Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan sinergi ‘triple helix’ (akademisi, pengusaha dan pemerintah) sebagai kunci utama penguatan inovasi bangsa Indonesia pada peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-25.
Hal itu disampaikan Menristek Bambang dalam Seminar dan Pameran Virtual Hakteknas ke-25 yang berjudul Pameran Virtual Inovasi Karya Teknologi dan Manajemen Penanganan COVID-19.
Triple helix merupakan sinergi antara akademisi, industri dan pemerintah sehingga seluruh hasil riset dan inovasi yang dihasilkan para akademisi bisa menjawab kebutuhan bangsa dan industri serta dapat dihilirisasi.
“Pada peringatan Hakteknas ini saya ingatkan kembali, Indonesia harus bertransformasi dari ‘efficiency driven economy‘ menjadi ‘innovation driven economy‘, dengan menggerakkan perekonomian dengan basis pemanfaatan teknologi dan menjadi negara maju melalui pemanfaatan inovasi dan teknologi,” kata Menristek Bambang dalam siaran pers, 11/8.
Menristek Bambang menuturkan untuk mewujudkan Indonesia menjadi 10 besar perekonomian dunia pada 2030 dan negara maju pada 2045, maka diperlukan perubahan paradigma dalam hal penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dan inovasi oleh sumber daya manusia Indonesia, sebagai basis pengembangan dan penguatan daya saing bangsa.
Pada peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-25, Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek) mengadakan seminar dan pameran teknologi virtual bersama 34 perguruan tinggi se-Indonesia.
Kegiatan itu diadakan melalui kerja sama Kemristek/BRIN, Forum Dekan Teknik Indonesia (FDTI), dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pameran teknologi virtual tersebut merupakan kegiatan pertama di Indonesia dan menggunakan aplikasi pertemua virtual akibat kondisi pandemi saat ini.
Baca: Menristekdikti Berikan Penghargaan Anugerah IPTEK Inovasi 2018














