ItWorks.id- Radio Republik Indonesia (RRI) terus memperkuat transformasi digital untuk menjawab perubahan pola konsumsi informasi masyarakat. Transformasi digital tersebut dilakukan, tidak sekadar menjadi upaya mengadopsi teknologi baru, tetapi juga bagian dari pengembangan layanan publik agar informasi dapat diakses kapan saja dan dari mana saja.
Strategi tersebut dijalankan melalui konvergensi media, pengembangan layanan digital multiplatform serta melalui optimalisasi layanan usaha berbasis kemitraan.
Hal tersebut disampaikan Asisten Teknisi Siaran Pemula Pembicara, Yatno dalam sesi presentasi dan wawancara penjurian TOP Digital Awards 2026 yang dilaksanakan secara daring, di Jakarta (20/10/2026). Hadir pula dalam Penjurian, Teknisi Siaran Ahli Madya Mugiamano, Teknisi Siaran Ahli Pertama Muhammad Dhiya Ulhaq, Teknisi Siaran Ahli Pertama Andrea Sekarningtyas dan Pranata Komputer Ahli Pertama Ali Syauqi.
Selain itu, Teknisi Siaran Ahli Pertama Achmad S Djunaedi, Asisten Teknisi Siaran Pemula Randy Ardianthio Phoa, Penata Kelola Sistem Teknologi Informasi Sarah Putri Tauladani, Teknisi Siaran Ahli Pertama Rismalalo, Pranata Siaran Ahli Pertama Irvan Deriano Koswara, serta Developer Aplikasi Ana Supriyatna.
Menurut Yatno kembali, salah satu wujud transformasi yang paling terlihat adalah pengembangan RRI Digital, yang sebelumnya dikenal sebagai RRI PlayGo, serta Portal Berita RRI.co.id. Kedua layanan ini menjadi saluran utama untuk mendistribusikan konten siaran dan informasi RRI melalui platform digital.
RRI Digital dan Portal Berita Sebagai Transformasi Perluas Akses Masyarakat
Melalui aplikasi RRI Digital, masyarakat dapat mendengarkan streaming berbagai kanal radio RRI. Aplikasi ini juga menyediakan fitur live chat yang memungkinkan pesan pengguna dibaca oleh penyiar ketika siaran berlangsung. Dengan demikian, layanan tidak hanya menghadirkan akses terhadap siaran, tetapi juga membuka ruang interaksi antara masyarakat dan penyiar.
Jumlah pengguna aplikasi RRI Digital dicatat telah melampaui 100 ribu. Adapun jumlah pemutaran konten di RRI Digital telah melampaui 300 ribu. Sementara itu, Portal RRI.co.id melengkapi layanan digital melalui penyajian berita nasional dan regional dari satuan kerja RRI di seluruh Indonesia. Portal ini menghadirkan streaming RRI NET serta fitur text-to-speech pada halaman berita untuk membantu aksesibilitas pembaca.
“Kehadiran dua platform tersebut memperluas pilihan masyarakat dalam dapat mengakses informasi. Konten RRI tidak lagi terbatas pada jangkauan pemancar radio, tetapi dinikmati melalui jaringan internet menggunakan perangkat digital,” kata Yatno.
Lakukan Integrasi Sistem Guna Percepat Proses Kerja Internal
Menurut Yatno kembali, transformasi RRI juga menyentuh proses kerja di dalam organisasi. Salah satu contohnya adalah penerapan API untuk sinkronisasi sistem pengelolaan konten atau Content Management System (CMS) dengan Portal Berita RRI dan aplikasi RRI Digital.
Integrasi tersebut membantu distribusi konten melalui sistem yang saling terhubung. RRI juga menerapkan Single Sign-On (SSO) untuk akses pegawai ke intranet, sehingga akses terhadap layanan terintegrasi dapat dikelola dengan lebih efisien.
Pada bidang pengelolaan infrastruktur, RRI menggunakan Te-Track sebagai rujukan data peralatan teknik atau single source of truth. Aplikasi ini dikembangkan pada 2024 dengan bantuan pengembang eksternal dan digunakan oleh seluruh satuan kerja.
