ItWorks.id- Hasil penelitian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), khususnya dari Pusat Riset Elektronika dan Pusat Riset Telekomunikasi, dipamerkan di ajang “The 14th International Conference on Radar, Antenna, Microwave, Electronics and Telecommunications (ICRAMET) 2025”.
AjangICRAMET 2025, berlangusng pada 12-13 November 2025 di Bandung sebagai kegiatan ajang bergengsi tahunan dari BRIN. Beberapa prototype unggulan ditampilkan sehingga para peserta ICRAMET dapat turut melihat riset terkait bidang elektronika dan informatika tersebut.
Beberapan di antaranya yakni Flexible Thermoelectric Generator (fTEG) adalah perangkat tipis, lentur, dan ringan yang mampu mengubah panas tubuh atau panas lingkungan menjadi energi listrik secara langsung. Teknologi ini memungkinkan hadirnya perangkat wearable dan sensor IoT tanpa baterai karena fTEG dapat ditempel di kulit atau berbagai permukaan sambil menghasilkan listrik secara mandiri.
“Dengan karakteristik fleksibel, ramah lingkungan, dan berdaya rendah, fTEG menjadi solusi ideal untuk perangkat elektronik masa depan yang menuntut efisiensi energi dan portabilitas tinggi,” ucap Yusuf Nur WIjayanto, Kepala Pusat Riset Elektronika (PRE) BRIN dilansir Humas BRIN melalui portal webnya (18/11/2025).
Prototype lainnya yaitu Supercapatery (Solid-State Supercapacitors dan Solid-State Battery) merupakan teknologi penyimpanan energi generasi baru yang menggunakan elektrolit padat, menawarkan keamanan lebih tinggi, stabilitas jangka panjang, dan performa unggul dibanding baterai konvensional. Perangkat ini menggabungkan kecepatan pengisian superkapasitor dengan kapasitas besar baterai padat, sehingga ideal untuk mendukung miniaturisasi perangkat elektronik, wearable, telekomunikasi, hingga sistem energi terbarukan.
“Dengan daya tahan tinggi dan risiko kebakaran yang sangat rendah, teknologi ini menjadi fondasi penting untuk ekosistem perangkat modern yang cepat, aman, wearable dan berkelanjutan,” ungkap Kepala PRE tersebut.
Deteksi Bahaya Bakan Makanan
Teknologi lainnya ada Si-AZA, merupakan perangkat portabel yang dapat mendeteksi bahan berbahaya pada makanan seperti kandungan alkohol, formalin, boraks, dan rodamin B secara real-time. Perangkat ini dilengkapi dengan fitur Internet of Things (IoT) untuk mendukung pencatatan dan pemantauan hasil uji.
Menurut Nasrullah Armi Kepala Pusat Riset Telekomunikasi, Si-AZA bekerja menggunakan kombinasi beberapa sensor, antara lain sensor HCHO untuk mendeteksi alkohol dan formalin, serta sensor warna RGB untuk boraks dan rodamin B. Data yang tertangkap sensor diolah oleh mikrokontroler dan hasilnya langsung ditampilkan di layar sentuh serta dikirim ke server berbasis IoT. Hasil pengujian bisa langsung dikirim ke server web melalui koneksi Wi-Fi atau hotspot dan diakses oleh pihak berwenang secara real-time.
Disamping itu, ada Tuberculosis Colorimetric Sensor, yaitu alat deteksi cepat tuberkulosis (TBC) berbasis metode colorimetric. Sistem ini bekerja dengan memunculkan perubahan warna saat biomarker Mycobacterium Tuberculosis terdeteksi. Metode ini mudah digunakan, tidak memerlukan peralatan laboratorium besar, serta mendukung skrining TBC secara cepat di fasilitas kesehatan primer.
Kemudian, Hepatitis C Electrochemical Sensor, yaitu biosensor berbasis elektrokimia untuk mendeteksi virus Hepatitis C (HCV). Biosensor ini menggunakan elektroda sensitif berbahan nanomaterial yaitu Metal Organic Frameworks (MOFs) untuk membaca sinyal listrik hasil interaksi antigen–antibodi, sehingga menghasilkan deteksi yang cepat, akurat, dan spesifik. ”Alat ini memiliki keunggulan portabel dan deteksi real time sehingga berpotensi digunakan sebagai sistem diagnostik point-of-care yang terhubung ke perangkat digital,” tutur Yusuf.
Dikatakan, mitra yang terjalin beragam mulai dari kalangan akademisi, industri, dan komunitas dimana masing-masing mitra punya peran yang signifikan untuk mediseminasikan produk hasil riset ini. Ia juga menuturkan bahwa beberapa hasil riset sudah termanfaatkan kepada mitra baik industri dan masyarakat, sebagai contoh untuk pengembangan kit deteksi penyakit dan pengembangan modul pemanen energi.
Melalui berbagai inovasi ini, ia berharap BRIN dapat memperluas lagi kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan sehingga kedepan hasil produk riset dapat dimanfaatkan secara luas kepada masyarakat. Selain itu, ia pun berharap melalui forum ini dapat mendapatkan masukan serta saran untuk pengembangan berikutnya dalam berbagai bidang aplikasi yang dibutuhkan mitra sehingga mampu memperkuat kemandirian teknologi nasional.














