PT Asian Bulk Logistics telah menerapkan AI (artificial intelligence) dalam beberapa operasional bisnis. Ada banyak manfaat yang didapatkan dari situ. Contohnya adalah penggunaan AI untuk mendeteksi operator crane yang sedang kelelahan, dan tertidur ringan.
Dalam hal tersebut, sistem segera memberi peringatan ke operator tersebut. Dan bila beberapa saat kemudian operator masih terdeteksi kelelahan, maka penggantian dengan operator lain segera dilakukan.
CTO Asian Bulk Logistics, Arief Setiawan, menjelaskan hal tersebut, dalam presentasi untuk Dewan Juri Top Digital Awards 2024, yang digelar Majalah IT Works berkolaborasi dengan sejumlah lembaga melalui jaringan internet (24/10/2024).
Arief menjelaskan bahwa nama sistem tersebut adalah AI-Powered Fatigue Detection. “Ini merupakan salah satu bentuk inovasi TI (teknologi informasi) kami dalam bisnis. Dan sangat bermanfaat dalam keselamatan operator crane kami,” papar Arief.
Menurut dia, tugas operator crane membutuhkan konsentrasi dan pemfokusan yang tinggi, terutama dalam shift kerja yang panjang. Untuk menaikkan level keselamatan kerja operator dan mencegah kecelakaan kerja akibat kelelahan, maka diterapkanlah inovasi sistem AI yang memonitor kesiagaan operator, dan menyediakan waktu untuk peringatan siaga tersebut.
Sejumlah keuntungan, Arief menambahkan, dilahirkan dari inovasi AI tersebut. Antara lain bahwa inovasi itu menaikkan tingkat keselamatan kerja. “Dengan secara proaktif mendeteksi kelelahan operator crane, maka kami secara signifikan mengurangi risiko kecelakaan akibat human error,” Arief menjelaskan lebih lanjut.
Keuntungan berikutnya yakni bahwa inovasi tersebut memerbaiki produktivitas. Dengan inovasi tersebut, maka kesiagaan operator crane terbantu, dan mereka secara konsisten ada dalam produktivitas yang baik dalam bekerja.
Adapun manfaat selanjutnya dari inovasi tersebut yakni menaikkan kesejahteraan operator. Sistem AI tersebut menaikkan taraf lingkungan kerja yang lebih sehat dan selamat untuk para operator. “Nah, hal ini menunjukkan komitmen kami untuk kesejahteraan mereka,” Arief menjelaskan.
Kemudian, inovasi tersebut pun memberikan wawasan berbasis data. Dalam hal ini, sistem AI mengumpulkan data tentang pola kelelahan para operator. Selanjutnya, data tersebut bisa dianalisis untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan kelelahan. Tindakan preventif pun selanjutnya bisa lahir dari data tersebut.
Peta Jalan TI
Dalam kesempatan tersebut, Arief Setiawan pun menjelaskan tentang peta jalan (road map) TI di Asian Bulk Logistics. Dalam konteks tersebut, Arief menjelaskan bahwa, saat ini, Asian Bulk Logistics sedang mengimplementasikan peta jalan TI untuk 2023-2026. “Ini kami namakan High Level IT Roadmap,” kata dia.
Tahun 2023 adalah tahap data classificcation. Kemudian, tahun 2024 ini merupakan tahap data point creation. Pada tahun 2024, berdasarkan peta jalan TI tersebut maka Asian Bulk Logistics ada di tahapan data analytics. “Selanjutnya, kami masuk di tahap AI data analytics pada tahun 2026,” Arief menjelaskan lebih lanjut.
Secara rinci, dapat dijelaskan bahwa di tahun 2023, sistem TI di perusahaan tersebut ada di fase enterprise foundation preparation. Untuk tahun 2024, ada di fase enterprise foundation implementation. Di tahun 2025, berada pada fase enterprise analytics.
Selanjutnya, untuk tahun 2026, sistem TI tersebut ada di fase enterprise intelligence.
Bagaimana dengan struktur organisasi TI dalam Asian Bulk Logistics? Arief menjelaskan pula tentang hal tersebut. Dalam hal itu, ia antara lain menjelaskan bahwa Asian Bulk Logistics punya Divisi TI yang dipimpin oleh seorang CTO.
Divisi tersebut punya dua departemen. Itu adalah Departemen Infrastruktur TI dan Departemen Aplikasi TI.
Departemen Infrastruktur TI bertanggung jawab mengenai infrastruktur, network, dan hardware. Adapun Departemen Aplikasi TI mengelola dan bertanggung jawab untuk sistem dan aplikasi.
“Setiap departemen tersebut dipimpin seorang kepala departemen yang mengawasi para staf terkait peran dan fungsi mereka masing-masing,” begitulah Arief menjelaskan.
Masih dalam presentasi tersebut, Arief pun mengulas tentang IT maturity level di Asian Bulk Logistics. Dikatakannya bahwa perusahaan tersebut telah menggelar asesmen kematangan keamanan siber via kolaborasi dengan Deloitte.
Skor yang didapatkan dari asesmen tersebut adalah 1,14.
Untuk mendapatkan pengertian menyeluruh dari postur keamanan siber saat ini dan mendapatkan bagan struktur arah perbaikan, Asian Bulk Logistics pun mengevaluasi sistem kontrol keamanan yang kini dimiliki. Juga, mengidentifikasi area penting untuk peningkatan di masa selanjutnya.
“Pendekatan proaktif seperti itu,” Arief berkata, “Memungkinkan kami memerkuat ketangguhan siber dan memitigasi risiko potensial.”














