ItWorks.id-Perkembangan era post-quantum mulai mendorong perusahaan mengubah cara memandang keamanan siber dan keberlanjutan transformasi yang membawa peluang baru bagi AI dan komputasi. Namun, pada saat yang sama juga menciptakan horizon risiko baru bagi data dan sistem yang saat ini masih dilindungi sistem keamanan konvensional.
Dinamika era perkembangan komputasi kuantum mulai mengubah cara perusahaan memandang keamanan dan keberlanjutan teknologi. Rimini Street menilai, kesiapan dalam menghadapi perkembangan komputasi kuantum, tidak harus dilakukan dengan mengganti seluruh sistem teknologi yang telah digunakan perusahaan. Perusahaan justru perlu lebih dulu memahami ekosistem digital yang dimiliki, mulai dari data, aplikasi, database, API, middleware, cloud hingga sistem pihak ketiga yang saling terhubung.
Menurut Han-Tiong Law, Regional Chief Technology Officer for ASEAN and Greater China, Rimini Street, kesiapan menghadapi era post-quantum harus dipandang sebagai proses antisipasi, bukan sesuatu yang perlu menimbulkan kepanikan. “Komputasi kuantum tidak seharusnya menciptakan kepanikan, tetapi perlu mengubah cara perusahaan memandang dan merencanakan keamanan mereka,” ujar Han -Tiong Law dalam paparannya, yang dirilis, baru-baru ini.
Dengan makin tingginya adopsi AI di berbagai sektor, ancaman risiko tersebut juga menjadi perhatian di Indonesia. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria sebelumnya mengingatkan mengenai risiko harvest now, decrypt later. Hal tersebut menunjukkan bahwa perlindungan data tidak lagi cukup dilihat berdasarkan ancaman yang tersedia saat ini, tetapi juga perlu mempertimbangkan kemampuan teknologi di masa mendatang.
Mengubah Cara Perusahaan Melihat Kemanaan Siber
Bagi perusahaan Indonesia, tantangan post-quantum menjadi semakin kompleks karena lingkungan teknologi perusahaan saat ini tidak lagi berdiri sendiri. ERP, misalnya, terhubung dengan database, middleware, API, aplikasi cloud, sistem pihak ketiga hingga berbagai interface yang menopang proses bisnis.
Karena itu, keamanan tidak cukup dinilai dari apakah sebuah sistem menggunakan teknologi lama atau baru. Yang lebih penting adalah apakah perusahaan benar-benar memahami lingkungan tersebut—mulai dari data yang dianggap kritis, lokasi penyimpanan dan transmisinya, hingga proses bisnis yang akan terdampak jika suatu sistem mengalami gangguan.
Dalam konteks keamanan siber, pendekatan ini juga memperluas perhatian dari aplikasi ke seluruh ekosistem. Perusahaan perlu melihat keamanan secara menyeluruh. Pertanyaannya, bukan hanya apakah sistem ERP perusahaan aman, tetapi bagaimana pekerjaan berlangsung dari awal hingga akhir, siapa yang bergantung pada proses tersebut, data apa yang digunakan, serta dampaknya jika proses tersebut berhenti.
Kesenjangan Perlu Ditutup
Salah satu tantangan terbesar bagi perusahaan adalah visibilitas. Perusahaan dapat memiliki berbagai teknologi keamanan, tetapi belum tentu memiliki gambaran lengkap mengenai seluruh aset, data, interface, dan ketergantungan kriptografi dalam lingkungan mereka.
Langkah pertama adalah membangun tata kelola (governance) dan akuntabilitas yang jelas. Kepemilikan tidak hanya dibutuhkan untuk sistem, tetapi juga untuk data dan proses bisnis. Perusahaan perlu mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas data finansial, data master, informasi pelanggan dan aset kritis lainnya.
Selanjutnya, perusahaan perlu menentukan apa yang benar-benar penting bagi keberlangsungan bisnis. Proses mana yang paling penting, data mana yang memiliki jangka panjang, dan dampaknya jika proses tersebut tidak tersedia.
Selain itu, visibilitas terhadap ketergantungan kriptografi juga menjadi penting. Perusahaan perlu mengetahui di mana enkripsi digunakan di dalam aplikasi, database, middleware, interface, maupun layanan pihak ketiga. Tanpa pemahaman tersebut, sulit menentukan apa yang harus diprioritaskan ketika organisasi mulai bergerak menuju kesiapan untuk post-quantum.
Persiapan kemudian perlu diterjemahkan dalam roadmap bertahap, termasuk respons dan recovery. Dengan sumber daya yang terbatas, perusahaan tidak harus menyelesaikan seluruh persoalan sekaligus, yang penting adalah mengetahui posisi saat ini dan menentukan perubahan berdasarkan tingkat risiko dan dampaknya terhadap bisnis.
Legacy System dan Tantangan Mengendalikan Biaya
Isu tersebut menjadi semakin relevan ketika perusahaan berhadapan dengan legacy system. Sistem yang telah digunakan selama bertahun-tahun sering kali langsung dianggap sebagai sumber risiko. Padahal, usia teknologi tidak secara otomatis menentukan tingkat keamanannya. Di tengah kebutuhan investasi untuk keamanan siber, AI, cloud dan transformasi digital, wholesale replacement juga dapat menjadi beban biaya dan waktu yang signifikan. Karena itu, perusahaan perlu mempertimbangkan modernisasi berdasarkan kebutuhan bisnis dan risiko, bukan semata-mata karena sistem yang digunakan tergolong lama.
“Usia teknologi bukanlah ukuran keamanan. Yang lebih penting adalah apakah lingkungan tersebut benar-benar dipahami, didukung, dilindungi, dipantau, dan dapat dipulihkan ketika terjadi gangguan,” ujar Han.
Pendekatan ini membuka ruang untuk modernisasi secara selektif. Sistem yang masih memberikan nilai dapat dioptimalkan, sementara kapabilitas baru dapat ditambahkan melalui API, integrasi, automation, analytics, cloud dan AI. Komponen tertentu dapat diganti ketika memang memiliki risiko yang tidak dapat diterima atau sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan bisnis.
Konsep tersebut sejalan dengan Rimini Street Smart Path yang memungkinkan perusahaan mempertahankan sistem yang masih memberikan nilai, mengoptimalkan kapabilitas yang ada, serta melakukan replacement secara selektif berdasarkan kebutuhan bisnis dan risiko.
VIVERE Group menjadi salah satu contoh bagaimana pendekatan tersebut dapat diterapkan. Perusahaan tetap menjalankan SAP ECC 6 di atas IBM Db2 untuk mendukung operasi manufaktur dan distribusi berbasis proyek yang kritis. Dengan mempertahankan kontinuitas sistem yang masih memiliki nilai bisnis, sumber daya internal dapat lebih difokuskan pada agenda transformasi digital.
Sementara itu, Rimini Street ONE menempatkan protection dan observability sebagai bagian dari upaya memperkuat resilience lingkungan perusahaan. Pendekatan tersebut mencakup dukungan terhadap platform kritis, sekaligus mempertimbangkan keamanan, tata kelola, dan lapisan aplikasi ketika organisasi mulai memperkenalkan AI.
Pada akhirnya, kesiapan menghadapi post-quantum bukan sekadar persoalan teknologi baru. Ini merupakan persoalan bagaimana perusahaan memahami ekosistem digitalnya, menentukan apa yang paling penting, mengelola risiko berdasarkan dampak bisnis dan melakukan modernisasi secara berkelanjutan.















