Jakarta, Itech – Alphabet, perusahaan induk Google melaporkan pendapatannya senilai USD31,16 miliar atau sekitar Rp433,2 triliun pada kuartal pertama tahun ini yang berakhir 31 Maret, naik 26 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sebagai perbandingan, Alphabet mencetak pendapatan USD24,75 miliar atau sekitar Rp344,1 triliun pada kuartal pertama tahun lalu, naik 22 persen dari kuartal pertama 2016.
Pendapatan yang besar juga ikut mengerek keuntungan Alphabet. Keuntungan Alphabet senilai USD9,4 miliar atau sekitar Rp130,7 triliun pada kuartal pertama tahun ini, naik USD5,4 miliar atau sekitar Rp75 triliun dari kuartal pertama 2017.
Pemasukan Alphabet paling besar berasal dari anak perusahannya Google. Iklan merupakan kontribusi terbesar keuntungan Google. Total pendapatan Google dari iklan senilai USD26,6 miliar atau sekitar Rp369,8 triliun, berarti 85,3 persen pendapatan Google disokong dari iklan.
Sektor lainnya, perangkat keras dan layanan komputasi Alphabet menyumbangkan USD 4,3 miliar atau sekitar Rp 59,8 triliun, naik sebesar USD 3,2 miliar atau sekitar Rp 44,5 triliun dari tahun lalu.
Selain itu, Alphabet juga bersyukur dengan turunnya pajak perusahaan. Reformasi pajak yang digaungkan Trump membuat perusahaan itu hanya perlu membayar pajak 11 persen dari sebelumnya sebesar 20 persen.
Sementara itu Alphabet menghabiskan total belanja senilai USD10,7 miliar atau sekitar Rp148,8 triliun pada kuartal ini, naik 27 persen year-on-year. Alphabet mengungkapkan sebagai besar total belanja tersebut untuk keperluan riset dan pengembangan. Belum lagi, Google menambah ribuan pekerja baru beberapa bulan lalu.
Alphabet jadi perusahaan teknologi pertama yang mengumumkan laporan keuangannya sejak skandal Cambridge Analytica terungkap. Skandal itu ikut mempengaruhi nilai saham Facebook, Google dan Twitter.
Serupa dengan Facebook, Google dan Twitter juga mengumpulkan data pengguna untuk bisa menyediakan data bagi pengiklan agar bisa menarget pengguna lebih baik.














