Jakarta, Itech – inovasi merupakan kata kunci dalam menghasilkan produk yang inovatif. Faktor untuk mendukung lahirnya inovasi adalah sumber daya manusia (SDM), infrastruktur, kelembagaan, dan jaringan. Contohnya, kesepakatan bersama antara Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek) dengan Balitbangnovda di Sumatera Selatan ini dalam ngimplementasikan Sistem Inovasi Daerah (SIDa), membuat sinergi kelembagaan daerah agar bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai tambah yang tinggi.
Secara umum, Kemristek mendorong industri kreatif di daerah agar dapat menghasilkan nilai tambah, dapat dijual, serta memberikan kesejahteraan untuk masyarakat. Pasalnya, industri kreatif memiliki proses nilai tambah dari eksplorasi intelektual yang dapat dijual dan memberikan kesejahteraan untuk masyarakat.
Menristek Gusti Muhammad Hatta dalam sambutan tertulis pada peringatan puncak Hakteknas ke-19 Tingkat Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2014, yang dibacakan Deputi Bidang Relevansi dan Produktivitas Iptek, Agus Puji Prasetyono di Palembang, Senin (15/9) kemarin memaparkan mengenai ide dan gagasan suatu karya teknologi iptek yang diusung harus orisinil. Selain orisinil, inovasi atau karya juga harus bermanfaat bagi masyarakat serta berdaya saing tinggi. Sebab, pada tahun 2015 mendatang Indonesia akan menghadapi tantangan sekaligus peluang, yakni era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), di mana mereka yang kuat akan meraih keuntungan yang besar.
Saat ini Indonesia menghadapi tantangan regional dan nasional. Penduduk besar dan daya beli tinggi adalah pasar potensial. Namun, Menristek mengingatkan akan adanya tantangan yang disebut middle income trap, yakni situasi pembangunan ekonomi saat negara mencapai income tertentu (karena kelebihannya), tetapi berhenti pada level tersebut.
Sementara itu, Kepala Balitbangnovda Sumatera Selatan, Ekowati Retnaningsih menjelaskan, pengembangan Sistem Inovasi Daerah di Sumsel dilakukan dengan basis potensi wilayah yang diimplementasikan melalui pengembangan Desa Inovasi, antara lain pengembangan Desa Inovasi di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, serta Desa Inovasi Berbasis Ikan di Kabupaten Musi Banyuasin. “Pada masa mendatang kami akan mengembangkan desa-desa inovasi lainnya di berbagai daerah di Sumsel melalui pembentukan Jejaring Intermediator Teknologi dalam Sistem Pendayagunaan Hasil Litbang,” tandasnya.
Pada kesempatan yang sama, Gubernur Sumatera Selatan, Alex Noerdin menuturkan setiap daerah harus memiliki sikap konsisten dalam meneruskan program pembangunan. Misalnya Balitbangnovda Sumsel, yang selama empat tahun berturut-turut terpilih sebagai Balitbang terbaik di Indonesia. Keberhasilan lembaga tersebut dikarenakan konsisten dalam mengawal program-program litbang dan inovasi, di samping anggaran risetnya cukup besar. Sebagai contoh, saat ini sedang dibangun Kebun Raya Sumsel yang akan dijadikan tempat penelitian di bidang konservasi tanaman. Selain itu, kebun raya tersebut nantinya memiliki fungsi sebagai pusat penelitian pendidikan, pengolahan hilir untuk pariwisata, serta pemberdayaan masyarakat di sekitar kebun raya.
Ketika disinggung soal belum majunya Indonesia di bidang teknologi, Alex menilai hal ini disebabkan adanya anggaran riset yang kecil serta tidak konsistennya program prioritas pemerintah. Anggaran untuk riset di Indonesia terlalu kecil, hanya 0,08 persen dari GDP (Gross Domestic Product, red). Padahal, idealnya minimal 1 persen dari GDP. Minimnya alokasi anggaran penelitian tersebut masih ditambah dengan tidak didukungnya program prioritas pembangunan secara berkelanjutan dan konsisten. “Sekarang ini, yang terjadi memang tidak konsisten. Setiap pemerintahan baru, maka program yang sudah ada sebelumnya tidak dilanjutkan, diganti dengan program baru. Itu tidak hanya di bidang teknologi, tetapi juga terjadi di bidang kesehatan, pendidikan dan lainnya,” kritik Alex. (ant/ju)