Te-Track berfungsi untuk mendata dan memantau peralatan teknologi serta studio, termasuk perangkat transmisi, studio, TI, multimedia, dan sarana prasarana lainnya. Data tersebut menjadi acuan untuk mengetahui kondisi peralatan dan menentukan tindak lanjut yang diperlukan.“Sebelum sistem ini digunakan, pendataan aset secara manual membutuhkan waktu lebih dari tiga jam. Saat ini, pendataan melalui aplikasi dapat dilakukan dalam hitungan menit,” kata Yatno.
Perkuat Tata Kelola TI Melalui Roadmap dan Kebijakan Keamanan
Di balik pengembangan layanan digital untuk masyarakat, RRI juga memperkuat tata kelola teknologi informasi (TI) dan kebijakan keamanan untuk memastikan transformasi berjalan terarah, terukur, dan aman. Tanpa pengaturan akses, pengawasan, dan mekanisme penanganan risiko, perluasan layanan digital dapat menimbulkan persoalan keamanan maupun keandalan operasional.
Salah satu penguatan tata kelola TI adalah digunakannya Rencana Strategis LPP RRI 2025–2029, yang menjadi acuan pengembangan digital. Sementara itu pada penguatan kebijakan keamanan, RRI menerapkan Sistem Manajemen Keamanan Informasi (SMKI), SOP kontrol akses, SOP pemrosesan data pribadi, SOP pencadangan dan pemulihan data, serta pembentukan tim Computer Security Incident Response Team (CSIRT).
Dengan adanya penguatan tata kelola TI dan kebijakan keamanan, dicatat tingkat ketersediaan atau availability layanan utama meningkat menjadi sebesar 99,97% untuk tahun 2025 dan 2026. Angka tersebut menunjukkan adanya indikator keandalan dalam pemantauan layanan.
Transformasi Digital Hadirkan Efisiensi dan Penguatan PNBP
Transformasi digital yang dilaksanakan RRI mampu memberi dampak positif bagi lembaga penyiaran. Di samping pendataan aset menjadi lebih cepat, juga membuat integrasi distribusi konten, serta akses informasi melalui platform digital, mampu mengurangi pekerjaan manual dan mempercepat penyediaan informasi. Selain itu, mampu menghadirkan efisiensi. Hal ini karena digitalisasi dokumen melalui sistem paperless, terbukti mengurangi penggunaan dokumen fisik dan biaya alat tulis kantor.
Transformasi digital juga membuat hadirnya potensi penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Potensi ini hadir melalui adsense pada platform digital. Di mana ia dapat menghadirkan peluang pengembangan layanan untuk mendukung keberlanjutan operasional lembaga.
Transformasi Digital RRI yang Layak Jadi Percontohan
Salah sebuah lembaga penyiaran yang memiliki jumlah pegawai sekitar 5.000 orang pada 2025 dan 2026 dan memiliki jumlah pegawai TI atau digital tetap di Direktorat Teknologi dan Media Baru sebanyak 14 orang pada 2026, RRI berhasil menghadirkan transformasi digital yang dapat menjadi percontohan bagi lembaga penyiaran lain. Transformasi digital tersebut, adalah pengembangan layanan penyiaran terestrial menjadi layanan digital multiplatform melalui RRI Digital dan Portal RRI.co.id.
Layanan digital multiplatform tersebut layak menjadi percontohan, karena menggabungkan distribusi siaran radio dan konten audiovisual melalui website serta aplikasi mobile. Masyarakat memperoleh lebih banyak pilihan akses, sementara lembaga penyiaran dapat memperluas jangkauan layanan tanpa hanya mengandalkan pemancar terestrial.“Bagi RRI, ukuran terpenting transformasi digital terletak pada kemampuan memperluas akses informasi, meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya publik, menjaga keamanan dan keandalan layanan, serta mempertahankan relevansi media publik di tengah perubahan perilaku masyarakat,” pungkas Yatno.* (Penulis:Irawan J Nugroho).














