ItWorks.id – Menurut survei terbaru yang dilakukan oleh pusat riset pasar Kaspersky pada bulan Maret 2026, 90% responden menggunakan perangkat berbasis kecerdasan buatan (AI), dan satu dari setiap lima pengguna secara aktif memanfaatkan AI dalam kegiatan mencari kerja.
Meskipun AI populer dan memudahkan penyelesaian berbagai tugas, perannya dalam proses rekrutmen memicu perdebatan. Sebagian pihak berpendapat bahwa AI menawarkan keuntungan besar, seperti menyesuaikan resume untuk setiap lowongan dan menyisipkan kata kunci yang tepat agar lolos sistem penyaringan otomatis. Di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa ketergantungan pada AI dapat menghasilkan bahasa yang terlalu umum dan menghilangkan sentuhan personal.
Untuk membantu pencari kerja menjadikan AI sebagai asisten, Kaspersky memberikan panduan praktis tentang cara meningkatkan kualitas CV dengan bantuan AI, sembari tetap menjaga keamanan dan keaslian data.
1.Prioritaskan keamanan data Anda
Sebelum mengirimkan resume ke chatbot, pastikan untuk menghapus semua informasi rahasia, seperti nama, nomor telepon, alamat rumah, surel, nama perusahaan, maupun hasil pindai dokumen apa pun. Setiap model bahasa yang Anda gunakan dilatih berdasarkan data yang Anda berikan; artinya, selalu ada risiko informasi Anda secara tidak sengaja terekspos kepada pengguna lain.
Oleh karena itu, sebelum menggunakan chatbot, periksa pengaturannya dan nonaktifkan opsi yang mengizinkan AI untuk mempelajari kueri Anda. Pastikan juga layanan tersebut memiliki kebijakan privasi yang komprehensif. Ingat aturan emas ini: jangan pernah memasukkan apa pun ke dalam chatbot jika Anda tidak ingin informasi tersebut secara tidak sengaja muncul di internet.
2.Bersiaplah bahwa resume Anda mungkin dievaluasi oleh AI
Sebagian besar perusahaan berskala besar dan menengah telah menggunakan Applicant Tracking System (ATS)—perangkat lunak SDM yang mengumpulkan dan menyortir lamaran kandidat. Sistem ATS modern dan platform SDM lainnya kini semakin banyak mengintegrasikan perangkat AI untuk melacak dan menyaring setiap CV yang masuk secara otomatis.
Namun, meskipun CV Anda lolos penyaringan awal oleh AI, pihak HR tetap akan meninjaunya secara manual. Gaya penulisan yang dihasilkan oleh AI bisa saja memberikan kesan yang kurang baik bagi perekrut manusia. Jadi, meskipun Anda boleh menyesuaikan resume agar lolos sistem AI, sangat disarankan untuk tetap mengutamakan pembaca manusia saat menyusunnya.
3.Anggap AI sebagai penyunting, bukan penulis
Mulailah dengan menyusun draf resume Anda sendiri, dengan menonjolkan poin-poin yang menurut Anda paling penting. Setelah itu, barulah gunakan AI untuk membantu penyuntingan. Dalam konteks ini, AI sebaiknya berperan sebagai editor yang menyempurnakan pilihan kata, memperbaiki struktur, serta menonjolkan pengalaman yang relevan dengan posisi pekerjaan tertentu. Jika tidak, hasil akhirnya mungkin justru berisi frasa klise atau gambaran yang tidak akurat mengenai keterampilan dan pengalaman Anda.
4.Periksa kembali resume sebelum mengirimkannya kepada perekrut
Periksa aspek privasi dalam CV Anda—hapus detail pribadi yang tidak perlu dan pastikan tidak ada informasi yang dilindungi oleh perjanjian kerahasiaan (NDA). Tingkatkan keterbacaan dokumen: pastikan penggunaan judul, penanggalan, dan urutan bagian sudah tepat, serta gunakan format file DOCX atau PDF tanpa grafis yang rumit. Perhatikan akurasi—tinjau setiap klaim yang dibuat dan pertimbangkan apakah Anda dapat mempertanggungjawabkannya saat wawancara, karena AI terkadang bisa melebih-lebihkan pernyataan tertentu.
“Alat bantu penulisan berbasis AI sangat berguna untuk menyusun dan memoles konten, namun kita harus ingat bahwa chatbot publik pada dasarnya adalah ‘penyerap data’. Memasukkan riwayat karier lengkap, detail kontak, atau pencapaian yang dilindungi oleh NDA ke dalam platform AI eksternal berarti menyerahkan kendali atas bagaimana informasi sensitif tersebut disimpan, diproses, atau bahkan berisiko terekspos dalam model pelatihan AI di masa depan. Sebaiknya perlakukan AI sebagai mitra diskusi untuk analisis—manfaatkan untuk membantu pengaturan format dan menemukan celah dalam struktur, sembari memastikan bahwa detil profesional Anda tetap autentik dan data pribadi Anda tetap tersimpan secara offline,” ujar Lama Saqquor, pakar keamanan dan privasi di Kaspersky, dalam keterangan resminya, Jumat (16/10/2026).














