ItWorks.id- Peneliti Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nurul Arfiyanti Yusuf, memaparkan inovasi sistem penghantaran obat melalui pengembangan glibenklamid berbasis nanotransetosom untuk aplikasi transdermal. Inovasi ini dinilai berpotensi meningkatkan efektivitas terapi antidiabetes sekaligus mengurangi risiko efek samping obat.
Paparan tersebut disampaikan Nurul dalam Webinar Bincang Riset I bertema “Peran Bioinformatik, Sintesis Organik, dan Teknologi Formulasi dalam Mendukung Riset Pengembangan Bahan Baku Obat Nasional”, yang digelar belum lama ini. “Glibenklamid merupakan obat antidiabetes yang telah lama digunakan, namun memiliki keterbatasan berupa kelarutan air dan bioavailabilitas oral yang rendah serta risiko efek samping akibat metabolisme lintas pertama di hati,” kata Nurul dalam kesempatan tersebut yang dirilis Humas BRIN, baru-baru ini.
Menurutnya, keterbatasan tersebut mendorong perlunya pendekatan alternatif dalam sistem penghantaran obat. Melalui pendekatan transdermal, obat dihantarkan langsung melalui kulit menuju sirkulasi sistemik, sehingga berpotensi mengurangi efek samping dan meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani terapi.
Guna mendukung efektivitas penetrasi kulit, glibenklamid diformulasikan dalam bentuk nanotransetosom, yaitu sistem vesikular lipid elastis yang mengombinasikan keunggulan etosom dan transfersom. Teknologi ini dirancang agar obat mampu menembus lapisan kulit secara lebih optimal.
Selanjutnya, nanotransetosom glibenklamid diformulasikan ke dalam bentuk patch transdermal berbasis polimer HPMC dan PVP K30. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem ini mampu meningkatkan kelarutan, stabilitas, serta efektivitas antidiabetes dibandingkan dengan sediaan glibenklamid konvensional.“Patch dengan polimer HPMC dan PVP K30 terbukti stabil selama penyimpanan dan mampu mempertahankan efek penurunan kadar glukosa darah hingga 24 jam,” tandas Nurul.
Inovasi ini diharapkan dapat menjadi salah satu terobosan dalam pengembangan bahan baku obat nasional, khususnya dalam mendukung terapi penyakit metabolik melalui teknologi formulasi yang lebih efektif dan berkelanjutan.














