Digitalisasi proses bisnis yang digabungkan dengan industrialisasi di beberapa sektor akan mempercepat pemulihan ekonomi setelah pandemi Covid-19.
Setelah pandemi, perekonomian mampu tumbuh lebih kuat, inklusif, seimbang, dan berkelanjutan kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam sebuah webminar di Jakarta, 14/7.
Pemerintah akan terus mengharmonisasi kebijakan fiskal dan moneter. Tujuannya untuk menciptakan permintaan dan mendukung kelanjutan bisnis sebagai komitmen dalam pemulihan ekonomi nasional.
Ia juga menjelaskan selama pandemi, perusahaan yang mengedepankan teknologi digital dan beroperasi dalam bidang pembayaran digital, logistik, kesehatan, teknologi informasi dan edukasi yang menjadi pemenang.
Untuk bisnis yang luar sektor digital, sektor yang mencatatkan pertumbuhan positif, yakni rokok, batu bara, makanan pokok, farmasi dan kesehatan, serta minyak nabati.
Sementara itu, sektor usaha yang terpaksa harus menelan pil pahit akibat pandemi Covid-19 adalah sektor pariwisata, jasa tidak esensial dan lainnya.
“Pandemi ini menimbulkan momentum reformasi struktural dan ekonomi, peningkatan keahlian, mengubah metode bisnis offline ke online, serta menguatkan digitalisasi aktivitas ekonomi dan sosial,” kata Airlangga.
“Kita harus memastikan sektor pemenang itu terus bertahan, sedangkan sektor yang sangat terkena imbasnya harus diberi perhatian penuh supaya dapat kembali beraktivitas, mempekerjakan kembali dan mengembalikan daya beli masyarakat,” katanya.
Pada penerapan bisnis, digitalisasi melakukan transformasi proses bisnis, fungsi dan model bisnis diaplikasikan pada teknologi digital. Sederhananya digitalisasi bisnis merupakan proses transformasi bisnis dari konsep konvensional menjadi virtual, meliputi proses transaksi dan penerapan sistem perusahaan.














