengalami dampak dari adanya pandemi COVID-19 di Indonesia. Pengiriman produk dari kedua produsen smartphone itu terhambat sehingga mempengaruhkan pasokan di pasar.

“Samsung memperbarui lini produknya dan terus menjadi salah satu pemain top di pasar Indonesia dengan seri Galaxy A yang terjangkau. Namun, pengiriman produk berkurang akibat adanya gangguan pada pasokan. Realme mengalami dampak akibat pandemi, yang menyebabkan pengirimannya menurun di 1Q20,” jelasnya.

Rizky juga menjelaskan, penurunan pengiriman smartphone masih akan terus terjadi hingga kuartal berikutnya. Beberapa merek akan mampu mempertahankan bisnis mereka dikarenakan fasilitas produksi lokal dan pasokan komponen yang aman untuk dua bulan pertama kuartal ini, dengan gangguan pasokan yang hanya dialami pada Maret 2020.

Di samping itu, imbas dari implementasi aturan blokir ponsel BM melalui nomor IMEI cukup memberi angin segar kepada seluruh produsen smartphone di Indonesia.

“Terlepas dari turbulensi akibat COVID-19, implementasi peraturan registrasi IMEI terus menjadi faktor positif yang berkelanjutan untuk industri smartphone lokal, karena bertujuan untuk mengurangi impor unit ilegal dan mempromosikan konsumsi smartphone yang dibuat secara lokal di Indonesia, yang akan bermanfaat bagi lokal industri dalam jangka panjang,“ pungkas Risky.

BACA JUGA

Leave a Comment