ItWorks-Meskipun merupakan penduduk asli digital, generasi milenial jarang memverifikasi identitas saat interaksi daring, sehingga menempatkan diri mereka pada kerawan risiko. Perlu membangun kebiasaan online yang lebih aman dengan wawasan dari para ahli keamanan siber.
Generasi milenial tumbuh seiring maraknya media sosial dan komunikasi digital – dan dalam banyak hal tampak sebagai generasi yang paling paham teknologi. Namun, penelitian terbaru Kaspersky mengungkap kenyataan yang memprihatinkan. Sebanyak 70% generasi milenial jarang memverifikasi keaslian orang-orang yang berinteraksi dengan mereka secara daring, membuat mereka rentan terhadap risiko dunia maya seperti penipuan identitas, misinformasi, dan penipuan emosional.
Meskipun 64% pernah menghadapi seseorang yang salah menggambarkan identitas mereka, hampir setengahnya masih memercayai informasi yang dibagikan dalam komunitas digital mereka. Kontradiksi ini menyoroti kesenjangan antara keahlian digital yang dipersepsikan dan kesadaran keamanan siber yang sebenarnya.
Psikolog siber Ruth Guest memperingatkan bahwa rasa percaya diri yang berlebihan ini dapat mengarah pada perilaku berisiko. “Ketika kita memercayai kecerdasan digital kita sendiri secara implisit, kita mungkin mengabaikan kemungkinan bahwa orang lain tidak sejujur yang terlihat. Dalam beberapa kasus, individu dengan sifat narsis, psikopat, atau Machiavellian yang kuat mengeksploitasi kepercayaan ini melalui penipuan dan taktik penipuan lainnya,” ujarnya dilansir dalaam rilis pers (19/03/2025) yang diterima redaksi.
Menurutnya, memikirkan kembali kepercayaan digital berarti menerapkan tingkat skeptisisme yang sesuai dengan kehati-hatian di dunia nyata. Pola pikir keamanan siber yang kuat memerlukan lebih dari sekadar keterampilan teknis, namun ia menuntut pemikiran kritis dan kewaspadaan.
Dewasa ini, media sosial telah menjadi tempat yang dituju oleh generasi milenial untuk membagikan kabar penting dalam hidup mereka. Sering kali sebelum memberitahukannya kepada teman dekat atau keluarga. “Penelitian kami menunjukkan bahwa hampir separuh generasi milenial mengunggah berita pribadi yang signifikan secara daring sebelum membicarakannya secara langsung dengan siapa pun. Umpan balik langsung dari like, komentar, dan share dapat menciptakan rasa validasi – tetapi juga disertai risiko,” terangnya.
Sebanyaak 45% generasi milenial merasa nyaman berbagi informasi pribadi atau sensitif secara daring. Hal ini menjadi perilaku yang dapat meningkatkan risiko penipuan phishing, pencurian identitas, dan doxing. Penjahat dunia maya menggunakan informasi yang tersedia untuk umum untuk menyusun serangan yang ditargetkan – mengeksploitasi detail pribadi seperti check-in lokasi, pembaruan tempat kerja, dan status hubungan.
Menurut Marc Rivero, Peneliti Keamanan Utama di Kaspersky, berrbagi informasi pribadi secara berlebihan secara daring dapat membuat individu lebih rentan terhadap pencurian identitas, serangan phishing, dan penipuan rekayasa sosial. Detail pribadi yang dibagikan secara daring, seperti check-in lokasi, status hubungan, dan rutinitas harian, dapat dimanfaatkan untuk penipuan tertarget atau pemantauan tidak sah.“Untuk mengurangi risiko ini, penting untuk mempertimbangkan kembali apa yang dibagikan, memperkuat pengaturan privasi, dan tetap berhati-hati tentang bagaimana jejak digital digunakan,” ujarnya.
Persahabatan Digital
Seiring meningkatnya rasa kesepian di kalangan dewasa muda (di antara generasi lainnya), persahabatan daring telah menjadi bagian penting dari kehidupan sosial. Studi kami menemukan bahwa 29% generasi milenial melaporkan bahwa persahabatan digital berdampak positif pada kesehatan mental mereka. Komunitas daring memberikan rasa memiliki, dan memungkinkan pengguna untuk terhubung dengan individu yang memiliki pemikiran yang sama di seluruh dunia.
Namun, tidak semua interaksi daring bersifat positif. Sepuluh persen generasi milenial melaporkan pengalaman negatif dari interaksi digital. Hal lebih memprihatinkan, 14 persen mengaku membuat profil palsu atau menggunakan identitas palsu sendiri. Statistik ini menyoroti maraknya penipuan digital dan tantangan dalam membedakan antara hubungan yang asli dan yang dibuat-buat.
Psikolog siber Ruth Guest menekankan pentingnya keseimbangan. Ruang digital telah berevolusi menjadi tempat yang aman dan kreatif tempat generasi milenial dapat menjelajahi, belajar, dan terhubung dengan individu yang berpikiran sama. Jika digunakan dengan bijak dan dengan perlindungan yang tepat, media sosial dapat menjadi aset yang luar biasa bagi kesehatan mental seseorang. Media sosial menawarkan platform untuk mengekspresikan diri, rasa memiliki, dan bahkan inspirasi kreatif. Namun, penting untuk diingat bahwa manfaat komunitas daring ini bergantung pada upaya menjaga keseimbangan.
Ditekankan, sebagai pelaku utama di dunia digital, generasi milenial perlu mengambil langkah proaktif untuk melindungi keberadaan mereka di dunia maya dan mendorong kebiasaan keamanan siber yang lebih kuat pada orang-orang di sekitar mereka. Menerapkan langkah-langkah keamanan yang penting dapat membantu mengurangi paparan terhadap ancaman daring dan menumbuhkan kebiasaan digital yang lebih aman. Beberapa Upaya dan Langkah yanbg bisa dilakukan, di antaranya:
- Verifikasi identitas
• Gunakan pencarian gambar terbalik, dan periksa ulang profil sebelum berinteraksi dengan kontak baru. - Periksa ulang informasi
• Selalu verifikasi fakta dari berbagai sumber sebelum membagikan atau menindaklanjutinya. - Lindungi informasi pribadi
• Sesuaikan pengaturan privasi media sosial, dan gunakan pemeriksa privasi online kami untuk meningkatkan keamanan.
• Perhatikan pembagian lokasi secara real-time untuk menghindari risiko pelacakan. - Hargai privasi orang lain
• Dapatkan persetujuan sebelum membagikan detail pribadi orang lain. - Tetap teredukasi mengenai penipuan online
• Kenali tanda-tanda phishing, profil palsu, dan penipuan rekayasa sosial. - Gunakan kata sandi dan alat keamanan yang kuat














