Jakarta, Itech- President Director Ecolmantech Consultants, John Wirawan, baru-baru ini publikasikan gagasan giant sea wall untuk Pantai Utara Jakarta, tanpa reklamasi. Keunggulan konsep giant sea wall (GSW) tersebut dapat diterapkan dalam pembangunan pantai tanpa reklamasi, serta tanpa penggusuran local wisdom.
“Bila GSW ini diterapkan dalam pembangunan Pantai Utara Jawa maka akan menghasilkan danau raksasa seluas 17.669 hektar, pembangunan lapangan terbang sepanjang 7 km dengan lebar 3 km, dan akan terbentuknya daratan seluas 7.000 hektar,” kata John Wirawan kepada wartawan di Jakarta, Selasa (28/2).
Selanjutnya, pemda DKI akan memeroleh dana dari para developer sebesar Rp 200 triliun dari pemanfaatan lahan untuk pembangunan perumahan. Serta juga kondisi dan bentang alam akan tetap lestari. Ketersedian air payau dan industri perikanan rakyat akan tumbuh dan berkembang pula. “Persoalan reklamasi Teluk Jakarta ini sebenarnya dapat diatasi dengan sebuah konsep yang merupakan konsep lama yang telah ditawarkan kepada Pemerintah RI sejak tahun 1997, yakni pembangunan dinding tanggul raksasa di depan Teluk Jakarta atau giant sea wall,” ucap John lagi.
Dengan dibangunnya GSW, Laut Jawa akan dipisahkan dengan bibir pantai yang ada ada saat ini, sehingga air laut akan terpisah dengan daratan. Akibat keberadaan tanggul ini, maka air sungai yang mengalir ke Teluk Jakarta tidak akan langsung masuk ke laut, tetapi ditampung di danau raksasa yang terbentuk akibat berdirinya tanggul raksasa ini. Tinggi permukaan air danau ini akan diatur lebih rendah 5 meter dari daratan pantai utara Jakarta. Alhasil, mengakibatkan air sungai lebih cepat mengalir ke danau raksasa ini.
“Apabila tanggul ini dibangun maka danau raksasa yang terbentuk tersebut luasnya akan mencapai kurang lebih 17.669 hektar, dan dapat menampung air tawar untuk keperluan warga Jakarta sepanjang tahun. Dengan menurunnya ketinggian air di sepanjang pantai yang ada saat ini, maka akan terbentuk dengan cara pengurangan dalam proses reklamasi saat ini, yakni 3.800 hektar,” John berkata lagi.
John menegaskan, dengan dibangunnya GSW, akan ada beberapa keuntungan yang didapatkan oleh pemerintah DKI. Dari penghasilan secara langsung sedikitnya Rp 200 triliun dari para pengembang tanpa harus melakukan pinjaman, pemerintah DKI bisa menggunakan Rp 100 triliun untuk proses revitalisasi dan restorasi pantai utara teluk Jakarta. Rinciannya, Rp 40 triliiun untuk membangun tanggul lepas pantai dengan material urug dari sedimen 13 sungai yang mengalir ke teluk Jakarta. Rp 60 triliun untuk memindahkan rakyat miskin dari daerah kumuh di bantaran sungai, kolong jembatan, di samping rel kereta api, serta wilayah lainnya. Itu lengkap dengan lapangan pekerjaan dan infrastruktur penunjangnya.
Pasir yang telanjur ada dari Pulau C, D, G, dan N, dapat dipakai untuk merapikan daratan yang terbentuk seluas kurang lebih 7.000 hektar hektar tanpa reklamasi. Kondisi hutan bakau, tambak udang, dan tambak bandeng yang ada, akan terlestarikan dengan baik. Akan terbentuk hutan bakau di lepas pantai dalam skala besar, sehingga larutan nutrisi dan mineral dari air darat (tanpa sedimen) dapat meningkatkan pertumbuhan biota laut dan terumbu karang. Dan pada akhirnya, akan meningkatkan populasi jumlah ikan, selaras dengan membaiknya lingkungan estuari pantai akibat pengurangan kadar logam berat. “Jakarta akan terbebas dari banjir selamanya karena air dari darat akan mengalir secara deras ke danau raksasa karena selisih ketinggian 5 meter antara daratan dan danau,” kata John. (red/Al)













