Tidak seperti tech startup kebanyakan yang biasanya hadir di kota-kota besar, aplikasi Dagangan memilih cara berbeda dengan memfokuskan layanannya pada wilayah rural (kota-kota tier 3 dan 4). Langkah tersebut tentu dilakukan bukan tanpa alasan. Pasalnya, sebagai platform social Commerce aplikasi Dagangan memang ditujukan bagi para konsumen yang kebanyakan UMKM atau pemilik warung kecil di wilayah rural.
Saat ini, seperti diungkap Wilson Yanaprasetya, Co-Founder Dagangan, platform social commerce ini sudah memiliki 40 hub (gudang penyimpanan) yang tersebar di wilayah Jawa Tengah, Jawa Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Hub yang dimiliki Dagangan memiliki luas lebih dari 300 meter persegi dan setiap hub disebut mampu menjangkau konsumen dengan luasan daerah hingga 30 – 50 kilo meter.
Seperti ditegaskan Wilson, model yang diterapkan perusahaan di aplikasi Dagangan merupakan cara yang paling optimal dan menjawab permasalahan banyak orang.
“Kalau kita membangun produk, di mana produk itu solve a problem, (maka) itu benar-benar bisa di make sure (dipastikan) yang orang-orang benar-benar perlu, saya sebenarnya yakin itu adalah ciri-ciri dari konsep untuk membangun suatu perusahaan yang sustainable. Dan kita yakin kita punya model ini sudah terbukti di desa, cara kita melakukan ini, itu cara yang paling optimal. Kita tak perlu memiliki banyak gudang, kita ngga perlu memiliki banyak bisnis model. Yang perlu adalah bagaimana caranya kita bisa mengirim barang dengan 24 jam ke orang-orang di desa ini. Fokusnya adalah kita solve mereka punya isu hari ini, dan untuk solve isu, bisnis model mengikuti,” tandas Wilson.
Aplikasi Dagangan disebut telah membantu para pemilik warung, di mana mereka memiliki waktu lebih banyak lantaran untuk belanja barang dagangan tidak lagi perlu ke pasar. “Dan juga di pasar itu harganya belum tentu lebih murah, karena pasar basah di daerah harganya lebih mahal dari pasar induk,” ungkap Wilson saat media visit ke salah satu hub Dangangan di Kendal beberapa waktu lalu.
Mengenai kemudahan yang ditawarkan aplikasi Dagangan, hal itu juga diungkap oleh salah seorang pedagang warung di Kendal, wilayah di mana salah satu hub Dagangan berada.
“Jadi sejak ada aplikasi Dagangan ini, (belanja dagangan) jadi lebih mudah, (kita) ngga usah tutup warung (barang dikirim),” ungkap Endang Purwanti pemilik warung yang juga konsumen dari aplikasi Dagangan.
Tidak hanya mudah, Endang juga mengakui sejak menggunakan aplikasi Dagangan omset warungnya juga mengalami kenaikan pendapatan. “Omset, Alhamdulillah banyak kenaikannya. Dulu ratusan ribu, sekarang dapat jutaan. Karena jarang tutupnya,” jelas Endang.
Di saat ramai, kata Endang, omset warungnya kini bisa mencapai Rp5 juta. “Kalau dulu sebelum kenal Dagangan, satu juta itu sudah ngoyo,” ujarnya.
Dalam sebuah keterangan, disebutkan bahwa dalam waktu tiga tahun sejak berdiri, Dagangan mengalami pertumbuhan signifikan, di mana di semester pertama tahun 2022 mengalami peningkatan 5 kali dari periode sama tahun lalu. Selain itu, tercatat 60% kenaikan pendapatan untuk pelaku UMKM di desa jangkauan Dagangan. Untuk total pengguna, saat ini Dagangan telah memiliki 30.000+ pengguna aktif dengan lebih dari 500.000+ transaksi belanja bulanan melalui Aplikasi dan Situs Web.














