Laporan “Ericsson Mobility Report” memperkirakan teknologi 5G dapat mencakup 21 persen pelanggan seluler pada 2025.
Menurut Country Head of Ericsson Indonesia, Jerry Soper, pandemi Covid-19 mengubah kehidupan sehari-hari dan menyadarkan banyak pihak bahwa konektivitas sangat penting saat ini.
“Kami melihat dampak Covid-19 bagi seluruh negara di dunia, dan seluruh operator di dunia bekerja keras untuk memastikan jaringan dapat berjalan baik,” ujar Jerry Soper, dalam pertemuan virtual, Selasa, 23/6.
“Perpindahan tempat kerja atau proses belajar ke rumah telah menunjukkan pertumbuhan data traffic dari bisnis ke perumahan bergeser dengan cepat. Hal ini semakin menunjukkan pentingnya konektivitas,” dia menambahkan.
“Keberhasilan 5G tidak hanya diukur dari jumlah pelanggan yang tinggi, karena dampak dari teknologi ini pada akhirnya juga dinilai dari manfaatnya bagi masyarakat dan pelaku usaha,” kata Country Head of Ericsson Indonesia, Jerry Soper.
Teknologi 5G, platform yang dibuat untuk inovasi, akan merumuskan ulang cara orang berinteraksi, cara masyarakat melakukan kegiatan sehari-hari, serta cara bisnis bekerja.
Sementara pertumbuhan jumlah pelanggan 5G di beberapa negara melambat akibat pandemi, Ericsson melihat pertumbuhan jumlah pelanggan 5G di beberapa negara lain justru terus meningkat.
Hal ini mendorong Ericsson meningkatkan perkiraan pertumbuhan jumlah pelanggan 5G secara global hingga akhir 2020.
Ericsson memperkirakan jumlah pelanggan 5G di seluruh dunia mencapai 190 juta pada akhir 2020, dan 2,8 miliar pada akhir 2025.
Baca: Ericsson Mobility Report: Penyerapan 5G Lebih Cepat Dari Perkiraan














