Jakarta, ItWorks- Kejahatan siber malware mobile banking dan phishing sektor finansial masih menjadi ancaman yang signifikan, hingga menyumbang hingga 27,32% dari seluruh serangan phishing terhadap pengguna korporat dan 30,68% terhadap pengguna individu. Pengguna mobile banking perlu lebih hati-hati dan waspada dengan adanya tren peningkatan kejahatan siber yang menyasar sektor ini.
Kejahatan dengan modus phishing merupakan bentuk penipuan dimana penyerang mencoba untuk mendapatkan informasi pribadi, seperti kata sandi, nomor kartu kredit, atau informasi keuangan lainnya, dengan membohongi korban untuk mengungkapkannya secara sukarela. Sepanjang tahun 2023 ancaman siber finansial yang terus berkembang dan terjadi peningkatan signifikan dalam malware mobile banking dan phishing terkait aset kripto.
Demikian dilansir Kaspersky dalam rilis bertajuk “Laporan Ancaman Keuangan tahunannya untuk tahun 2023” yang dirilis (08/05/2024), di Jakarta. Laporan tersebut mengungkapkan peningkatan signifikan dalam malware mobile banking dan phishing terkait aset kripto, sekaligus menandakan meningkatnya ancaman terhadap aset keuangan digital.
Disebutkan, dalam 12 bulan terakhir telah terjadi peningkatan substansial dalam jumlah pengguna yang menghadapi Trojan mobile banking, dengan serangan terhadap pengguna Android melonjak sebesar 32%. Berbeda dengan tahun 2022. Trojan perbankan yang paling umum adalah Bian.h, yang mencakup 22% dari seluruh serangan Android. Secara geografis, Afghanistan, Turkmenistan, dan Tajikistan mencatat jumlah tertinggi pengguna yang menghadapi Trojan perbankan, Turki memimpin serangan malware mobile banking, dengan hampir tiga persen pengguna terkena dampaknya (2,98%).
Meskipun jumlah pengguna yang terkena dampak malware PC finansial mengalami penurunan sebesar 11% pada tahun 2023, Ramnit dan Zbot diidentifikasi sebagai kelompok malware yang paling dominan, dan menargetkan lebih dari 50 % pengguna yang terkena dampak. Konsumen terus menjadi target utama, mencakup 61,2% dari seluruh serangan.
Pada tahun 2023, phishing finansial masih menjadi ancaman yang signifikan, menyumbang 27,32% dari seluruh serangan phishing terhadap pengguna korporat dan 30,68% terhadap pengguna individu. Merek toko elektronik ternama diidentifikasi sebagai daya tarik utama, dengan 41,65% upaya phishing terdeteksi. Selain itu, phishing PayPal mewakili 54,78% halaman phishing yang menargetkan pengguna sistem pembayaran elektronik. Laporan tersebut juga menyoroti pertumbuhan phishing terkait aset kripto sebesar 16% tahun-ke-tahun, dengan 5,84 juta deteksi pada tahun 2023 dibandingkan dengan 5,04 juta pada tahun 2022.
“Uang selalu menjadi magnet bagi penjahat siber, dan sebagian besar serangan malware bermotif finansial. Lonjakan malware seluler yang terjadi tahun lalu menyoroti tren kejahatan dunia maya yang mengkhawatirkan. Dengan munculnya jenis malware baru yang semakin canggih, para penyerang mengembangkan taktik mereka untuk menargetkan perangkat seluler dengan lebih agresif. Hal ini menggarisbawahi pentingnya bagi individu dan bisnis untuk meningkatkan kewaspadaan, memperbarui langkah-langkah perlindungan, dan memperkuat keamanan perangkat mereka,” komentar Igor Golovin, pakar keamanan di Kaspersky.
Phishing e-shop diidentifikasi sebagai yang paling umum, mencatat 41,65 % dari seluruh halaman phishing finansial. Amazon muncul sebagai toko online yang paling banyak ditiru, menyumbang 34% upaya phishing, diikuti oleh Apple sebesar 18,66 % dan Netflix sebesar 14,71%. PayPal adalah sistem pembayaran yang paling ditargetkan, dengan 54,73 % serangan.
Phishing dan penipuan terkait aset kripto terus berkembang, dengan Kaspersky mencegah sebanyak 5.838.499 upaya untuk mengikuti tautan phishing bertema aset kripto – peningkatan sebesar 16% dibandingkan tahun 2022. Para penipu meniru pertukaran aset kripto dan menawarkan koin atas nama perusahaan besar seperti Apple. (AC)














