Jakarta, Itech- Dunia mengalami krisis isotop untuk deteksi penyakit dan terapi pada kedokteran nuklir. Belakangan Isotop Mo 99 yang hanya diproduksi oleh Belanda dan Kanada, jumlah produksinya berkurang. Bagaimana dengan di Indonesia?
Di Indonesia juga disinyalir mengalami kelangkaan Isotop. Dugaan kuat karena makin membengkaknya permintaan isotop dari sejumlah rumah sakit terutama sejak adanya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola BPJS. Sementara PT Industri Nuklir Indonesia yang memproduksi isotop berhenti beroperasi akibat penuaan fasilitas produksi.
“RSG-GAS saat ini dalam kondisi prima memberikan layanan terbaik kepada pengguna jasa irradiasi sesuai dengan jadwal yang tersedia,” kata Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Djarot Sulistio Wisnubroto kepada wartawan di Jakarta, Jumat (21/11). Karenanya, dia membantah kalau kelangkaan isotop karena ketidakmampuan reaktor RSG-GAS memenuhinya. Sepanjang tahun 2014, RSG-GAS memang hanya beroperasi 104 hari untuk memenuhi permintaan isotop dari 15 rumah sakit.
PRSG mengoperasikan reaktor untuk memberikan layanan irradiasi kepada para penggunanya yang telah terintegrasi dan melalui tahapan seleksi keselamatan yang ketat. Untuk itulah PRSG menerapkan manajemen keselamatan sebagai prioritas utama dalam mengoperasikan reaktor RSG-GAS dengan moto memberikan layanan terbaik berazazkan keselamatan dan keamanan lingkungan. Isotop untuk keperluan kesehatan diproduksi oleh RSG-GAS sesuai dengan kemampuan fabrikasinya dapat dihasilkan 200 Currie/minggu, jumlah ini masih dapat ditingkatkan lagi 300 Currie/minggu.
Ditambahkan, isotop itu adalah alat diagnosa yang paling ampuh.Fungsi isotop adalah mendeteksi penyakit pada tubuh manusia dan melakukan terapi terhadap kanker tiroid, fungsi ginjal serta penggunaan alat kedokteran lainnya. Isotop lainnya yang diperlukan adalah I-131 yang bermanfaat untuk mengobati kanker tiroid.Isotop sendiri dihasilkan dari proses pengolahan uranium di reaktor nuklir. Isotop Mo 99 bisa menghasilkan Tc-99 yang bermanfaat untuk memberi citra penyakit yang diderita pasien ketika masuk ke dalam tubuh. (*)














