Penelitian yang dilakukan perusahaan keamanan siber Kaspersky mengungkap bahwa pengguna pembayaran digital di Asia Tenggara menyadari isu-isu yang menghambat UMKM dalam merangkul teknologi tersebut.
Lebih dari seperempat (27%) dari total responden mengatakan mengakui bahwa bisnis lokal belum siap menggunakan pembayaran digital karena masalah internet dan kurangnya perangkat.
Pandangan ini tertinggi di Filipina (31%), diikuti oleh Vietnam (30%), Indonesia (29%) dan Thailand (28%). Sedangkan Malaysia (21%) dan Singapura (20%) mencatat angka yang rendah untuk perspektif ini.
Namun, lain halnya ketika penyedia e-commerce atau penjual menjadi sasaran dari serangan siber. Survei menunjukkan bahwa kepercayaan konsumen untuk berbelanja di toko yang mengalami pelanggaran data turun 42% secara umum.
“Perlu dicatat bahwa sementara konsumen merangkul gaya hidup digital dan mempercayai alat-alat ini yang membuat transaksi keuangan mereka lancar dan cepat, mereka juga mulai mendapatkan kesadaran akan bahaya dan risiko ancaman dunia maya dalam kehidupan pribadi mereka,” kata Yeo Siang Tiong, General Manager untuk Asia Tenggara di Kaspersky, dalam keterangannya, 18/04/2022.
“Untuk menempatkan segala sesuatunya dalam perspektif, kerugian pelanggaran data di UMKM meningkat sebesar 54% tetapi dengan deteksi pelanggaran secara dini, kerugian rata-rata akan turun 17% lebih rendah. UMKM sekarang berada di posisi mempercepat transformasi digital mereka. Perubahan signifikan terhadap tuntutan dan harapan konsumen tidak bisa lagi diabaikan atau mereka mungkin memutuskan untuk membawa bisnisnya ke tempat lain. Saya menyarankan UMKM sekarang untuk bertindak dan mengendarai gelombang, untuk mengambil sikap dalam menjawab tantangan ini.” tambah Yeo.
Laporan Kaspersky “Mapping a digitally secure path for the future of payments in APAC” dilakukan oleh lembaga penelitian YouGov di wilayah utama di Asia Pasifik, termasuk Australia, Cina, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Korea Selatan, Thailand, dan Vietnam (10 negara).
Tanggapan survei dikumpulkan pada Juli 2021 dengan total 1.618 responden yang disurvei di seluruh negara yang disebutkan. Responden berkisar antara 18-65 tahun, yang seluruhnya merupakan pekerja profesional dan pengguna pembayaran digital.
Baca: Penelitian: UMKM Di Asia Tenggara Harus Menggunakan Pembayaran Digital














