ItWorks.id- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan sistem dekode dan ekstraksi data satelit Nusantara Earth Observation-1 (NEO-1) guna memperkuat kemandirian teknologi antariksa nasional. Sistem ini mampu mengubah data mentah dari satelit menjadi informasi siap pakai untuk pemantauan lingkungan, kebencanaan, dan analisis geospasial.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Satelit (PRTS) BRIN, Suhermanto, menjelaskan data yang dikirim satelit ke bumi masih berupa sinyal mentah berbentuk bit-stream. Karena itu, data perlu melalui proses dekode, ekstraksi, dan rekonstruksi agar menjadi data terstruktur.“Setiap satelit memiliki keunikan, termasuk NEO-1 yang membawa berbagai sensor dengan resolusi tinggi serta potensi data yang tercampur dalam satu berkas. Hal ini membutuhkan pendekatan pengolahan data yang lebih adaptif dan terintegrasi,” ujar Suhermanto dalam Kolokium Seri 4 PRTS di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Rancabungur, Bogor, belum lama ini yang dirilis Humas BRIN (17/04/2026) melalui portal web resmi.
Ditambahkan, pengolahan data NEO-1 mengacu pada standar internasional Consultative Committee for Space Data Systems (CCSDS) yang digunakan luas oleh lembaga antariksa dunia, sehingga data dapat diproses secara konsisten dan kompatibel lintas sistem.
Guna menjawab tantangan pengolahan data dari tujuh sensor berbeda, BRIN mengembangkan modul dekode yang mampu memproses data berukuran besar hingga 32 gigabyte secara cepat dan efisien, termasuk memisahkan data sensor yang tercampur dalam satu aliran.
Sistem tersebut juga dilengkapi dukungan format keluaran GeoTIFF, HDF5, dan NetCDF4, kompresi data tanpa mengurangi kualitas (lossless), serta kemampuan mendeteksi dan merekonstruksi gangguan data seperti duplikasi atau hilangnya baris citra (scanline).
Produk yang dihasilkan berupa data level-0, yakni data dasar yang telah tersusun rapi dan siap diproses lebih lanjut menjadi produk radiometrik maupun geometrik. “Pengembangan teknologi ini menjadi langkah strategis agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna data satelit, tetapi juga mampu menjadi produsen dan pengelola data antariksa secara mandiri,” tandas Suhermanto.














