Sebuah studi global terbaru Kaspersky mengungkap bahwa meskipun 47% berbicara tentang keamanan online, hanya 33% yang mengamankan semua perangkat keluarga mereka. Khususnya di Indonesia, persentase kedua indikator lebih besar namun tetap menunjukkan kesenjangan, dimana 53% mendiskusikan mengenai keamanan online, namun hanya 38% yang mengamankan seluruh perangkat keluarga mereka. Statistik ini menyoroti kebutuhan mendesak akan peran “Manajer Digital Keluarga (Family Digital Manager)” yang berdedikasi.
Seiring berkembangnya ancaman siber dan setiap generasi bergabung dengan ruang online, kebiasaan keamanan siber telah menjadi bagian penting dari kehidupan setiap keluarga. Biasanya, di setiap keluarga, satu atau dua orang menjadi apa yang disebut Manajer Digital Keluarga, yang bertanggung jawab untuk mengelola langganan, menyiapkan perangkat baru, atau memikirkan perlindungan siber. Kaspersky telah melakukan survei untuk mengetahui langkah-langkah apa yang diambil keluarga modern untuk tetap aman secara online.
Menurut data Kaspersky, sebagian besar responden global mengadopsi pendekatan edukatif terhadap keamanan siber dalam keluarga mereka:
• 47% secara teratur melatih kerabat lanjut usia dan anak-anak tentang praktik online yang aman.
• 45% menyarankan anggota keluarga untuk mengadopsi solusi pengelola kata sandi.
• 42% mendorong penggunaan otentikasi multi-faktor (MFA).
• Sebanyak 42% secara aktif meninjau dan menyesuaikan pengaturan privasi pada perangkat keluarga dan akun online penting.
Khususnya di Indonesia menunjukkan persentase lebih tinggi:
• 53% secara teratur melatih kerabat lanjut usia dan anak-anak tentang praktik online yang aman.
• 65% menyarankan anggota keluarga untuk mengadopsi solusi pengelola kata sandi.
• 49% mendorong penggunaan otentikasi multi-faktor (MFA).
• Sebanyak 50% secara aktif meninjau dan menyesuaikan pengaturan privasi pada perangkat keluarga dan akun online penting.
Meskipun kesadaran akan pentingnya perlindungan digital yang proaktif dan berfokus pada keluarga semakin meningkat, trennya sedikit berbeda ketika menyangkut implementasi solusi keamanan. 10% responden sama sekali tidak mengambil tindakan untuk melindungi orang yang mereka cintai secara online, meningkat menjadi 21% di antara mereka yang berusia 55 tahun ke atas. Untuk Indonesia, hanya 4% responden yang sama sekali tidak mengambil tindakan untuk melindungi keluarga mereka secara online.
Angka yang paling mengkhawatirkan adalah hanya 33% responden – hanya 1 dari 3 – yang memasang solusi keamanan di semua perangkat anggota keluarga. Indonesia, persentase menunjukkan lebih tinggi yaitu 38%, namun ini masih memerlukan peningkatan. Pakar Kaspersky menyoroti bahwa lanskap ancaman saat ini menunjukkan bahwa perangkat seluler dan tablet serta PC semuanya membutuhkan perlindungan siber yang komprehensif, karena sering menjadi target penjahat siber.
Penelitian juga menunjukkan bahwa generasi yang lebih tua (55+) umumnya kurang terlibat dalam kebiasaan keamanan keluarga. Sekitar 1 dari 5 (21%) dari kelompok usia ini tidak mengambil tindakan apa pun untuk melindungi keluarga mereka secara online dan hanya seperempat (24%) yang memasang solusi keamanan untuk anggota keluarga. Langkah keamanan yang paling populer di antara mereka ternyata adalah pengelola kata sandi, karena 40% dari kelompok usia ini merekomendasikan anggota keluarga mereka untuk menggunakannya.
“Semakin kita terhubung, mengobrol, berbagi momen, semakin dalam kita terperangkap dalam jaringan gawai dan layanan daring. Setiap perangkat baru, setiap jam tambahan online, memperluas area permukaan tempat pelaku kejahatan siber dapat menyerang, membuat orang rentan terhadap berbagai ancaman siber. Tidak setiap generasi dapat beradaptasi atas perubahan ini dengan mudah. Itulah mengapa perlindungan komprehensif untuk semua anggota keluarga sangat penting – setiap keluarga membutuhkan pendekatan keamanan multi-perangkat yang terintegrasi untuk memastikan lingkungan online bersama yang aman,” komentar Marina Titova, Wakil Presiden Bisnis Konsumen di Kaspersky.














