ItWorks.id-Berdasarkan penelitian terbaru bertajuk “How People Enjoy Podcasts in Daily Life” yang dilakukan Populix menunjukkan adanya kecenderungn masyarakat Indonesia yang menyukai konten podcast dengan video ketimbang audio saja. Hal ini membuka peluang monetisasi yang lebih luas bagi para kreator podcast untuk menyuguhkan konten yang lebih berkualitas.
Beberapa temuan pokok dari riset ini telah dibahas dalam diskusi panel tentang potensi industri podcast (siniar) dalam Podcast Day Asia pada gelaran Radiodays Asia 2025, pada 1-3 September 2025 lalu di Jakarta. Beberapa temuan utama dari diskusi tersebut meliputi:
- Podcast berbentuk video kini jauh lebih diminati ketimbang yang hanya hadir dalam bentuk audio saja. Bahkan pendengar yang hanya mendengarkan podcast audio di tahun 2025 mengalami penurunan lebih dari dua kali lipat dibanding tahun 2023.
- Dua dari tiga orang Indonesia menonton podcast video secara penuh dari awal hingga akhir. Sebagian mengaku lebih selektif dan hanya menonton ketika tertarik dengan bintang tamu.
Perilaku saat menonton podcast video:- Menonton penuh dari awal hingga akhir: 66%
- Menonton saat bintang tamu menarik: 26%
- Hanya mendengarkan audio saja, sambil melakukan kegiatan lain: 5%
- Hanya akan menonton bila editing menarik: 3%.
- Menurut data Magellan AI, nilai belanja iklan di podcast pada semester satu 2025 meningkat 28% dibanding tahun sebelumnya. Pencapaian ini diperkirakan akan terus tumbuh hingga akhir tahun.
- Menurut James Cridland, Editor Podnews dan Radio Futurologist, iklan pada podcast meningkatkan kesejahteraan para kreator. Namun di sisi lain dapat menurunkan kualitas konten dan pengalaman pendengar, serta menciptakan ketergantungan kreator pada pengiklan.
“Masyarakat Indonesia saat ini cenderung lebih menyukai konten podcast dalam bentuk video daripada konten yang berupa audio/suara saja. Bahkan apabila dibandingkan dengan data Populix tahun 2023, penikmat podcast format audio saja berkurang lebih dari setengahnya,” ujar Indah Tanip, VP of Research Populix, dalam rilis pers, baru-baru ini.
Dikatakan, bahwa dua dari tiga penikmat video podcast mengaku menonton keseluruhan video dari awal hingga akhir. Sebagian lainnya mengaku lebih selektif dan hanya memilih menonton video ketika tertarik dengan bintang tamu yang dihadirkan. “Hal ini menunjukkan ketertarikan kuat audiens dengan format video, khususnya apabila didorong dengan narasumber yang menarik,” jelas Indah Tanip.
Temuan ini disambut oleh Ron Baetiong, Founder dan CEO Podcast Network Asia, produsen podcast terbesar di Filipina yang memproduksi, mengembangkan, dan mendorong monetisasi podcast dengan bantuan teknologi.
Ron Baetiong menyebutkan, Podcast hari ini tidak hanya memanjakan telinga saja. Aspek visual ini tak hanya memperkaya pengalaman audiens, tetapi juga membuka peluang bisnis podcast lebih jauh lagi. Tidak hanya adlibs (iklan yang dibacakan), kreator podcast juga dapat menunjukkan produk yang mereka iklankan maupun sekadar memampang logo produk dalam video mereka.”
Menurut Ron, ada beberapa peluang monetisasi yang dapat dilakukan di era ini, seperti product placement, menaruh produk makanan, minuman, bahkan mengenakan pakaian di dalam video. Beberapa platform bahkan memampukan para kreator podcast untuk mendapatkan komisi affiliate dengan menyantumkan link penjualan produk di video podcast mereka.
Tak hanya itu, saat ini audiens juga mulai tak ragu untuk berlangganan konten podcast berbayar, bahkan memberikan tips/donasi untuk kreator favorit mereka.
James Cridland, Editor Podnews dan Radio Futurologist, menambahkan, iklan di podcast saat ini sudah mulai dilirik oleh berbagai merek. Menurut data Magellan AI, nilai belanja iklan di podcast pada paruh pertama 2025 meningkat 28% dibanding tahun sebelumnya, dan diprediksi akan terus meningkat hingga akhir tahun.
“Hal ini menunjukkan peningkatan kesejahteraan para kreator podcast. Namun demikian, layaknya pedang bermata dua, muatan iklan dalam konten podcast berpotensi menurunkan kualitas konten dan pengalaman pendengar, serta menciptakan ketergantungan kreator pada pengiklan.” terangnya
James menggarisbawahi pentingnya para kreator untuk tetap menjaga ownership serta kualitas podcast yang mereka buat. Karena pada akhirnya, para pendengarlah yang akan memiliki andil besar dalam keberlanjutan podcast mereka. Dari berbagai cara monetisasi, James cenderung menyarankan bentuk langganan sebagai pilihan monetisasi paling “aman” bagi para kreator.














