Jakarta, Itech- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) siap mendukung rencana pemerintah untuk meningkatkan kemampuan dan kemandirian industri gula nasional melalui integrasi sektor produksi seperti industri manufaktur dan pertanian dengan penyediaan suatu desain standar pabrik gula. Pasalnya, standarisasi atau desain standar pabrik gula yang berpihak pada potensi industri dalam negeri yang bertujuan agar Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) meningkat.
Demikian disampaikan Kepala BPPT Unggul Priyanto disela Dialog Nasional dan Peluncuran Buku Standar Desain Pabrik Gula Merah Putih yang merupakan hasil karya anak bangsa, di Gedung BPPT Jakarta, Selasa (20/3). Saat ini, kata dia untuk mencapai target kemandirian industri gula Nasional diperlukan aksi nyata dari para pemangku kepentingan industri gula tanah air, serta dukungan teknologi yang handal.
Masih menurut Unggul, pastinya untuk menuju swasembada gula nasional perlu dilakukan revitalisasi terhadap sejumlah Pabrik Gula eksisting, serta membangun beberapa pabrik gula baru untuk menanggulangi defisit kebutuhan gula nasional. “Hal ini tentu saja peningkatan produktivitas seiring dengan membaiknya kemampuan desain dan engineering tersebut tidak dapat dilakukan sendiri oleh BPPT,” tambahnya.
Disebutkan BPPT telah bekerja sama dengan PTPN XII dalam kaji terap Front-End Engineering Design (FEED) Pabrik Gula Modern, terintegrasi dan terpadu kapasitas 6.000 TCD (ton cane per day). FEED ini menjadi referensi teknis dari desain pembangunan pabrik gula Glenmore (PT. IGG), Banyuwangi, Jawa Timur yang pembangunannya telah melalui tahap testing & comissioning yang telah beroperasi di 2017.
Desain pabrik gula Glenmore ini pun dapat menjadi desain standar untuk pembangunan pabrik gula modern di Indonesia yang tinggi nilai TKDN. “Dari hasil perekayasaan yang telah dilaksanakan BPPT, diharapkan tahun 2019 potensi TKDN pabrik gula dapat ditingkatkan sampai 63,93 persen melalui penerapan standardisasi desain yang berbasis kemampuan industri Nasional,” ungkapnya.
Sementara itu, Direktur PT Industri Gula Glenmore Yus Martin mengatakan, pabrik gula Glenmore, khususnya PT. IGG yang sebelumnya menghasilkan kapasitas 6.000 ton cane per daya (TCD) akan ditingkatkan kapasitasnya menjadi 8.000 TCD. Sedangkan untuk pabrik sudah menghasilkan 90 ton per hari pupuk organik dan akan menuju bioethanol dengan kapasitas 90 kl per hari. isamping itu, PT IGG juga menghasilkan pakan ternak, kapasitas 75 ton per hari.
Sedangkan Direktur Pusat Teknologi Industri Permesinan BPPT, Barman Tambunan,hingga kini BPPT aktif dalam 11 kegiatan dari 22 program aksi, Program Revitalisasi Industri Gula Nasional (PRIGN). Satu kegiatan utamanya adalah Desain Konseptual PG Modern 10.000 ton cane per day (TCD).
Guna mengantisipasi kebutuhan gula nasional yang terus meningkat sejak tahun 2012, hingga menyebabkan impor produk gula, diurai Barman hal ini memerlukan usaha holistik baik dari sisi On Farm maupun Off Farm, untuk menuju swasembada gula nasional. Oleh sebab itu dirasakan perlu adanya penguasaan teknologi Industri gula mulai dari kliring teknologi, audit teknologi dan inovasi teknologi di Industri Gula Nasional yang mencakup teknologi proses, diversifikasi produk dan turunannya.
“Diharapkan melalui acara ini terjadi sinergi antar pemangku kepentingan, yang menghasilkan suatu rekomendasi kebijakan yang berpihak pada potensi dalam negeri untuk pencapaian swasembada gula dan kemandirian industri manufaktur nasional,” pungkasnya.
Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian, Kementerian Perindustrian Zakiyudin mengatakan pihaknya bersama kementerian terkait, termasuk dengan Menko Kemaritiman terus menggulirkan regulasi antara lain melalui Permenprin No. 10/2017 lebih mendorong kepada bagaimana investor mau menanamkan modal di pabrik gula, karena pabrik gula ini diperlukan modal cukup besar. (red/ju)














