Direktorat Jenderal Pajak (DJP) kembali menjadi kandidat meraih penghargaan TOP Digital Awards. Sadar bahwa implementasi Teknologi Informasi (TI) jadi kunci dalam meningkatkan kinerja dan layanan, DJP terus melakukan digitalisasi dan modernisasi perpajakan
“Strategi bisnis yang paling penting adalah pertama, kita melakukan digitalisasi dan modernisasi administrasi perpajakan untuk meningkatkan efisiensi. Jadi IT itu menjadi driver untuk Direktorat Jenderal Pajak,” ungkap Staff Ahli Perpajakan Iwan Djunaedi saat mengikuti wawancara penjurian TOP Digital Awards 2024, secara daring, Kamis (14/11/2024).
Selaras dengan tema TOP Digital Awards 2024 yaitu “Business Solutions, Generative AI, and Cyber Security for Excellence Business and Services”, ia pun memaparkan digitalisasi dan modernisasi administrasi perpajakan yang telah dijalankan DJP dalam beberapa tahun terakhir.
DJP telah mengembangkan ragam aplikasi digital baik untuk keperluan internal maupun meningkatkan kinerja layanan perpajakan, antara lain:
Presensi Mobile DJP, solusi digital yang memungkinkan pegawai Direktorat Jenderal Pajak melakukan presensi melalui perangkat mobile dengan teknologi pengenalan wajah (face recognition) dan lokasi geografis (geo-location). Inovasi ini dirancang untuk memastikan kehadiran pegawai di lokasi kerja secara akurat dan meminimalkan potensi penyimpangan presensi.
“Dulu orang pajak itu harus lari-lari untuk absen, sekarang di radius tertentu sudah bisa absen dari mobile walaupun tidak bisa di rumah. Kami siapkan ini untuk kalau seandainya kita terapkan work from anywhere, kami harus yakini bahwa mereka itu bekerja,” Iwan menjelaskan.
Penggunaan NIK sebagai NPWP, solusi ini mengintegrasikan sistem perpajakan dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK). Menggantikan NPWP yang selama ini terpisah dari sistem administrasi kependudukan. Inovasi ini memungkinkan data perpajakan untuk diakses dan dikelola secara lebih efisien melalui satu identitas tunggal (NIK) yang terhubung dengan berbagai layanan pemerintahan.
M-Pajak, aplikasi mobile yang dirancang untuk memudahkan wajib pajak dalam mengakses informasi dan layanan perpajakan. Aplikasi ini dapat diakses melalui perangkat mobile, memungkinkan wajib pajak untuk mendapatkan informasi perpajakan kapan saja dan di mana saja.
E-Meterai (Digitalisasi Meterai) adalah meterai digital yang dapat digunakan oleh wajib pajak untuk memenuhi kewajiban meterai tanpa memerlukan meterai fisik (meterai tempel). Solusi ini memfasilitasi transaksi elektronik dan administrasi perpajakan, sekaligus memberikan keamanan yang lebih tinggi bagi pengguna.
Coretax, sistem administrasi perpajakan yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan perpajakan, baik bagi petugas pajak maupun wajib pajak. Sistem ini bertujuan untuk menciptakan administrasi perpajakan yang lebih modern dan efisien melalui digitalisasi, integrasi data, dan peningkatan kualitas layanan.
Generative AI
Terkait pemanfaatan AI, Iwan mengutarakan bahwa DJP telah menerapkannya sebagai pilot project dalam 3 tools untuk meningkatkan efektifitas layanan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
“Untuk Generative AI, Alhamdulillah kami punya tiga. Pertama Mastermid, tools yang kami gunakan untuk melakukan harmonisasi peraturan perpajakan. Sudah kami latih, silahkan di-upload satu peraturan, nanti ia akan memberitahu mana yang inline, mana yang bertentangan,” katanya.
Melalui pemanfataan AI tersebut, DJP dapat memproses data dalam jumlah besar dengan cepat dan akurat, menghemat waktu dan sumber daya yang sebelumnya diperlukan untuk analisis manual.
“Sehingga yang tadinya bisa berbualan-bulan untuk melakukan harmonisasi itu hanya bisa dilakukan menitan. Memang ini belum massif tapi kami masih mencoba untuk meningkatkan terus,” lanjutnya.
Kemudian Intens, merupakan alat pembelajaran berbasis AI yang dapat menyesuaikan materi pelatihan dengan kebutuhan individu, menyediakan konten yang relevan berdasarkan level kemampuan dan bidang kerja masing-masing pegawai, sehingga pelatihan menjadi lebih efektif dan tepat sasaran.
“Kemudian ini yang lebih advance, Intens namanya. Itu untuk training pegawai, singkatan dari intelligence enlightening system. Kami masukkan modul-modul untuk e-learning. Kemudian sistem akan mem-provide bahan-bahan untuk dipelajari.“ Dengan bantuan AI di Intens, dapat memonitoring peserta untuk memastikan bahwa ia belajar.
“Kemudian nanti akan keluar pertanyaan, baik esai maupun multiple choice untuk masing-masing peserta. Jadi, peserta akan mendapat pertanyaan yang spesifik untuk dia. Jadi tidak one set for all.”
Tak hanya itu, DJP juga tengah mengembangkan AI lainnya untuk menunjang kinerja layanan seperti TIA (Tax Intelligent & Interactive Assistant) dan TIARA (Tax Intelligent Automated Recording Assistant). Rencananya, keduanya akan diterapkan pada tahun 2025.
TIA merupakan layanan Call Center berbasis AI dengan akses layanan pajak 24/7. Sedangkan TIARA merupakan Minutes of Meeting berbasis AI, yaitu alat yang dapat merekam aktivitas rapat termasuk hasilnya berupa resume.
Keamanan IT
Maraknya praktik serangan siber saat ini tak luput dari perhatian DJP. Iwan menegaskan DJP selalu memperbarui sistem keamanan IT secara maksimal sebagai mitigasi berbagai serangan siber yang marak terjadi.
“Untuk keamanan IT, kami terus update sistemnya. Kita juga menggunakan keamanan berlapis. Mulai dari pengembangan hingga production kami lakukan testing,” tuturnya.
Bahkan, lanjut Iwan, DJP juga telah memiliki sistem pendeteksi serangan. “Kami sekarang sudah membuat atau memperkenalkan namanya API (Application Programming Interface) Security. Karena kami sadar bahwa kedepan API ini yang paling rentan,” jelasnya.
“Kemudian kita punya pemantauan secara real time, kami sudah pakai tool-tool keamanan. Setiap ada serangan, kami segera respon dengan cepat. Kami punya tim keamanan khusus untuk IT,” sambungnnya.
“DJP pun telah menggunakan DRP, Disaster Recovery Plan.”
Yang tak kalah penting, Iwan mengatakan bahwa DJP rutin menyelenggarakan Pelatihan dan Kesadaran Keamanan Siber bagi Pengguna.”Sehingga ada awareness terus-menerus dari seluruh karyawan terhadap keamanan IT.”
TOP Digital Awards 2024 adalah kegiatan Pembelajaran Bersama sekaligus Pemberian Penghargaan tahunan terbesar tingkat nasional yang diberikan kepada Perusahaan/Instansi yang dinilai berhasil dalam untuk meningkatkan kinerja, daya saing, dan layanan kepada pelanggan atau masyarakat.
Ajang ini diselenggarakan Majalah It Works sejak tahun 2016, didukung dan bekerja sama dengan sejumlah asosiasi, lembaga konsultan, serta pakar, di bidang TI-Telekomunikasi-Solusi Digital terkemuka di Tanah Air. Bertindak selaku dewan juri: Kusuma Prabandari, Benyamin De Haan, Dwinda Ruslan, Subandi, Nurul Y. Setyabudi, Melani K. Harriman, dan Febrizal Effendi.
Reporter: Abdullah Suntani
Editor: Teguh IS.














